Tampilkan postingan dengan label Domestic Trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Domestic Trip. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Agustus 2009

Prambanan: Proyek 1000 Candi




Minggu, 12 Juli 2009

Sebutan proyek 1000 candi sering kami gunakan untuk menyebut tugas dadakan yang sering diberikan dari pimpinan di kantor. Maklum tim kerja kami selalu menjadi harapan terakhir setiap ada hal yang tidak jelas, tidak tahu harus diapakan dan harus selesai segera.

Cerita 1000 candi pasti sudah didengar oleh orang Indonesia di seantero negeri. Adalah Bandung Bondowoso dan Loro Jonggrang yang menjadi tokoh utama dalam kisah itu.

Loro Jonggrang adalah putri Prabu Boko
-raja jahat yang mati dibunuh Bandung Bondowoso- yang memberi syarat kepada Bandung Bondowoso untuk membangun 1000 candi dalam satu malam jika ingin menikah dengan dirinya. Bandung Bondowoso lantas mengerahkan pasukan jin untuk membantunya.

Menjelang matahari terbit, Bandung Bondowoso nyaris berhasil menyelesaikan tugasnya. Khawatir akan keberhasilan Bandung, dan tidak ikhlas menikah dengan orang yang membunuh ayahnya, maka Loro Jonggrang meminta bantuan wanita di desa untuk memukul penumbuk padi. Tujuannya supaya ayam jago berkokok dan mengakhiri kepanikan itu dengan kekalahan Bandung.

999 jumlah candi yang berhasil dibuatnya. Mengetahui kecurangan Loro Jonggrang , Bandung pun murka dan mengutuknya menjadi arca candi ke seribu. Tak hanya itu, para wanita di desa itu juga dikutuk menjadi perawan tua.

Kisah itu yang menjadi legenda 1000 candi di kompleks Prambanan. Perjalanan dari Jogja ke Prambanan tidak memakan waktu lama. Sekitar 30 menit dari Prawirotaman melalui Ring Road Utara mengambil arah ke Solo.

Selain wisata kompleks Prambanan, jika anda ingin mengambil paket, loket menyediakan tur Prambanan - Candi Boko. Tidak terlalu mahal.

Ups, ternyata kamera dikenakan pungutan Rp 1.000 untuk kamera foto, dan Rp 3.000 untuk kamera video. Tapi harga itu tidak sebanding dengan keindahan purbakala yang bisa diabadikan untuk memuaskan hasrat narsis dan unggah foto di facebook.

Panas terik akan menemani perjalanan wisata anda di kompleks Prambanan. Kacamata hitam, topi lapangan dan sebotol air minum menjadi benda wajib para pelancong.

Suasana Prambanan saat kami tiba masih dalam proses rehabilitasi pasca gempa. Gempa yang sempat mengguncang Jogja beberapa waktu lalu itu juga sempat meluluhlantakkan beberapa bagian candi di kompleks Prambanan.

Beberapa rombongan wisatawan tampak sibuk mengabadikan kemegahan candi Whisnu. Ada sekelompok mahasiswa pariwisata yang sibuk menjelaskan kisah candi ini kepada turis asing. Anak kecil berlarian menghindari panas matahari. Orang lanjut usia berusaha meniti tangga demi tangga dibantu anak dan cucunya.

Sementara itu, di kejauhan petugas keamanan mengawasi lingkungan untuk menjamin kenyamanan kami semua. Dari atas anjungan foto tampak sekelompok orang menjajakan jasa foto kilat. Menjelang pintu keluar terlihat pedagang kaki lima menawarkan cinderamata.

Suasana yang harmonis, semua hidup berdampingan, saling membantu. Angin menyapa lembut, betapa damai dan indahnya Indonesiaku ini.

Kompleks Prambanan terdiri dari banyak candi. Disebut candi Prambanan karena lokasinya berada di daerah Prambanan. Wisata yang tidak mahal, menarik, penuh dengan pesan moral, peninggalan purbakala yang sangat berharga warisan nenek moyang bangsa.

Menuju Jogja dari Salatiga


Sabtu, 11 Juli 2009

Perjalanan "kereta tua" terasa agak melambat saat kami memasuki kawasan perbukitan di sekitar Salatiga. Rute Kopeng yang indah dan menantang itu terpaksa kami ikhlaskan dan kami pun memilih jalur konvensional melalui pertigaan Bawen menuju Magelang.Toh tidak ada yang bisa kami lihat di Kopeng karena gelap malam sudah turun menyelimuti langit Jawa.

Salatiga sebenarnya tidak ada di agenda perjalanan kami. Tapi, salah satu mantan bos saya ada yang mengisi usia pensiunnya di kawasan perbukitan di sana. "Kami membuka café dan menjual tanaman hias," ujarnya ramah saat menerima kedatangan kami. Rumah asri disulap menjadi café yang bersebelahan dengan kebun pembibitan tanaman hias. Kedatangan kami memang satu hal yang mereka tunggu di hari itu.

Suara muadzin terdengar sayup melantunkan baris terakhir adzan magrib. Di SPBU terdekat, mobil tua ini pun menepi. Dalam hening kami bersujud kepada Yang Maha Kuasa.

Malam itu kami merasakan dua hal yang kontradiktif. Pertama, semangat advonturir untuk menembus gelap kota-kota di Jawa Tengah, antara Salatiga dan Jogjakarta. Kedua, rasa lelah yang sudah mulai mengikis rasa keingintahuan kami.

Jalan berliku dan mendaki mengantar kami menuju Magelang. Tak terasa, kami sudah berada di antrian kendaraan yang mulai tampak menjelang pusat kota Magelang. Suasana di tengah kota pun terlihat ramai. Hiruk pikuk manusia memadati alun-alun menambah kesibukan beberapa Polantas mengatur jalan. Agak semerawut dan membingungkan, tapi semua orang terlihat senang.

Arah menuju Jogja menghilang. Kami pun kehilangan petunjuk. Jalan menyempit dan menjadi satu arah. "Lurus," kata hati saya meyakinkan diri.

Lumayan melegakan saat kami melihat papan penunjuk arah menuju candi Borobudur. "Kita berada di jalan yang benar," ujarku. Laju menuju Jogja.

Tak banyak yang bisa dilihat karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi tidak demikian dengan kondisi di jalan Malioboro, masih ramai. Jadi ingat lantunan lagu KLA Project..Ramai kaki lima, menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila...

Prawirotaman 2, kami disambut gapura keramik yang mencantumkan nama-nama penginapan di jalan itu. Ide yang bagus untuk penunjuk jalan di tempat wisata. Sebuah rumah tamu di jalan itu menjadi tempat kami menginap. Bagi yang belum tahu, sebagai gambaran suasana di Prawirotaman persis seperti kawasan jalan Jaksa di pusat kota Jakarta. Banyak turis backpacker yang memilih guest house di kawasan ini. Faktor harga dan ketenangan menjadi pilihan yang diunggulkan di lingkungan ini.

Waktu istirahat untuk kami dan kereta tua kami Lancer 1983.

Senin, 26 Mei 2008

LUKISAN PAGI DANAU TOBA



“Lake Toba from above” bagian pertama

...Fajar yang berkilau Datang membuka hari Sinarmu memberi harapan yang bersahaja Lihatlah warna pada cahaya Menjadi lukisan pagi...


”Lukisan Pagi”, lagu karya Tohpati yang dinyanyikan oleh Shakila yang populer menjelang akhir dekade 1990an, kembali terngiang saat melihat hamparan pemandangan Danau Toba dari bukit di Semenanjung Siuhan yang letaknya sekitar 15 menit perjalaan dari kota Parapat. Danau Toba di pagi itu sangat menakjubkan, bagaikan sebuah lukisan pagi yang sangat indah dan tak terlupakan.

Sinar matahari pagi hari itu menyeruak dari balik bukit, menembus kabut, dan pantulannya di atas permukaan air memancarkan cahaya bagaikan hamparan berlian yang sedang menari. Suara satwa liar seperti kawanan burung, kera, dan satwa lainnya sayup-sayup terdengar di kejauhan seolah mengajak orang yang berada di situ untuk keluar dari kamar dan bersama-sama menikmati keindahan alam Danau Toba. Udara pagi yang sejuk khas penggunungan menambah suasana tentram bagi setiap orang yang berada di tempat itu.

Di sisi kanan ”lukisan pagi” tersebut tampak Tanjung Unta yang merupakan salah satu daya tarik wisata alam di sekitar Parapat. Sebuah tanjung yang bentuknya menyerupai punggung unta. Sedangkan di sisi kiri tampak pulau Samosir sebuah pulau yang terdapat di tengah danau toba yang juga memiliki daya tarik wisata tersendiri.

Keindahan Danau Toba memang sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan wisatawan domestik dan manca negara. Danau ini merupakan yang terbesar di Asia. Terletak di ketinggian 906 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman rata-rata sekitar 300 meter, panjang 81 km, dan lebar 30 km.

Menuju lokasi ”Lukisan Pagi”
Banyak cara untuk bisa menikmati pemandangan alam tersebut. Ada dua alternatif jalur yang sering dipakai oleh kebanyakan orang. Melalui jalur Tebing Tinggi, jarak yang harus ditempuh dari Medan ke Parapat sekitar 176 km atau 3 sampai 4 jam perjalanan menggunakan mobil. Pemandangan alam di sepanjang jalur tersebut cukup indah, hamparan hutan karet, pinus, dan kebun kelapa sawit memberikan kesan tersendiri bagi mereka yang melaluinya.


Alternatif kedua adalah melalui jalur Brastagi. Jalur ini memang agak jauh dibandingkan dengan jalur Brastagi. Jarak yang harus ditempuh dari Medan ke Parapat melalui jalur ini adalah sekitar 219 km. Namun demikian, banyak objek wisata yang dapat disinggahi seperti kawasan Brastagi dan air terjun Sipiso-piso di wilayah Tongging. Brastagi terletak di kawasan pegunungan yang berhawa sejuk dengan ketinggian sekitar 1.300 meter dari permukaan laut. Lokasinya berada di antara dua gunung berapi aktif gunung Sibayak (2.172 meter) dan gunung Sinabung (2.417 meter). Wilayah yang subur ini memiliki pasar buah dan pemandian air panas yang menjadi daya tarik. Di beberapa lokasi di Brastagi, wisatawan dapat melihat satwa liar seperti kera dan babon yang berkeliaran bebas di pinggir jalan.
Sementara itu, air terjun Sipiso-piso terletak di daerah Tongging memiliki daya tarik wisata air terjun yang sangat indah. Airnya mengalir dari dinding jurang yang curam dan jatuh dari ketinggian sekitar 120 meter ke sungai yang mengalir langsung ke Danau Toba. Pemandangan ke pulau Tao Silalahi di bagian utara Danau Toba yang sangat indah dapat dinikmati dari lokasi ini.

Bagi wisatawan yang mendambakan ketenangan dan privasi dalam menikmati pemandangan alam Danau Toba dapat memilih Patra Parapat Lake Resort yang terletak di Jl. Pertamina Siuhan Parapat. Hotel berbintang dua ini menawarkan fasilitas pemandangan alam yang sangat luar biasa. Di sinilah wisatawan dapat menikmati keindahan ”Lukisan Pagi” Danau Toba dari bukit di Semenanjung Siuhan. Tidak salah jika GM Patra Parapat Zulkifli Lubis mengatakan bahwa ini tempat yang tepat untuk mencari ketenangan. Bagi para backpacker juga tidak perlu khawatir. Harga kamar yang ditawarkan cukup murah. Standard Garden View Rp. 210.000, Superior Lake View Rp. 300.000, Suite Lake View Rp. 950.000, jika mau tambah Extra bed per buah seharga Rp. 85.000.

Hotel bintang dua ini diresmikan pada tahun 1973 oleh Ibnu Sutowo Direktur Utama Pertamina saat itu dengan sebutan Wisma Internasional. Jika melihat lokasinya dan fasilitas yang ada, bisa dipastikan wisma internasional Pertamina ini adalah yang terbaik di masanya.