Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Agustus 2009

Prambanan: Proyek 1000 Candi




Minggu, 12 Juli 2009

Sebutan proyek 1000 candi sering kami gunakan untuk menyebut tugas dadakan yang sering diberikan dari pimpinan di kantor. Maklum tim kerja kami selalu menjadi harapan terakhir setiap ada hal yang tidak jelas, tidak tahu harus diapakan dan harus selesai segera.

Cerita 1000 candi pasti sudah didengar oleh orang Indonesia di seantero negeri. Adalah Bandung Bondowoso dan Loro Jonggrang yang menjadi tokoh utama dalam kisah itu.

Loro Jonggrang adalah putri Prabu Boko
-raja jahat yang mati dibunuh Bandung Bondowoso- yang memberi syarat kepada Bandung Bondowoso untuk membangun 1000 candi dalam satu malam jika ingin menikah dengan dirinya. Bandung Bondowoso lantas mengerahkan pasukan jin untuk membantunya.

Menjelang matahari terbit, Bandung Bondowoso nyaris berhasil menyelesaikan tugasnya. Khawatir akan keberhasilan Bandung, dan tidak ikhlas menikah dengan orang yang membunuh ayahnya, maka Loro Jonggrang meminta bantuan wanita di desa untuk memukul penumbuk padi. Tujuannya supaya ayam jago berkokok dan mengakhiri kepanikan itu dengan kekalahan Bandung.

999 jumlah candi yang berhasil dibuatnya. Mengetahui kecurangan Loro Jonggrang , Bandung pun murka dan mengutuknya menjadi arca candi ke seribu. Tak hanya itu, para wanita di desa itu juga dikutuk menjadi perawan tua.

Kisah itu yang menjadi legenda 1000 candi di kompleks Prambanan. Perjalanan dari Jogja ke Prambanan tidak memakan waktu lama. Sekitar 30 menit dari Prawirotaman melalui Ring Road Utara mengambil arah ke Solo.

Selain wisata kompleks Prambanan, jika anda ingin mengambil paket, loket menyediakan tur Prambanan - Candi Boko. Tidak terlalu mahal.

Ups, ternyata kamera dikenakan pungutan Rp 1.000 untuk kamera foto, dan Rp 3.000 untuk kamera video. Tapi harga itu tidak sebanding dengan keindahan purbakala yang bisa diabadikan untuk memuaskan hasrat narsis dan unggah foto di facebook.

Panas terik akan menemani perjalanan wisata anda di kompleks Prambanan. Kacamata hitam, topi lapangan dan sebotol air minum menjadi benda wajib para pelancong.

Suasana Prambanan saat kami tiba masih dalam proses rehabilitasi pasca gempa. Gempa yang sempat mengguncang Jogja beberapa waktu lalu itu juga sempat meluluhlantakkan beberapa bagian candi di kompleks Prambanan.

Beberapa rombongan wisatawan tampak sibuk mengabadikan kemegahan candi Whisnu. Ada sekelompok mahasiswa pariwisata yang sibuk menjelaskan kisah candi ini kepada turis asing. Anak kecil berlarian menghindari panas matahari. Orang lanjut usia berusaha meniti tangga demi tangga dibantu anak dan cucunya.

Sementara itu, di kejauhan petugas keamanan mengawasi lingkungan untuk menjamin kenyamanan kami semua. Dari atas anjungan foto tampak sekelompok orang menjajakan jasa foto kilat. Menjelang pintu keluar terlihat pedagang kaki lima menawarkan cinderamata.

Suasana yang harmonis, semua hidup berdampingan, saling membantu. Angin menyapa lembut, betapa damai dan indahnya Indonesiaku ini.

Kompleks Prambanan terdiri dari banyak candi. Disebut candi Prambanan karena lokasinya berada di daerah Prambanan. Wisata yang tidak mahal, menarik, penuh dengan pesan moral, peninggalan purbakala yang sangat berharga warisan nenek moyang bangsa.

Menuju Jogja dari Salatiga


Sabtu, 11 Juli 2009

Perjalanan "kereta tua" terasa agak melambat saat kami memasuki kawasan perbukitan di sekitar Salatiga. Rute Kopeng yang indah dan menantang itu terpaksa kami ikhlaskan dan kami pun memilih jalur konvensional melalui pertigaan Bawen menuju Magelang.Toh tidak ada yang bisa kami lihat di Kopeng karena gelap malam sudah turun menyelimuti langit Jawa.

Salatiga sebenarnya tidak ada di agenda perjalanan kami. Tapi, salah satu mantan bos saya ada yang mengisi usia pensiunnya di kawasan perbukitan di sana. "Kami membuka café dan menjual tanaman hias," ujarnya ramah saat menerima kedatangan kami. Rumah asri disulap menjadi café yang bersebelahan dengan kebun pembibitan tanaman hias. Kedatangan kami memang satu hal yang mereka tunggu di hari itu.

Suara muadzin terdengar sayup melantunkan baris terakhir adzan magrib. Di SPBU terdekat, mobil tua ini pun menepi. Dalam hening kami bersujud kepada Yang Maha Kuasa.

Malam itu kami merasakan dua hal yang kontradiktif. Pertama, semangat advonturir untuk menembus gelap kota-kota di Jawa Tengah, antara Salatiga dan Jogjakarta. Kedua, rasa lelah yang sudah mulai mengikis rasa keingintahuan kami.

Jalan berliku dan mendaki mengantar kami menuju Magelang. Tak terasa, kami sudah berada di antrian kendaraan yang mulai tampak menjelang pusat kota Magelang. Suasana di tengah kota pun terlihat ramai. Hiruk pikuk manusia memadati alun-alun menambah kesibukan beberapa Polantas mengatur jalan. Agak semerawut dan membingungkan, tapi semua orang terlihat senang.

Arah menuju Jogja menghilang. Kami pun kehilangan petunjuk. Jalan menyempit dan menjadi satu arah. "Lurus," kata hati saya meyakinkan diri.

Lumayan melegakan saat kami melihat papan penunjuk arah menuju candi Borobudur. "Kita berada di jalan yang benar," ujarku. Laju menuju Jogja.

Tak banyak yang bisa dilihat karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi tidak demikian dengan kondisi di jalan Malioboro, masih ramai. Jadi ingat lantunan lagu KLA Project..Ramai kaki lima, menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila...

Prawirotaman 2, kami disambut gapura keramik yang mencantumkan nama-nama penginapan di jalan itu. Ide yang bagus untuk penunjuk jalan di tempat wisata. Sebuah rumah tamu di jalan itu menjadi tempat kami menginap. Bagi yang belum tahu, sebagai gambaran suasana di Prawirotaman persis seperti kawasan jalan Jaksa di pusat kota Jakarta. Banyak turis backpacker yang memilih guest house di kawasan ini. Faktor harga dan ketenangan menjadi pilihan yang diunggulkan di lingkungan ini.

Waktu istirahat untuk kami dan kereta tua kami Lancer 1983.

Sabtu, 18 Juli 2009

Freedom: Destination is Nothing, Journey is Everything

"Ya Allah janganlah Kau turunkan hujan dan selamatkan kami dari semua mara bahaya", doaku sesaat sebelum menyalakan sepeda motor dan berangkat menembus udara malam menuju Anyer.

Touring ke luar kota menggunakan sepeda motor bukanlah hal yang baru bagi para bikers terutama di saat liburan atau akhir pekan. Sayup terdengar Redemption Song Bob Marley dari salah satu scooter peserta mempertegas nuansa kebebasan di kalangan bikers.

Kalender akhir pekan pertama April 2007 menarik perhatian para bikers untuk melakukan touring tentu karena ada tanggal merah di situ. Kali ini PMC didukung oleh Pelumas Pertamina menggelar touring Enduro 4T Racing Anyer Tour 2007. Pesertanya tidak tanggung-tanggung, mencapai lebih dari 100 motor. Touring dilepas oleh Manajer Retail Marketing Pelumas Hasto Wibowo dari kantor pelumas di Simpruk, Jakarta.

Jalan malam bagi kelompok bikers dengan jumlah sedikit memang mengasyikan karena cuaca tidak panas dan relatif lancar. Situasi menjadi menegangkan bila jumlah motor lebih dari 30 buah apalagi mencapai lebih dari 100 sepeda motor. Tingkat risiko sangat tinggi. Aba-aba road captain tidak terlihat, banyaknya lobang di jalan dan yang paling penting kita harus pandai menjaga jarak dengan motor didepannya. Kondisi ini bertambah kesulitannya bila rasa kantuk menyerang. Sering terjadi jarak antar motor terlalu dekat sehingga berisiko terjadi tabrakan beruntun dan motor dapat saling berjatuhan. Untuk menyikapi hal ini, keandalan pengendara dan ketangguhan sepeda motor menjadi faktor utama yang harus diperhatikan.

Untuk sepeda motor, terutama mesinnya, para bikers peserta touring menggunakan pelumas Enduro 4T Racing. Otomatis keandalannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Anto, salah satu peserta, mengatakan bahwa dalam turing ini Enduro 4T Racing bagus. ”Tidak slip kopling, respon enak dan cepat, bahan bakar irit, tidak ada kendala di mesin, dan untuk mesing suaranya halus,” ujarnya. Ia mengakui bahwa dirinya memang mengharapkan Pertamina memproduksi oli dengan SAE 10W 40 karena ia biasanya pakai Prima XP atau Fastron. ”Kalau sekarang ada Enduro 4T 10W 40 saya akan pakai,” tegasnya mantap.

Dari beberapa kelompok motorist yang bergabung dengan rombongan PMC (Pertamina Motor Club) tampak sebuah 'gang' yang menamakan SOC (scooter owner club) atau lebih dikenal dengan sebutan Vespa Balaraja.

Kelompok ini mendesain Vespanya dengan beraneka bentuk ada yang memiliki side car berwarna loreng, Vespa dengan panjang mencapai lebih dari 2 meter, tidak dicat sehingga tampak sangat 'ugly'. Tidak pernah terbayang bahwa ada festival motor terjelek tiap tahunnya. Unik, sebuah motor yg dilengkapi dengan tape bak motor Harley tipe Road King. sesuai dengan bentuk motornya lagu2 "Song of Freedom" dari Bob Marley terdengar nyaring dari Vespa butut.

"Mas mohon maaf saya terpaksa mohon pamit karena akan menuju Palembang siang ini", demikian pamit pak Unang kepada kami. "Palembang ???? naik motor ini???", decak kagum penulis. Bagi kelompok ini memang penganut "destination is nothing, journey is everything".

Kota Lama Terlupakan
Perjalanan pulang tidak kalah serunya dibandingkan dengan perjalanan waktu berangkat menuju Anyer. Perjalanan kali ini meninggalkan banyak kesan bagi kami. Sejak dimulainya penggunaan jalan tol Jakarta Merak maka banyak kota yang tidak pernah kita singgahi bila kita akan bersantai di pantai Carita. Kota-kota tersebut pada jaman dulu terkenal karena macetnya. Simpul kemacetan terbentuk karena jalan ramai melewati pasar tumpah, terminal angkutan umum dan kadang juga stasiun kereta api. Kondisi jalan diperparah dengan lalu lalangnya truk besar dan container pengangkut barang.

Tigaraksa, Cikupa, dan Balaraja adalah kota-kota setelah kota Tangerang yang sarat dengan kemacetan. Aroma busuk dari pasar tradisional, debu beterbangan dan kemacetan mewarnai perjalanan di siang hari. Pada malam hari, suasana tidak begitu terasa hanya 'wangian' pasar tradisional masih tercium.

Kota- kota ini seakan manjadi kota tua yang terlupakan karena kita hanya kita baca pada papan petunjuk jalan berlatar belakang hijau di jalan tol. Namun bila kita mengendarai motor maka kita seakan kembali 'menemukan' kota terlupakan tersebut.

Anyer - Labuan
Warna biru laut, ombak putih, nyiur melambai yang memecah dipantai membuat perjalanan semakin indah menyenangkan. terlebih bila kita riding di pagi atau sore hari. Cahaya lembayung sore hari, udara pantai yang bersih yang melenakan. Pemandangan pantai memang tidak pernah membosankan.

Berbagai bentuk hotel dan villa mulai dari nuansa Bali, mediteranian, hingga bertemakan tradisional menghiasi kiri kanan jalan menuju Carita. Jalan sepi, mulus dan cukup lebar menambah kenyamanan bermotor ria sepanjang jalur ini.

Trayek Anyer Labuan memang merupakan rute yang paling favorit bagi para bikers. Alam ciptaan Illahi ini nampak tenang dan damai. Aroma laut yang kaya akan garam seakan membelai pori-pori tubuh. Biarkan helm kita terbuka agar wajah kita juga dibelai udara laut. Udara jernih lebih terasa melonggarkan pernafasan bila kita nikmati diatas sadel motor. Memang tidak salah ungkapan para bikers: "Suasana tampak indah dan berbeda bila dinikmati di atas sadel motor".

Labuan - Rangkas
Pemandangan pantai yang indah berubah menjadi alam dataran rendah perbukitan yang didominasi oleh kehadiran sawah menguning setelah melewati kota Labuan menuju Rangkasbitung. Trayek ini cukup bagus untuk dilewati karena jalan cukup lebar, berbukit, berkelok dan tidak terlalu ramai. sangat berbeda situasinya dibandingkan trayek Tangerang - Serang yang berdebu.

Walaupun jalur ini boleh dibilang mulus namun lagi-lagi harus waspada karena lobang jalanan kadang menjebak bagi para motorist. Labuan Rangkasbitung berjarak kurang lebih 58 Km. Bagi rombongan besar maka kecepatan disarankan tidak lebih dari 60 km/jam.

Rangkasbitung - Bogor
Perjalanan dari Anyer kembali ke Jakarta dimulai pukul 13.30 dengan memilih jalur tengah yaitu Carita, Labuan, Rangkasbitung, Bogor dan kembali ke Jakarta via Parung. Lepas kota Rangkasbitung sekitar pukul 5.00 sore hari. Mendung menggantung tetap membayangi perjalanan kali ini.

Jalanan tampak sepi dan mulai memasuki perkebunan kelapa sawit. Hanya rombongan PMC saja yang melewati wilayah pegunungan ini. Hujan gerimis masih turun sehingga membatasi jarak pandang. Jalan yang tampak mulus namun selalu menyediakan lobang dalam bagi yang tdk waspada.

Langit berwarna lembayung mulai menjadi lebih gelap dan gelap. Tampak bayangan pegunungan sekilas tersinari sisa cahaya mentari. Suasana tampak hening dan sedikit mencekam.

"Jalanan baru saja selesai diaspal, warnanya merah", demikian komentar Boim menceritakan pengalamannya. ini hanyalah sebuah joke karena sisa tanah merah melapisi aspal. Tanah merah ditambah hujan membuat perjalanan sangat berbahaya. "Ya Allah janganlah Kau turunkan hujan dan selamatkan kami dari semua mara bahaya", doaku. Bagi penulis kondisi ini bak jalan di lantai licin yang bersabun, sangat berbahaya. Motor sportster yang mempunyai berat hampir 200 kg terasa tidak stabil dan beberapa kali bergeser ketika melintasi tanah becek. kondisi ini diperparah kondisi rem belakang yang tidak berfungsi sejak lepas kota Labuan. bahkan sempat terseret ketika rem disc bagian belakang terlepas dari posisinya dan terseret di jalanan.

Sekilas masih terbaca jarak tempuh melalui patok di pinggir jalan 98 km lagi menuju Bogor. Patok demi patok kadang terbaca 74, 71, 60 km dan akhirnya patok-patok tersebut tidak terbaca lagi karena gelap menyelimuti perjalanan.

Di tengah hutan tersebut terlihat cahaya lampu kuning yang bearti lampu sebuah kota. penulis berharap inilah kota Jasinga tempat rombongan akan beristirahat. Ternyata setelah dekat lampu kuning hanya beberapa buah dan perjalanan baru mencapai kota kecil Cipanas. Setelah itu kembali memasuki wilayah hutan gelap lagi. Menjelang waktu Isya kembali terlihat cahaya kuning dari balik hutan. dan ternyata benar rombongan telah memasuki kota Jasinga. sebuah kota kecil di barat Bogor. Dari patok arah pinggir jalan, jarak menuju kota Bogor 43 km. walaupun sedikit mencekam, rombongan PMC beberapa kali berpapasan dengan kelompok motor yg akan menuju Rangkasbitung.

Perjalanan sangat berkesan. Sekali lagi "destination is nothing, journey is everything".

(adp_Petualangan)

Cianten-Halimun Quest: Menembus Batas

Dung, drundung-dung…dung,…… drundung-dung-dung- dung…..
Liburan Idul Fitri yang panjang telah memanggil para bikers untuk memulai menjelajah. Tak disangka rencana perjalanan ini menorehkan pengalaman tak terlupakan. Track batu bak pisau teranyam, dibawah guyuran hujan lebat dan dingin pegunungan menambah kesan mendalam.


Pemilihan Route
Pagi itu cerah, sinar mentari menembus celah rindang pepohonan, udara sejuk dan bisik daun yang bergesekan menambah hangat nuansa di Jalan Raya Parung.

Perbincangan pukul 9 pagi di sebuah warung kelapa muda Parung. “Gimana bro, setuju gak kita ke Pelabuhan Ratu via Leuwiliang, di peta ada route ini dan kelihatannya lebih pendek dari jalan biasa?” tanya Adim kepada teman-teman.

“Kelihatannya sih OK,” jawab Johansyah sambil melihat peta pada pocket pc. Johansyah mengatakan bahwa hobinya adalah menjelajah wilayah-wilayah baru di sekitar pantai selatan Jawa Barat. “Makanya saya pilih menggunakan motor trail dan beberapa track di peta sudah pernah saya jalani, ” ungkapnya meyakinkan.

Peta mudik yang digunakan cukup jelas menggambarkan adanya sebuah jalur dari Leuwiliang menuju Pelabuhan Ratu dengan melewati sebuah desa bernama Cianten. Kontur ketinggian tidak begitu jelas tergambar, namun didapat petunjuk bahwa nanti akan melewati pinggang Gunung Salak di sebelah kiri. Jalan berwarna merah sangat jelas, dan tampaknya bisa dilalui dalam waktu kurang dari 2 jam perjalanan.

Ternyata, pembacaan peta tanpa jelas memeriksa kontur ketinggian inilah yang merupakan kesalahan pertama yang membawa pengalaman tak terlupakan.

Perjalanan dimulai dari Parung menuju Leuwiliang dengan melewati beberapa simpul-simpul kemacetan. Perjalanan ini diikuti oleh enam orang anggota PMC dengan jenis motor yang berbeda-beda, mulai dari RX King, Ninja, bebek Mochin, Thunder, trail dan Harley Davidson Sportster. Enam sepeda motor itupun menderu, melaju dan membelah lalu lintas Bogor Barat yang penuh dengan angkot (angkutan kota).

Tanjakan Maut
Pasar Leuwiliang sudah terlampaui. Rombongan pun berbelok ke kiri ke arah desa Cianten. Jalan yang dilalui tidak seramai dan sepadat lintas Bogor-Darmaga-Leuwiliang karena memang jalan ini adalah jalan desa. Kondisinya cukup lumayan walaupun banyak polisi tidur yang melintang di sepanjang jalan. Jalan mulai menanjak namun masih bisa dilalui dengan mudah. Pemandangannya pun indah, selain rumah penduduk di sisi kiri dan kanan jalan, dikejauhan tampak ladang dan sawah yang menyejukkan mata.

Rombongan memasuki kondisi jalan yang kurang baik. Gejala alam pertama sudah terasa ketika per untuk standar Sportster terlepas karena mesin mentok di jalan kasar. ”Mbak, ke Pelabuhan Ratu masih jauh?” tanya rekan-rekan PMC kepada seorang warga, ketika duduk sambil memperbaiki per. Jawaban dari penduduk setempat tidak pernah sama dan selalu mengatakan sudah dekat. Sebuah jawaban yang sangat relatif.

Kesalahan memperkirakan jarak yang akan ditempuh adalah kesalahan kedua setelah salah memprediksi ketinggian via kontur peta.

Mendekati desa Pasiripis, jalan menanjak, berbatu, berliku semakin ketat. Kondisi jalan semakin tidak bersahabat. Dengan wajah sedih terpaksa, tampaknya Sportster harus diangkut dengan mobil. Maka rombongan pun berhenti di sebuah pondok tempat penjual kayu. Mereka memiliki tiga buah mobil colt pick up yang sudah tampak tua namun masih bertenaga. Saat tawar-menawar, harga pun disetujui. Namun mereka hanya menyanggupi sampai Garehong. ”Garehong? Nama daerah apa itu?” kata kami bertanya-tanya.

“Garehong itu akhir dari jalan menanjak selepas Cianten, pak,” ujar sang sopir. Ia menjelaskan, dari sana kami tinggal turun saja karena kontur jalannya sudah tidak menanjak lagi.

”Tapi kami tidak berani mengantar hingga desa Cipeuteuy karena kami sulit untuk kembali ke sini. Mobil kami tidak bisa naik ke sini,” ujarnya. lagi. Sportster pun dinaikkan ke Colt karena sangat tidak memungkinkan dikendarai.

Hawa pegunungan terasa nyaman walaupun mulai diiringi dengan hujan rinai. Hutan hujan tropis mulai terasa rapat mewarnai perjalanan menuju puncak. Perkebunan PTP VIII kebun Cianten menyambut kehadiran para penjelajah dengan jalan becek dan cuaca basah.

Pertigaan jalan setelah melewati perumahan Cianten merupakan sebuah ’point of no return’ . Tanjakan lebih dari 50° jalan berbatu dan diawali hujan deras mengiringi perjalanan anggota PMC. Batu-batu terjal yang disusun untuk menembus hutan tersebut terasa bak pisau tajam yang siap mengiris ban sepeda motor.

Penduduk setempat menyarankan untuk kembali atau jika harus melalui Gunung Halimun, maka agar berhati-hati karena kondisi jalanan yang tidak memadai. ”Di atas jalannya parah, pak, kalau motor dua tak agak repot,” ujar salah seorang tukang ojek di sana. Sebenarnya ada jalan alternatif yang disebut warga sekitar sebagai jalan proyek. Jalan tersebut merupakan jalur proyek panas bumi Unocal yang beroperasi di daerah tersebut. ”Tapi biasanya untuk melintas di jalan itu agak sulit masalah perijinannya, pak,” ujar salah seorang warga.

Tiba di Garehong. Daerah yang tadi menjadi momok bagi supir Colt. Mobil Colt yang disewa untuk mengangkat Sportster kesulitan untuk mendaki, terpaksa motor seberat lebih dari 200 kg diturunkan dan diaktifkan mesinnya. Namun sayang, motor kesulitan untuk hidup. Terpaksa motor didorong untuk mendaki dan menuruni gunung. Ditengah hutan belantara tersebut terasa sangat haus walaupun cuaca hujan deras. Untung masih ada pohon pisang-pisangan untuk menampung air dan langsung diteguk.

Jalur ke arah Gunung Halimun pun dipilih, karena tidak ada pilihan lain. Maka berjatuhanlah para bikers tersebut. Motor trail itu pun roboh. Rekan PMC lain pun berlarian membantu Johan mengangkat motornya. Giliran berikutnya, tampak Arya membekap erat motor RX King-nya bagaikan memeluk guling. Motor tersebut terpeleset jatuh dan menindih pengemudinya. Thunder Bro saya pun tak luput dari batu yang licin dan akhirnya harus pasrah dan rebah. Sportster Adim juga tak kalah parahya, engine guard patah karena menabrak bukit di kanan jalan. Bahkan untuk sekedar meluncur dari ketinggian bukitpun nyaris tidak bisa karena jarak antara mesin dengan bebatuan begitu tipis. Hujan deras menambah semakin sulit mengendarai motor secara biasa. Jalanan yang rusak parah tersebut telah berubah menjadi anak sungai sehingga sulit memilih track yang akan dilalui.

Kesalahan ketiga adalah gagal memprediksi jalan yang akan dilalui. Sebuah motor dengan penumpang sebuah keluarga, ayah-ibu-anak dan ditambah dengan membawa kotak penuh dengan belanjaan tampak asik meliuk-liuk mendaki gunung dengan tersenyum. “Mosok saya ‘gak bisa seperti mereka, cc (baca : se-se - Red.) motor saya ‘kan lebih besar,” demikian pikiran para bikers. Melihat perjalanan mereka, mendorong para pengendara untuk segera melewati track tersebut. Semangat petualang itu terus menyala karena melihat beberapa tukang ojek melintas dengan mudahnya ditambah beban bawaan beberapa dus mi instan dan beberapa karung sayuran. Tekad pun bulat, perjalanan dilanjutkan.

Journey is Everything…..
Dengan susah payah, akhirnya desa Cipeuteuy dapat dicapai walaupun dengan pengorbanan luar biasa. Sebuah warung dengan aneka gorengan, mie rebus plus teh manis panas menyambut akhir perjuangan. Mie rebus pada pukul 5 sore terasa begitu nikmat sebagai makan siang yang terlewat. Hujan masih mengguyur desa sementara itu matahari senja semakin dekat ke peraduannya.

Kesepakatan para bikers akhirnya menentukan kota selanjutnya adalah Parung Kuda sebagai tempat makan malam. Ternyata desa Cikidang masih jauh untuk dicapai dari desa Cipeuteuy, tidak kurang dari 2 jam untuk mencapainya dalam kondisi jalan yang lumayan baik. Jalan itupun ditempuh dalam kegelapan malam dan guyuran hujan. Akhirnya, Pelabuhan Ratu masih tetap dalam tujuan walaupun tidak dicapai saat itu…..

Di kepala kami terngiang-ngiang semboyan bikers: destination is nothing, journey is everything…….. Tujuan dari sebuah perjalanan adalah perjalanan itu sendiri…

(adp_Petualangan)

Pertamina Motor Club: Enduro 4T Ciwidey Tour 2006

Gelap malam menyelimuti Jakarta, Bogor dan sekitarnya. Guyuran hujan deras,
angin kencang, petir menyambar, banjir menggenang, pohon tumbang menjadikan malam itu semakin mencekam.

Suasana itu jelas dihadapi oleh para peserta pada Jum’at malam (17/2). Pada malam itu, seluruh peserta diharuskan untuk berkumpul di Simpruk guna melakukan registrasi untuk kegiatan esok hari.

Semangat untuk berangkat nyaris pupus disaat merasakan terpaan hujan malam itu. Namun, dengan tekad bulat, sejumlah peserta memberanikan diri untuk mengambil risiko malam itu. Mereka pun berkumpul, dan mempersiapkan segala sesuatunya di Simpruk.

Acara besar yang direncanakan secara matang adalah Enduro 4T Ciwidey Tour yang diselenggarakan oleh Pertamina Motor Club (PMC) dan didukung oleh pihak sponsor yakni Enduro 4T, Pertamax dan Elpiji.

Touring kali ini sangat istimewa. Selain dari pihak sponsor yang juga ikut berkendara dengan para bikers, touring Ciwidey ini merupakan touring besar pertama yang diselenggarakan PMC. Dari jumlah peserta tidak main-main. Sekitar lebih dari seratus orang ikut di dalam rombongan dan mayoritas adalah anggota PMC. Sisanya adalah para undangan seperti RTC, FXR Club, dan BNI 46 BC, dan undangan lainnya.

Pagi tiba. Adzan Subuh pun membangunkan peserta. Segera setelah mempersiapkan diri, pada pukul 05.00 WIB peserta dilepas keberangkatannya oleh Direktur Keuangan Alfred Rohimone Pembina PMC. Direktur Keuangan berpesan bahwa kegiatan ini merupakan refleksi kebersamaan antara Pertamina, anak perusahaan, dan rekanan. Ia berharap agar masing-masing pengendara menjaga citra positif pribadi dan perusahaan. Itu harus dijaga.

Senada dengan Pembina, Ketua Umum PMC Giri Santoso juga menekankan agar anggotanya dapat berkendara dengan sopan dan aman.

Dari Simpruk, peserta langsung menuju pos 1 di sebuah SPBU di kawasan Tajur. Setelah tiba, peserta dijemput oleh dua orang petugas dari Polantas yang bertugas di kawasan Bogor-Puncak dan dikawal menuju pos 2 di Ciherang.

Sepanjang perjalanan melintas puncak, peserta berbaris rapi dalam formasi dua-dua. Di kesempatan ini juga peserta yang mengenakan rompi Enduro 4T serta membawa bendera melaksanakan kegiatan shooting video promosi untuk Enduro 4T.

Sesampainya di Ciherang, peserta kembali beristirahat dan mengisi bahan bakar. Sebuah kejutan istimewa bagi para bikers bahwa Pembina PMC Alfred Rohimone, didampingi istri, mengendarai sendiri mobilnya dan masih berada di dalam rombongan. Kehadirannya menjadi salah satu penambah semangat para bikers dalam perjalanan touring kali ini.

Perjalanan kembali dilanjutkan menuju pos 3 yang terletak di Rajamandala. Di sini kembali rombongan beristirahat dan mengisi BBM. Setelah itu, rombongan langsung melesat ke Rumah Makan Sindang Reret untuk makan siang.

Perjalanan cukup melelahkan. Namun setelah beristirahat sejenak dan makan siang, stamina para bikers kembali pulih apalagi didorong semangat untuk melihat Kawah Putih, tempat wisata yang terletak di daerah Ciwidey. Indra, salah seorang peserta berbisik, ”mas kalau mau masuk Kawah Putih jangan terlalu sore.”Kata orang setempat, di sana masih banyak binatang buas berkeliaran. Bahaya.”

Gerimis pun mengantarkan perjalanan rombongan PMC menuju Kawah Putih. Jalan menuju ke sana dapat dikatakan memiliki tingkat kesulitan yang cukup lumayan. Selain kondisi jalan yang berlubang, tanjakan yang terjal, tikungan tajam dan ruas jalan yang sempit menjadi faktor ujian bagi keandalan sepeda motor para bikers.

Bikers Enduro 4T ini ingin membuktikan ketangguhan kinerja pelumas yang mereka gunakan. Kebanyakan peserta yang menggunakan Enduro 4T kagum dengan kinerja pelumas produksi Pertamina ini. Karena jelas Enduro 4T ini sudah teruji 48 jam non stop dan 15.000 km jelajah negeri.

Di dalam hati teringat sebuah semboyan saat melintas di Batujajar tepat di depan gerbang pusat pendidikan pasukan khusus, “kalau anda ragu kembali sekarang
juga”.

Tekad kami tetap bulat. Tidak boleh ada keraguan sedikitpun di benak pa≠ra bikers. Apalagi tekad para bikers sudah bulat dan didukung dengan kepercayaan terhadap pelumas yang andal.

Tanpa ragu saat memasuki kawasan wisata Kawah Putih, bikers Enduro 4T langsung tancap gas ke atas. Kondisi jalan yang dilalui lumayan berat. Untuk sepeda motor yang menggunakan Pertamax, rintangan ini sih ringan saja. Karena akselerasi motor mereka pasti jadi oke punya.

Jeritan mesin sepeda motor pun sontak terdengar. Beberapa bikers yang menggunakan mesin 2 tak mengalami kesulitan saat menanjak. Memang begitulah karakter mesin ini. Bagi kendaraan 2 tak, jalan terjal menanjak tidak bisa dianggap sepele. Perlu jarak yang lumayan jauh antar pengendara supaya bisa bermanuver bebas dan grip gas dapat dimainkan maksimal. Karakter ini memang berbeda dengan mesin 4 tak yang memang kuat untuk jalan menanjak.

Rintangan berat itu pun berhasil dilalui dengan selamat. Alhamdulillah, ucap para bikers saat menginjakkan kaki di pelataran parkir kawasan Kawah Putih.

Awan sedikit mendung, kabut sudah mulai turun. Rombongan pun tak sabar untuk segera menuju Kawah Putih untuk mengabadikan diri berfoto dengan latar belakang keindahan alam.

Denting senar kecapi mengucapkan selamat datang kepada para bikers. Terampil jemari pria paruh baya memainkan nada-nada khas Jawa Barat. Senyumnya menyampaikan sambutan hangat, khas Indonesia.

Luar biasa. Menakjubkan. Itu kata yang terbersit dari mulut para bikers saat melihat keindahan alam Kawah Putih. Pertamina Motor Club mengibarkan benderanya di sana.

Para pengendara mengakui ketangguhan produk Pertamina. “Olinya kuat untuk panas dan dingin,” celetuk salah satu peserta di sela-sela perjalanan setelah melalui sejumlah rintangan yang cukup lumayan tadi.

Pada malam harinya, para undangan dan wakil peserta melakukan kegiatan ramah tamah untuk mempererat brotherhood. Acara puncaknya adalah penyematan pin touring oleh Sekjen PMC Adiatma Sardjito kepada para undangan. Peserta menikmati hidangan makan malam yang dimasak menggunakan bahan bakar gas ramah lingkungan Elpiji.


TIPS
Bagi para bikers yang doyan touring, ini ada tips seputar pelumas:
• Untuk kondisi di Indonesia, bikers tentunya membutuhkan pelumas yang telah teruji dan sesuai dengan karakteristik alam Indonesia. Makanya disarankan untuk mencari pelumas yang memiliki kekentalan yang sangat stabil pada temperatur rendah dan tinggi.
• Selain itu, oli juga berpengaruh terhadap kinerja kopling. Jangan sampai lagi enak mengendarai sepeda motor kesayangan waktu touring tiba-tiba koplingnya slip. Ini yang paling nyebelin. Makanya, oli yang diperlukan bikers harus menjamin anti slip kopling.
• Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bikers butuh pelumas yang tidak mudah teroksidasi dan terdegradasi oleh radiasi panas mesin.
• Lebih jauh lagi, bro semua perlu pelumas yangf mampu menjaga kebersihan mesin dari korosi dan keausan dan mampu meningkatkan akselerasi prima. Jadi besutan bro semua bisa meluncur halus dan semua komponen motor utamanya kopling dan rangkaian gear transmisi jauh lebih awet dan tahan lama.
Selamat mencoba.

(adp_Petualangan_Diterbitkan 2006)

Selasa, 22 Juli 2008

ENDURO 4T TOURING: TERUJI

Siapa yang tidak mengenal kondisi jalan di Subang menuju Tangkuban Perahu. Seorang teman mengatakan bahwa, “di situ tempatnya mobil ngeden alias enggak kuat menanjak. Apalagi motor. Hati-hati aja, bro.” Diakui, perjalanan itu menguras tenaga dan konsentrasi. Pasalnya, jalan yang menanjak itu sangat tinggi dan panjang. Apalagi peserta touring Enduro 4T Tangkuban Perahu Tour 2006 harus berjalan dalam formasi dan kecepatannya tidak lebih dari 60 km per jam. Ini memang rute yang cocok untuk menguji keandalan mesin. Dan di sini Enduro 4T diuji oleh seluruh anggota PMC. Dalam kondisi jalan seperti itu, mesin sepeda motor tetap stabil. Dan yang paling utama, kami semua terbebas dari slip kopling. Padahal untuk beberapa jenis sepeda motor, kondisi jalan seperti ini rawan terjadi slip kopling.

Rombongan pun tiba di depan gerbang Tangkuban Perahu. Sejenak teringat ucapan seorang kawan, “waktu saya bawa motor ke atas, jalannya menanjak, tinggi, dan panjang. Motor rasanya seperti ditarik dari belakang alias susah naik.” Sempat merinding juga sambil bertanya di dalam hati, “bisa naik gak ya?”

Jalan yang kami pilih untuk menuju kawah Tangkuban Perahu ternyata kondisinya kurang bersahabat. Jalan menanjak dan berlubang. Wah kalau begini ceritanya, motor bisa mati di tengah jalan, pikir kami. Tapi mendadak pikiran itu hilang saat kami mencoba memacu gas mendaki jalan terjal itu. Jalan mendaki, rusak, dan berliku pun dilewati dengan sukses oleh rombongan Pertamina Motor Club. Sekali lagi, Enduro 4T terbukti ketangguhannya.

Tips seputar touring:

  • Persiapkan kendaraan dan alat keselamatan anda dan pastikan semuanya dalam kondisi prima.
  • Perhatikan surat-surat kendaraan dan izin jalan dari kepolisian. Dan patuhi peraturan lalu lintas yang berlaku.
  • Untuk kondisi di Indonesia, bikers tentunya membutuhkan pelumas yang telah teruji dan sesuai dengan karakteristik alam Indonesia. Makanya disarankan untuk mencari pelumas yang memiliki kekentalan yang sangat stabil pada temperatur rendah dan tinggi.
    Selain itu, oli juga berpengaruh terhadap kinerja kopling. Jangan sampai lagi enak mengendarai sepeda motor kesayangan waktu touring tiba-tiba koplingnya slip. Ini yang paling nyebelin. Makanya, oli yang diperlukan bikers harus menjamin anti slip kopling. Enduro 4T teruji.
  • Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bikers butuh pelumas yang tidak mudah teroksidasi dan terdegradasi oleh radiasi panas mesin.
  • Lebih jauh lagi, bro semua perlu pelumas yangf mampu menjaga kebersihan mesin dari korosi dan keausan dan mampu meningkatkan akselerasi prima. Jadi besutan bro semua bisa meluncur halus dan semua komponen motor utamanya kopling dan rangkaian gear transmisi jauh lebih awet dan tahan lama. Selamat mencoba.

Freedom: Destination is Nothing, Journey is Everything

"Ya Allah janganlah Kau turunkan hujan dan selamatkan kami dari semua mara bahaya", doaku sesaat sebelum menyalakan sepeda motor dan berangkat menembus udara malam menuju Anyer.

Touring ke luar kota menggunakan sepeda motor bukanlah hal yang baru bagi para bikers terutama di saat liburan atau akhir pekan. Sayup terdengar Redemption Song Bob Marley dari salah satu scooter peserta mempertegas nuansa kebebasan di kalangan bikers.
Kalender akhir pekan pertama April 2007 menarik perhatian para bikers untuk melakukan touring tentu karena ada tanggal merah di situ. Kali ini PMC didukung oleh Pelumas Pertamina menggelar touring Enduro 4T Racing Anyer Tour 2007. Pesertanya tidak tanggung-tanggung, mencapai lebih dari 100 motor. Touring dilepas oleh Manajer Retail Marketing Pelumas Hasto Wibowo dari kantor pelumas di Simpruk, Jakarta.

Jalan malam bagi kelompok bikers dengan jumlah sedikit memang mengasyikan karena cuaca tidak panas dan relatif lancar. Situasi menjadi menegangkan bila jumlah motor lebih dari 30 buah apalagi mencapai lebih dari 100 sepeda motor. Tingkat risiko sangat tinggi. Aba-aba road captain tidak terlihat, banyaknya lobang di jalan dan yang paling penting kita harus pandai menjaga jarak dengan motor didepannya. Kondisi ini bertambah kesulitannya bila rasa kantuk menyerang. Sering terjadi jarak antar motor terlalu dekat sehingga berisiko terjadi tabrakan beruntun dan motor dapat saling berjatuhan. Untuk menyikapi hal ini, keandalan pengendara dan ketangguhan sepeda motor menjadi faktor utama yang harus diperhatikan.

Untuk sepeda motor, terutama mesinnya, para bikers peserta touring menggunakan pelumas Enduro 4T Racing. Otomatis keandalannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Anto, salah satu peserta, mengatakan bahwa dalam turing ini Enduro 4T Racing bagus. ”Tidak slip kopling, respon enak dan cepat, bahan bakar irit, tidak ada kendala di mesin, dan untuk mesing suaranya halus,” ujarnya. Ia mengakui bahwa dirinya memang mengharapkan Pertamina memproduksi oli dengan SAE 10W 40 karena ia biasanya pakai Prima XP atau Fastron. ”Kalau sekarang ada Enduro 4T 10W 40 saya akan pakai,” tegasnya mantap.

Dari beberapa kelompok motorist yang bergabung dengan rombongan PMC (Pertamina Motor Club) tampak sebuah 'gang' yang menamakan SOC (scooter owner club) atau lebih dikenal dengan sebutan Vespa Balaraja.

Kelompok ini mendesain Vespanya dengan beraneka bentuk ada yang memiliki side car berwarna loreng, Vespa dengan panjang mencapai lebih dari 2 meter, tidak dicat sehingga tampak sangat 'ugly'. Tidak pernah terbayang bahwa ada festival motor terjelek tiap tahunnya. Unik, sebuah motor yg dilengkapi dengan tape bak motor Harley tipe Road King. sesuai dengan bentuk motornya lagu2 "Song of Freedom" dari Bob Marley terdengar nyaring dari Vespa butut.

"Mas mohon maaf saya terpaksa mohon pamit karena akan menuju Palembang siang ini", demikian pamit pak Unang kepada kami. "Palembang ???? naik motor ini???", decak kagum penulis. Bagi kelompok ini memang penganut "destination is nothing, journey is everything".
Kota Lama Terlupakan

Perjalanan pulang tidak kalah serunya dibandingkan dengan perjalanan waktu berangkat menuju Anyer. Perjalanan kali ini meninggalkan banyak kesan bagi kami. Sejak dimulainya penggunaan jalan tol Jakarta Merak maka banyak kota yang tidak pernah kita singgahi bila kita akan bersantai di pantai Carita. Kota-kota tersebut pada jaman dulu terkenal karena macetnya. Simpul kemacetan terbentuk karena jalan ramai melewati pasar tumpah, terminal angkutan umum dan kadang juga stasiun kereta api. Kondisi jalan diperparah dengan lalu lalangnya truk besar dan container pengangkut barang.

Tigaraksa, Cikupa, dan Balaraja adalah kota-kota setelah kota Tangerang yang sarat dengan kemacetan. Aroma busuk dari pasar tradisional, debu beterbangan dan kemacetan mewarnai perjalanan di siang hari. Pada malam hari, suasana tidak begitu terasa hanya 'wangian' pasar tradisional masih tercium.

Kota- kota ini seakan manjadi kota tua yang terlupakan karena kita hanya kita baca pada papan petunjuk jalan berlatar belakang hijau di jalan tol. Namun bila kita mengendarai motor maka kita seakan kembali 'menemukan' kota terlupakan tersebut.

Anyer - Labuan
Warna biru laut, ombak putih, nyiur melambai yang memecah dipantai membuat perjalanan semakin indah menyenangkan. terlebih bila kita riding di pagi atau sore hari. Cahaya lembayung sore hari, udara pantai yang bersih yang melenakan. Pemandangan pantai memang tidak pernah membosankan.

Berbagai bentuk hotel dan villa mulai dari nuansa Bali, mediteranian, hingga bertemakan tradisional menghiasi kiri kanan jalan menuju Carita. Jalan sepi, mulus dan cukup lebar menambah kenyamanan bermotor ria sepanjang jalur ini.

Trayek Anyer Labuan memang merupakan rute yang paling favorit bagi para bikers. Alam ciptaan Illahi ini nampak tenang dan damai. Aroma laut yang kaya akan garam seakan membelai pori-pori tubuh. Biarkan helm kita terbuka agar wajah kita juga dibelai udara laut. Udara jernih lebih terasa melonggarkan pernafasan bila kita nikmati diatas sadel motor. Memang tidak salah ungkapan para bikers: "Suasana tampak indah dan berbeda bila dinikmati di atas sadel motor".

Labuan - Rangkas
Pemandangan pantai yang indah berubah menjadi alam dataran rendah perbukitan yang didominasi oleh kehadiran sawah menguning setelah melewati kota Labuan menuju Rangkasbitung. Trayek ini cukup bagus untuk dilewati karena jalan cukup lebar, berbukit, berkelok dan tidak terlalu ramai. sangat berbeda situasinya dibandingkan trayek Tangerang - Serang yang berdebu.

Walaupun jalur ini boleh dibilang mulus namun lagi-lagi harus waspada karena lobang jalanan kadang menjebak bagi para motorist. Labuan Rangkasbitung berjarak kurang lebih 58 Km. Bagi rombongan besar maka kecepatan disarankan tidak lebih dari 60 km/jam.

Rangkasbitung - Bogor
Perjalanan dari Anyer kembali ke Jakarta dimulai pukul 13.30 dengan memilih jalur tengah yaitu Carita, Labuan, Rangkasbitung, Bogor dan kembali ke Jakarta via Parung. Lepas kota Rangkasbitung sekitar pukul 5.00 sore hari. Mendung menggantung tetap membayangi perjalanan kali ini.

Jalanan tampak sepi dan mulai memasuki perkebunan kelapa sawit. Hanya rombongan PMC saja yang melewati wilayah pegunungan ini. Hujan gerimis masih turun sehingga membatasi jarak pandang. Jalan yang tampak mulus namun selalu menyediakan lobang dalam bagi yang tdk waspada.

Langit berwarna lembayung mulai menjadi lebih gelap dan gelap. Tampak bayangan pegunungan sekilas tersinari sisa cahaya mentari. Suasana tampak hening dan sedikit mencekam.

"Jalanan baru saja selesai diaspal, warnanya merah", demikian komentar Boim menceritakan pengalamannya. ini hanyalah sebuah joke karena sisa tanah merah melapisi aspal. Tanah merah ditambah hujan membuat perjalanan sangat berbahaya. "Ya Allah janganlah Kau turunkan hujan dan selamatkan kami dari semua mara bahaya", doaku. Bagi penulis kondisi ini bak jalan di lantai licin yang bersabun, sangat berbahaya. Motor sportster yang mempunyai berat hampir 200 kg terasa tidak stabil dan beberapa kali bergeser ketika melintasi tanah becek. kondisi ini diperparah kondisi rem belakang yang tidak berfungsi sejak lepas kota Labuan. bahkan sempat terseret ketika rem disc bagian belakang terlepas dari posisinya dan terseret di jalanan.
Sekilas masih terbaca jarak tempuh melalui patok di pinggir jalan 98 km lagi menuju Bogor. Patok demi patok kadang terbaca 74, 71, 60 km dan akhirnya patok-patok tersebut tidak terbaca lagi karena gelap menyelimuti perjalanan.

Di tengah hutan tersebut terlihat cahaya lampu kuning yang bearti lampu sebuah kota. penulis berharap inilah kota Jasinga tempat rombongan akan beristirahat. Ternyata setelah dekat lampu kuning hanya beberapa buah dan perjalanan baru mencapai kota kecil Cipanas. Setelah itu kembali memasuki wilayah hutan gelap lagi. Menjelang waktu Isya kembali terlihat cahaya kuning dari balik hutan. dan ternyata benar rombongan telah memasuki kota Jasinga. sebuah kota kecil di barat Bogor. Dari patok arah pinggir jalan, jarak menuju kota Bogor 43 km. walaupun sedikit mencekam, rombongan PMC beberapa kali berpapasan dengan kelompok motor yg akan menuju Rangkasbitung.

Perjalanan sangat berkesan. Sekali lagi "destination is nothing, journey is everything".

LAKE TOBA FROM ABOVE: QUEST TO PARAPAT

Rasanya belum impas terbayar balas dendam istirahat melepas lelah setelah penerbangan dari Jakarta ke Medan. Matahari pun belum mau beranjak mengintip dari balik bukit, tapi di Sabtu pagi itu deru mesin motor sudah menggema memecah keheningan pagi di kota Medan.

Honda Steed, Binter Merzy, Hyosung, Pulsar, Suzuki, dan berbagai jenis sepeda motor lainnya dijajarkan dan dipersiapkan. Sebuah perjalanan panjang tampaknya menanti kehadiran rombongan sepeda motor 3 generasi ini. "Motor boleh macem-macem, yang penting olinya produk Pertamina," tegas bro Heru Ketua KSPM si empunya motor.

Awalnya perjalanan ini hanya untuk mendapatkan sebuah artikel keindahan alam dilihat dari Patra Jasa Parapat. Namun untuk mempertajam pena dalam menggambarkan suasana, tidak ada salahnya petualangan baru ini diambil oleh tim Warta Pertamina.

Tim WP tidak tahu persis berapa jarak yang akan dilalui yang jelas kami ditemani brothers dari Klub Sepeda Motor Pertamina Medan. Tak disangka ikatan brotherhood memang mampu meruntuhkan dinding penghalang yang terberat sekalipun.

Kuntoro, fotografer WP, tampil santai dengan jaket tipis dan kamera SLR digantung di pundaknya. "Buat ambil gambar di jalan mas," ujarnya kalem. Di dalam benaknya, perjalanan ini hanya akan memakan waktu satu jam. Anda salah besar bung!

Jalur Brastagi
Dua jam lebih berlalu, rombongan singgah di Brastagi. Pemandangan luar biasa di sepanjang jalan tidak boleh dilewatkan. Tapi yang lebih penting adalah dokumentasi perjalanan. Standar untuk safety shot yang dibutuhkan adalah landmark seperti tugu selamat datang dan suasana alam merupakan standar operasi yang paling dasar tapi harus dilaksanakan.

Saat kami berpikir untuk menepi dikelokan tajam yang entah keberapa, sesosok babon besar yang menakutkan bertengger di pagar pengaman pembatas jalan mengamati kedatangan rombongan. Sontak kami membanting stang sepeda motor menjauh darinya. Edan dia ternyata tidak sendirian. Sekawanan babon lain memandang kami seakan kami adalah sarapan pagi mereka. Melihat taringnya yang panjang dan tajam, ditambah suasana hutan yang sedikit mencekam seolah mereka mengisyaratkan "Welcome to the survival of the fittest zone". Nyali ini mendadak ciut. Kami memilih mencari tempat yang lebih bersahabat. Kehilangan peluang gambar di satu lokasi masih lebih baik daripada kehilangan kamera dan nyawa. Toh, masih banyak alternatif lokasi lain yang tak kalah menarik di sini.

Sebuah gapura selamat datang di Deli Serdang menjadi titik pertama safety shot kami.

"Masih jauh mas?" tanya fotografer andalan kami di sela istirahat di sebuah warung jagung bakar. Hanya senyum yang bisa saya berikan untuknya. Senyum yang berarti lebih dari seratusan km lagi jarak tempuh kita.

AG Sibayak
Dalam perjalanan tim WP dan brother KSPM merapat ke kantor Area Geothermal Sibayak untuk bersilaturahmi dengan saudara Pertamina yang berada di daerah operasi. Pertemuan singkat yang berkesan untuk melepas rindu dengan kawan lama.

Satu persatu mesin dihidupkan. Handle gas sepeda motor mulai dimainkan. Gas pol menuju Parapat!

Air Terjun Sipiso-Piso
Tak terasa enam jam telah berlalu saat sebuah persimpangan dengan tanda penunjuk arah Air Terjun Sipiso-piso tampak di depan mata. "Mau mampir?" tanya bro Heru kepada kami. "Boleh juga," jawab kami sambil mengarah ke kawasan wisata tersebut.

Membayar beberapa ribu rupiah untuk parkir dan retribusi masuk daerah wisata tak seberapa dibandingkan dengan keindahan alam yang ada di depan mata. Awalnya mata kami hanya melihat air terjun itu, sampai kami menyadari bahwa air terjun itu mengalir menuju Danau Toba. Subhanallah... Luar biasa indahnya. Untuk para penggila foto panorama alam, pemandangan ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Banyak frame kami habiskan untuk lukisan alam ini sambil di temani angin sejuk yang menghapus rasa letih setelah enam jam menunggang kuda besi.

Kalau bukan karena tujuan tugas ke Parapat, kami pasti akan menghabiskan lebih banyak waktu di tempat ini.

The Highland
Hujan deras menghadang rombongan sekitar dua jam sebelum masuk Parapat. Inilah petualangan, hujan dan panas menjadi bagian dari perjalanan.

Hawa dingin menusuk. Kami pun menepi. Di ketinggian, seorang kawan berbisik, "Itu Tanjung Unta," katanya. Untung saja kami sempat browsing mencari info wisata di sekitar Danau Toba. Tanjung Unta adalah salah satunya. Mudah ditebak, nama itu dipilih karena bentuknya seperti punuk unta.

Menembus dinginnya dataran tinggi di sekitar Danau Toba bukan perkara mudah apalagi jika mengendarai kuda besi. Perut yang mulai berontak minta diisi, baju basah melekat di tubuh, ngantuk dan lelah yang menggelayuti mata, membuat perjalanan ini semakin lengkap. Tapi kalau diingat keindahan alam yang kami dapatkan, kesengsaraan itu semua tak ada artinya.

Lebih dari 200 kilometer telah kami tempuh melalui jalur ini sampai kami menemukan "Patra Jasa Parapat belok kanan," kata papan besar di kanan jalan. Inilah tujuan utama kami.