Sabtu, 27 November 2010

CHIANG KAI SEK MEMORIAL HALL: PENGHARGAAN UNTUK SEBUAH NAMA BESAR


Nama besar seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya sangat terasa di Taiwan. Sebuah bangunan megah dengan arsitektur yang khas menjadi media penyambung kisah antar generasi tentang nama besar seorang pemimpin bangsa. Bangunan itu bernama Ciang Kai Shek Memorial Hall.

Bangunan yang berdiri setinggi 70 meter ini dibangun dengan dinding marble berwarna putih. Atap bagunan ini sangat unik, berbentuk Ren (manusia) dan menjulang ke angkasa (bentuk seperti kerucut). Ini merupakan simbol budaya Cina yang berarti hubungan hamonis antara manusia dengan alam.

Untuk memasuki gedung ini, pengunjung bisa memiliki tiga pilihan. Sisi depan gedung berada di jalan Zhongshan South melalui sebuah gerbang Liberty Square menyusuri Democracy Boulevard yang diapit hamparan bunga berwarna merah. Tampak dua kolam berada di kedua sisi Democracy Boulevard yakni kolam Guanghua dan Yunhan. Dari sisi ini, pengunjung dapat meniti 89 anak tangga untuk dengan jelas melihat patung perunggu Chiang Kai-Shek yang sedang duduk. 89 adalah usia Chiang Khai-Sek diabadikan dengan jumlah anak tangga di sisi Democracy Boulevard. Di belakangnya tercantum tulisan tiga prinsip dasar rakyat yakni etika, demokrasi, dan pengetahuan yang merupakan pemikiran politiknya. Selain akses ini, ada dua akses lain yakni di jalan Xinyi melalui The Great Loyalty Gate atau di jalan Aiguo East melalui The Great Piety gate.

Di dalam pekarangan yang luasnya mencapai 250.000 meter persegi ini, para pengunjung dapat melakukan berbagai kegiatan seperti bersantai menikmati pemandangan di lingkungan Memorial Hall, berlatih opera, olah raga, bermain catur, atau hanya sekadar beristirahat.

Salah satu tempat pilihan untuk bersantai adalah di sekitar kolam Guanghua dan Yunhan. Luas kedua kolam diperkirakan mencapai 3000 meter persegi. Kolam-kolam ini dikelilingi oleh batu-batu besar dan bukit kecil buatan serta berisikan berbagai macam ikan dengan aneka warna. Nuansa yang sangat tepat untuk relaksasi.

Memasuki bangunan Memorial Hall tidak dipungut biaya apapun. Sebelum memasuki ruang pameran, sebaiknya pengunjung datang ke bagian informasi dan meminta brosur tentang ruang pamer yang akan dikunjungi. Untuk mengelilingi seluruh lokasi dibutuhkan waktu sekitar satu sampai dua jam. Tergantung kepada minat pengunjung tentunya.

Di lantai dasar pengunjung akan melihat koleksi buku yang dimiliki oleh Chiang Kai Shek. Ruang pameran ini memiliki luas sekitar 2.000 meter persegi dengan enam ruang yang menampilkan peninggalan sang Jenderal seperti pakaian, dua unit mobil, topi, medali, dokumen, foto, dan lain sebagainya.

Di lantai ini, pengunjung juga dapat melihat patung lilin sosok Chiang Kai Shek hasil karya pematung Lin Chien-Cheng. Patung ini menampilkan sosok Jenderal yang ramah. Patung ini ditempatkan dalam satu ruang khusus dengan dekorasi ruang kerja Chiang Kai Shek yang dilengkapi dengan peralatan kerja peninggalannya. Selain patung lilin, ada sebuah hal yang unik berupa tulisan tentang pemikiran politik pemerintahan Chiang Kai Shek yang ditulis dengan huruf Cina yang sangat kecil dan membentuk wajah sang Jenderal.

Ternyata, di lokasi Memorial Hall ini tidak hanya memajang barang-barang peninggalan Chiang Kai Shek. Di lokasi ini, warga masyarakat dapat mengikuti program-program yang tidak kalah menarik.Seperti kursus. Di tempat ini ada sekitar 200 program kursus antara lain Tai-ji, Qigong, dan Yoga untuk merepresentasikan kesehatan dan keberlangsungan masyarakat umum. Ada juga kelas kursus untuk menghargai peninggalan seni masa lalu yang diberikan untuk mengajak orang agar menghargai keindahan budayanya. Selain itu, ada kursus yang terkait dengan bisnis yang dimaksudkan agar masyarakat bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih luas.

Di dalam gedung utama juga dilengkapi dengan ruang pameran untuk event khusus seperti pameran lukisan yang diselenggarakan pada akhir November 2010 yang lalu. Ada empat ruangan yang dapat digunakan untuk pameran. Biasanya, ruangan ini digunakan oleh para seniman ternama untuk memajang karya seninya. Selain itu juga tersedia auditorium yang dapat digunakan untuk seminar dan kegiatan serupa lainnya. Memorial hall ini sepertinya memang didesain khusus untuk pendidikan, seni, budaya, dan komunikasi.

Jika Anda adalah pecinta flora dan fauna, di halaman sekeliling memorial hall, anda dapat menemukan beraneka ragam bunga, tumbuhan, kupu-kupu, serangga, dan burung-burung yang indah. Area ini menjadi tempat pilihan bagi siswa sekolah dasar dan menengah untuk mempelajari flora dan fauna. Bagi yang berminat, tentunya disediakan brosur-brosur yang dapat dibaca sambil menemani kegiatan belajar, mengeksplor keanekaragaman flora dan fauna, sambil menikmati keindahannya.

Semua barang yang dipamerkan di Chiang Kai Shek Memorial Hall adalah barang-barang yang dipindahkan dari kantor kepresidenan pada tahun 1994. Desain interior menyesuaikan dengan aslinya. Sebagian lukisan yang dipamerkan adalah karya istri Chiang Kai Shek.

Chiang Kai Shek Memorial Hall sungguh sebuah penghargaan untuk seorang Jenderal Besar yang menjadi founding father negara Republik Cina atau yang sering kita sebut Taiwan.

Senin, 10 Agustus 2009

HARLEY DAVIDSON FOR SALE...!

Dijual Harley Davidson Sportster 1962 883 cc
Harga Rp 45 Juta

Ada teman menjual HDnya. Kalau berminat tulis di komentar aja ya... tinggalkan alamat email atau nomor HP. thanks.




Sabtu, 01 Agustus 2009

Prambanan: Proyek 1000 Candi




Minggu, 12 Juli 2009

Sebutan proyek 1000 candi sering kami gunakan untuk menyebut tugas dadakan yang sering diberikan dari pimpinan di kantor. Maklum tim kerja kami selalu menjadi harapan terakhir setiap ada hal yang tidak jelas, tidak tahu harus diapakan dan harus selesai segera.

Cerita 1000 candi pasti sudah didengar oleh orang Indonesia di seantero negeri. Adalah Bandung Bondowoso dan Loro Jonggrang yang menjadi tokoh utama dalam kisah itu.

Loro Jonggrang adalah putri Prabu Boko
-raja jahat yang mati dibunuh Bandung Bondowoso- yang memberi syarat kepada Bandung Bondowoso untuk membangun 1000 candi dalam satu malam jika ingin menikah dengan dirinya. Bandung Bondowoso lantas mengerahkan pasukan jin untuk membantunya.

Menjelang matahari terbit, Bandung Bondowoso nyaris berhasil menyelesaikan tugasnya. Khawatir akan keberhasilan Bandung, dan tidak ikhlas menikah dengan orang yang membunuh ayahnya, maka Loro Jonggrang meminta bantuan wanita di desa untuk memukul penumbuk padi. Tujuannya supaya ayam jago berkokok dan mengakhiri kepanikan itu dengan kekalahan Bandung.

999 jumlah candi yang berhasil dibuatnya. Mengetahui kecurangan Loro Jonggrang , Bandung pun murka dan mengutuknya menjadi arca candi ke seribu. Tak hanya itu, para wanita di desa itu juga dikutuk menjadi perawan tua.

Kisah itu yang menjadi legenda 1000 candi di kompleks Prambanan. Perjalanan dari Jogja ke Prambanan tidak memakan waktu lama. Sekitar 30 menit dari Prawirotaman melalui Ring Road Utara mengambil arah ke Solo.

Selain wisata kompleks Prambanan, jika anda ingin mengambil paket, loket menyediakan tur Prambanan - Candi Boko. Tidak terlalu mahal.

Ups, ternyata kamera dikenakan pungutan Rp 1.000 untuk kamera foto, dan Rp 3.000 untuk kamera video. Tapi harga itu tidak sebanding dengan keindahan purbakala yang bisa diabadikan untuk memuaskan hasrat narsis dan unggah foto di facebook.

Panas terik akan menemani perjalanan wisata anda di kompleks Prambanan. Kacamata hitam, topi lapangan dan sebotol air minum menjadi benda wajib para pelancong.

Suasana Prambanan saat kami tiba masih dalam proses rehabilitasi pasca gempa. Gempa yang sempat mengguncang Jogja beberapa waktu lalu itu juga sempat meluluhlantakkan beberapa bagian candi di kompleks Prambanan.

Beberapa rombongan wisatawan tampak sibuk mengabadikan kemegahan candi Whisnu. Ada sekelompok mahasiswa pariwisata yang sibuk menjelaskan kisah candi ini kepada turis asing. Anak kecil berlarian menghindari panas matahari. Orang lanjut usia berusaha meniti tangga demi tangga dibantu anak dan cucunya.

Sementara itu, di kejauhan petugas keamanan mengawasi lingkungan untuk menjamin kenyamanan kami semua. Dari atas anjungan foto tampak sekelompok orang menjajakan jasa foto kilat. Menjelang pintu keluar terlihat pedagang kaki lima menawarkan cinderamata.

Suasana yang harmonis, semua hidup berdampingan, saling membantu. Angin menyapa lembut, betapa damai dan indahnya Indonesiaku ini.

Kompleks Prambanan terdiri dari banyak candi. Disebut candi Prambanan karena lokasinya berada di daerah Prambanan. Wisata yang tidak mahal, menarik, penuh dengan pesan moral, peninggalan purbakala yang sangat berharga warisan nenek moyang bangsa.

Menuju Jogja dari Salatiga


Sabtu, 11 Juli 2009

Perjalanan "kereta tua" terasa agak melambat saat kami memasuki kawasan perbukitan di sekitar Salatiga. Rute Kopeng yang indah dan menantang itu terpaksa kami ikhlaskan dan kami pun memilih jalur konvensional melalui pertigaan Bawen menuju Magelang.Toh tidak ada yang bisa kami lihat di Kopeng karena gelap malam sudah turun menyelimuti langit Jawa.

Salatiga sebenarnya tidak ada di agenda perjalanan kami. Tapi, salah satu mantan bos saya ada yang mengisi usia pensiunnya di kawasan perbukitan di sana. "Kami membuka café dan menjual tanaman hias," ujarnya ramah saat menerima kedatangan kami. Rumah asri disulap menjadi café yang bersebelahan dengan kebun pembibitan tanaman hias. Kedatangan kami memang satu hal yang mereka tunggu di hari itu.

Suara muadzin terdengar sayup melantunkan baris terakhir adzan magrib. Di SPBU terdekat, mobil tua ini pun menepi. Dalam hening kami bersujud kepada Yang Maha Kuasa.

Malam itu kami merasakan dua hal yang kontradiktif. Pertama, semangat advonturir untuk menembus gelap kota-kota di Jawa Tengah, antara Salatiga dan Jogjakarta. Kedua, rasa lelah yang sudah mulai mengikis rasa keingintahuan kami.

Jalan berliku dan mendaki mengantar kami menuju Magelang. Tak terasa, kami sudah berada di antrian kendaraan yang mulai tampak menjelang pusat kota Magelang. Suasana di tengah kota pun terlihat ramai. Hiruk pikuk manusia memadati alun-alun menambah kesibukan beberapa Polantas mengatur jalan. Agak semerawut dan membingungkan, tapi semua orang terlihat senang.

Arah menuju Jogja menghilang. Kami pun kehilangan petunjuk. Jalan menyempit dan menjadi satu arah. "Lurus," kata hati saya meyakinkan diri.

Lumayan melegakan saat kami melihat papan penunjuk arah menuju candi Borobudur. "Kita berada di jalan yang benar," ujarku. Laju menuju Jogja.

Tak banyak yang bisa dilihat karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi tidak demikian dengan kondisi di jalan Malioboro, masih ramai. Jadi ingat lantunan lagu KLA Project..Ramai kaki lima, menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila...

Prawirotaman 2, kami disambut gapura keramik yang mencantumkan nama-nama penginapan di jalan itu. Ide yang bagus untuk penunjuk jalan di tempat wisata. Sebuah rumah tamu di jalan itu menjadi tempat kami menginap. Bagi yang belum tahu, sebagai gambaran suasana di Prawirotaman persis seperti kawasan jalan Jaksa di pusat kota Jakarta. Banyak turis backpacker yang memilih guest house di kawasan ini. Faktor harga dan ketenangan menjadi pilihan yang diunggulkan di lingkungan ini.

Waktu istirahat untuk kami dan kereta tua kami Lancer 1983.

Sabtu, 18 Juli 2009

Wina: Walzer Stadt

Tidak pernah terbayang sebelumnya untuk melihat kota Vienna. Paling banter yang bisa dilakukan hanya mendengar cerita tentang keindahannya dari orang yang pernah ke sana, melihat dari gambar foto dan piring kayu pajangan dinding oleh-oleh khas dari sana, atau tayangan televisi.

Kesempatan itu pun tiba. Penerbangan cukup melelahkan. Paling tidak 20 jam kami di udara. Dari udara yang tampak hanya ladang hijau, beberapa kelompok bangunan seperti sebuah perkampungan kecil. Tapi yang banyak terlihat adalah kincir angin pembangkit listrik. Di dalam hati hanya bisa bertanya, entah kapan Indonesia bisa memanfaatkan angin sebagai tenaga pembangkit listrik. Padahal potensi yang kita miliki sangat besar mencapai sekitar 81.000 km garis pantai.

Anyway, pesawat pun akhirnya mendarat setelah tiga kali transit di Singapura, Kolombo, dan Dubai. Saya sebenarnya sedikit khawatir karena tidak bisa berbahasa Jerman. Memang bahasa Jerman menjadi bahasa sehari-hari di Vienna. Seluruh papan nama dan penunjuk jalan berbahasa Jerman. Lumayan keriting juga untuk memahaminya.

Setibanya di sebuah ruang tunggu saya sedikit lega karena melihat rekan-rekan dari KBRI yang menunggu kedatangan kami. Kami pun bergegas ke tempat bagage claim untuk mengambil barang bawaan yang lumayan banyak.

Dari bandara, kami langsung menuju Hoffburg Palace untuk menyiapkan stand pameran. Hoffburg, sebuah istana yang megah.

Sumber di KBRI Wina menjelaskan bahwa Istana Hofburg adalah bekas Istana Kaisar Austria. Situs KBRI Wina lebih memperinci fungsi istana tersebut. Sebagian dari gedung tersebut dewasa ini dipakai untuk Istana Presiden, Kantor-kantor pemerintah, Museum Musik, Museum für Völkerkunde (Museum Ethnologi) dan Schatzkammer. Di dalam Museum Etnologi tersebut terdapat ruang Indonesia dan Perpustakaan dengan literatur mengenai kebudayaan Indonesia. Di dalam Schatzkammer dipamerkan perhiasan berharga dari kerajaan Austria. Di depan istana terdapat Heldenplatz (Lapangan Pahlawan) dengan patung Prinz Eugen (yang mengalahkan Turki) dan Erzherzog-Karl menunggang kuda, yang mengalahkan Napoleon. Hoffburg terletak di distrik satu alias pusat kota.

Di sekeliling istana dapat ditemui para pengamen musik klasik. Sebagian dari mereka ada yang berdandan ala zaman kerajaan. Mereka bermain antara tiga sampai lima orang dengan alat musik yang bervariasi. Suara yang dihasilkan begitu indah didukung dengan fisik bangunan di sekitar yang membantu menciptakan gaung musik yang sulit dilupakan. Bahkan ada juga yang mengamen dengan menggunakan piano. Sungguh luar biasa.

Kota Wina memang tidak terlepas dari musik. Dengan demikian Wina mendapat julukan juga "Walzer Stadt" (Kota Walz). Banyak komponis-komponis ternama di dunia memulai kariernya dikota Wina. Staatsoper, Volkstheater, Musikverein, Philharmoniker dan Wiener Sängerknaben mempunyai solisten dan dirigen yang namanya cukup dikenal di dunia musik.

Wina dikenal juga sebagai kota theater. Banyak theater besar maupun theater kecil yang cukup baik untuk dilihat. Di musim panas pada umumnya theater-theater besar ditutup, tetapi hal ini tidak mengurangi daya tarik para pengunjung untuk melihat theater-theater kecil yang kwalitas pertunjukannya cukup baik. Sayang kami tidak memiliki waktu untuk menyaksikannya.

Sekitar pukul 20.00 waktu setempat kami baru selesai menyusun materi pameran. Tidak ada kendala yang berarti dalam proses persiapan pameran. Hanya saja karena mereka berbahasa Jerman dan memiliki karakter yang Lelah yang dirasakan tidak dapat membohongi bahwa kami sudah harus istirahat. Ditambah lagi lelah sisa penerbangan yang belum sempat dilepas. Kalau dipikir-pikir di Indonesia sudah jam 02.00 dini hari. Setelah mencari makan malam, kami pun berstirahat.

Pagi hari di kota Wina tidak jauh berbeda dengan kota lain. Hanya saja perbedaannya pada jam kerja justru banyak orang yang bersantai menikmati matahari. Aneh, bukankah seharusnya mereka bekerja? Atau mungkin kota ini terlalu indah sehingga orang banyak yang melancong ke sini.

Wina sebagai kota tua memang memiliki banyak obyek wisata yang menarik dan mempunyai nila budaya dan sejarah yang tinggi. Situs KBRI Wina memberikan info detil tentang obyek wisata tersebut: Stephansdom (Gereja Katedral Stephanus) didirikan tahun 1137 selesai dibangun tahun 1455. Katedral berbentuk gotik ini terletak di pusat kota Wina. Di sekitar Katedral terdapat pusat pertokoan yang menjual pakaian, perhiasan, barang-barang kesenian dan souvenir. Letaknya tidak jauh dari istana Hofburg.

Ringstraße merupakan jalan lingkar sepanjang 6,5 km menglilingi pusat kota Wina (centrum) dahulu adalah pagar benteng kota Wina, yang kemudian pada tahun 1857 oleh Kaisar Franz Joseph dijadikan jalan. Schwedenplatz (lapangan Swedia) berada di seberang Danau Kanal di depannya terdapat Kantor OPEC. Di Kanal tsb terdapat restauran Kapal (berhenti) . Urania adalah gedung peneropong bintang.

Regierungsgebäude (Gedung Pemerintah) didepannya terdapat patung Jenderal Radetzky menunggang kuda. Stadtpark, di taman tersebut terdapat patung Komponis terkenal Johann Strauß Jr. dan Franz Schubert. Musikverein, adalah gedung Konser, diantaranya untuk grup musik "Wiener Philharmoniker", Karlskirche (Gereja Karolus) yang dibangun pada tahun 1716-1737 dengan gaya barok, sebagai rasa syukur atas berhentinya wabah pes. Didekat gereja tedapat Technische Universität. Staatsoper (Gedung Opera) dibangun tahun 1861-1869 yang hancur oleh bom pada Perang Dunia ke-2 dan kemudian dibangun kembali tahun 1948-1955. Kunstakademie adalah Akademi Senirupa dimana di dekatnya terdapat patung Pujangga Friedrich Schiller dan Wolfgang Goethe. Burggarten (Taman Istana) didalamnya terdapat patung Komponis terkenal Wolfgang Amadeus Mozart. Kunsthistorisches Museum (Museum Kesenian) , di dalamanya terdapat koleksi barang-barang kesenian, khususnya lukisan-lukisan.

Naturhistorisches Museum (Museum Alam) didalamnya terdapat koleksi binatang yang diawetkan dan tumbuh-tumbuhan serta batu-batuan. Gedung Parlemen dibangun tahun 1873-1883 adalah tempat sidangnya wakil-wakil rakyat yaitu Nationalrat (Dewan Nasional) dan Bundesrat (Dewan Federal). Rathaus (Balai Kota) didirikan tahun 1872-1883 adalah kantor Gubernur dan Parlemen Wina. Burgtheater (Teater Kerajaan) dibangun tahun 1874-1888 adalah tempat diadakannya sandiwara-sandiwara sastra klasik Jerman.

Universität Wien (Universitas Wina) didirikan tahun 1873-1883. Wina mempunyai Universitas sejak tahun 1365. Untuk yang hobi belanja, bisa langsung menuju ke Parndorf Designer Outlet Center berada di daerah 7111, sekitar 40 menit dari Wina. Transportasi harus dengan kendaraan pribadi melalui Autobahn A4 ke arah exit 43 Neusiedl am See.

Satu tempat yang sempat membuat kami terpana adalah istana musim panas kaisar yakni Istana Schönbrunn terletak di Wina Barat merupakan istana musim panas Kaisar Austria. Istana tersebut didirikan oleh Ratu Maria Theresia pada tahun 1744-1775. Sebagian dari Istana dijadikan museum. Dalam museum tersebut dipamerkan benda-benda peninggalan kerajaan Austria, seperti lukisan, pakaian dan alat-alat rumah tangga. Di dalam komplek istana tersebut terdapat taman, kebun binatang, hutan tanaman dan di atas bukit terdapat Gapura Gloriette. Pemandangan yang luar biasa. Kenangan yang membekas untuk hari terakhir kami di Wina.

(adp_Overseas Journey - Europe)

Freedom: Destination is Nothing, Journey is Everything

"Ya Allah janganlah Kau turunkan hujan dan selamatkan kami dari semua mara bahaya", doaku sesaat sebelum menyalakan sepeda motor dan berangkat menembus udara malam menuju Anyer.

Touring ke luar kota menggunakan sepeda motor bukanlah hal yang baru bagi para bikers terutama di saat liburan atau akhir pekan. Sayup terdengar Redemption Song Bob Marley dari salah satu scooter peserta mempertegas nuansa kebebasan di kalangan bikers.

Kalender akhir pekan pertama April 2007 menarik perhatian para bikers untuk melakukan touring tentu karena ada tanggal merah di situ. Kali ini PMC didukung oleh Pelumas Pertamina menggelar touring Enduro 4T Racing Anyer Tour 2007. Pesertanya tidak tanggung-tanggung, mencapai lebih dari 100 motor. Touring dilepas oleh Manajer Retail Marketing Pelumas Hasto Wibowo dari kantor pelumas di Simpruk, Jakarta.

Jalan malam bagi kelompok bikers dengan jumlah sedikit memang mengasyikan karena cuaca tidak panas dan relatif lancar. Situasi menjadi menegangkan bila jumlah motor lebih dari 30 buah apalagi mencapai lebih dari 100 sepeda motor. Tingkat risiko sangat tinggi. Aba-aba road captain tidak terlihat, banyaknya lobang di jalan dan yang paling penting kita harus pandai menjaga jarak dengan motor didepannya. Kondisi ini bertambah kesulitannya bila rasa kantuk menyerang. Sering terjadi jarak antar motor terlalu dekat sehingga berisiko terjadi tabrakan beruntun dan motor dapat saling berjatuhan. Untuk menyikapi hal ini, keandalan pengendara dan ketangguhan sepeda motor menjadi faktor utama yang harus diperhatikan.

Untuk sepeda motor, terutama mesinnya, para bikers peserta touring menggunakan pelumas Enduro 4T Racing. Otomatis keandalannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Anto, salah satu peserta, mengatakan bahwa dalam turing ini Enduro 4T Racing bagus. ”Tidak slip kopling, respon enak dan cepat, bahan bakar irit, tidak ada kendala di mesin, dan untuk mesing suaranya halus,” ujarnya. Ia mengakui bahwa dirinya memang mengharapkan Pertamina memproduksi oli dengan SAE 10W 40 karena ia biasanya pakai Prima XP atau Fastron. ”Kalau sekarang ada Enduro 4T 10W 40 saya akan pakai,” tegasnya mantap.

Dari beberapa kelompok motorist yang bergabung dengan rombongan PMC (Pertamina Motor Club) tampak sebuah 'gang' yang menamakan SOC (scooter owner club) atau lebih dikenal dengan sebutan Vespa Balaraja.

Kelompok ini mendesain Vespanya dengan beraneka bentuk ada yang memiliki side car berwarna loreng, Vespa dengan panjang mencapai lebih dari 2 meter, tidak dicat sehingga tampak sangat 'ugly'. Tidak pernah terbayang bahwa ada festival motor terjelek tiap tahunnya. Unik, sebuah motor yg dilengkapi dengan tape bak motor Harley tipe Road King. sesuai dengan bentuk motornya lagu2 "Song of Freedom" dari Bob Marley terdengar nyaring dari Vespa butut.

"Mas mohon maaf saya terpaksa mohon pamit karena akan menuju Palembang siang ini", demikian pamit pak Unang kepada kami. "Palembang ???? naik motor ini???", decak kagum penulis. Bagi kelompok ini memang penganut "destination is nothing, journey is everything".

Kota Lama Terlupakan
Perjalanan pulang tidak kalah serunya dibandingkan dengan perjalanan waktu berangkat menuju Anyer. Perjalanan kali ini meninggalkan banyak kesan bagi kami. Sejak dimulainya penggunaan jalan tol Jakarta Merak maka banyak kota yang tidak pernah kita singgahi bila kita akan bersantai di pantai Carita. Kota-kota tersebut pada jaman dulu terkenal karena macetnya. Simpul kemacetan terbentuk karena jalan ramai melewati pasar tumpah, terminal angkutan umum dan kadang juga stasiun kereta api. Kondisi jalan diperparah dengan lalu lalangnya truk besar dan container pengangkut barang.

Tigaraksa, Cikupa, dan Balaraja adalah kota-kota setelah kota Tangerang yang sarat dengan kemacetan. Aroma busuk dari pasar tradisional, debu beterbangan dan kemacetan mewarnai perjalanan di siang hari. Pada malam hari, suasana tidak begitu terasa hanya 'wangian' pasar tradisional masih tercium.

Kota- kota ini seakan manjadi kota tua yang terlupakan karena kita hanya kita baca pada papan petunjuk jalan berlatar belakang hijau di jalan tol. Namun bila kita mengendarai motor maka kita seakan kembali 'menemukan' kota terlupakan tersebut.

Anyer - Labuan
Warna biru laut, ombak putih, nyiur melambai yang memecah dipantai membuat perjalanan semakin indah menyenangkan. terlebih bila kita riding di pagi atau sore hari. Cahaya lembayung sore hari, udara pantai yang bersih yang melenakan. Pemandangan pantai memang tidak pernah membosankan.

Berbagai bentuk hotel dan villa mulai dari nuansa Bali, mediteranian, hingga bertemakan tradisional menghiasi kiri kanan jalan menuju Carita. Jalan sepi, mulus dan cukup lebar menambah kenyamanan bermotor ria sepanjang jalur ini.

Trayek Anyer Labuan memang merupakan rute yang paling favorit bagi para bikers. Alam ciptaan Illahi ini nampak tenang dan damai. Aroma laut yang kaya akan garam seakan membelai pori-pori tubuh. Biarkan helm kita terbuka agar wajah kita juga dibelai udara laut. Udara jernih lebih terasa melonggarkan pernafasan bila kita nikmati diatas sadel motor. Memang tidak salah ungkapan para bikers: "Suasana tampak indah dan berbeda bila dinikmati di atas sadel motor".

Labuan - Rangkas
Pemandangan pantai yang indah berubah menjadi alam dataran rendah perbukitan yang didominasi oleh kehadiran sawah menguning setelah melewati kota Labuan menuju Rangkasbitung. Trayek ini cukup bagus untuk dilewati karena jalan cukup lebar, berbukit, berkelok dan tidak terlalu ramai. sangat berbeda situasinya dibandingkan trayek Tangerang - Serang yang berdebu.

Walaupun jalur ini boleh dibilang mulus namun lagi-lagi harus waspada karena lobang jalanan kadang menjebak bagi para motorist. Labuan Rangkasbitung berjarak kurang lebih 58 Km. Bagi rombongan besar maka kecepatan disarankan tidak lebih dari 60 km/jam.

Rangkasbitung - Bogor
Perjalanan dari Anyer kembali ke Jakarta dimulai pukul 13.30 dengan memilih jalur tengah yaitu Carita, Labuan, Rangkasbitung, Bogor dan kembali ke Jakarta via Parung. Lepas kota Rangkasbitung sekitar pukul 5.00 sore hari. Mendung menggantung tetap membayangi perjalanan kali ini.

Jalanan tampak sepi dan mulai memasuki perkebunan kelapa sawit. Hanya rombongan PMC saja yang melewati wilayah pegunungan ini. Hujan gerimis masih turun sehingga membatasi jarak pandang. Jalan yang tampak mulus namun selalu menyediakan lobang dalam bagi yang tdk waspada.

Langit berwarna lembayung mulai menjadi lebih gelap dan gelap. Tampak bayangan pegunungan sekilas tersinari sisa cahaya mentari. Suasana tampak hening dan sedikit mencekam.

"Jalanan baru saja selesai diaspal, warnanya merah", demikian komentar Boim menceritakan pengalamannya. ini hanyalah sebuah joke karena sisa tanah merah melapisi aspal. Tanah merah ditambah hujan membuat perjalanan sangat berbahaya. "Ya Allah janganlah Kau turunkan hujan dan selamatkan kami dari semua mara bahaya", doaku. Bagi penulis kondisi ini bak jalan di lantai licin yang bersabun, sangat berbahaya. Motor sportster yang mempunyai berat hampir 200 kg terasa tidak stabil dan beberapa kali bergeser ketika melintasi tanah becek. kondisi ini diperparah kondisi rem belakang yang tidak berfungsi sejak lepas kota Labuan. bahkan sempat terseret ketika rem disc bagian belakang terlepas dari posisinya dan terseret di jalanan.

Sekilas masih terbaca jarak tempuh melalui patok di pinggir jalan 98 km lagi menuju Bogor. Patok demi patok kadang terbaca 74, 71, 60 km dan akhirnya patok-patok tersebut tidak terbaca lagi karena gelap menyelimuti perjalanan.

Di tengah hutan tersebut terlihat cahaya lampu kuning yang bearti lampu sebuah kota. penulis berharap inilah kota Jasinga tempat rombongan akan beristirahat. Ternyata setelah dekat lampu kuning hanya beberapa buah dan perjalanan baru mencapai kota kecil Cipanas. Setelah itu kembali memasuki wilayah hutan gelap lagi. Menjelang waktu Isya kembali terlihat cahaya kuning dari balik hutan. dan ternyata benar rombongan telah memasuki kota Jasinga. sebuah kota kecil di barat Bogor. Dari patok arah pinggir jalan, jarak menuju kota Bogor 43 km. walaupun sedikit mencekam, rombongan PMC beberapa kali berpapasan dengan kelompok motor yg akan menuju Rangkasbitung.

Perjalanan sangat berkesan. Sekali lagi "destination is nothing, journey is everything".

(adp_Petualangan)

Saat Uang Digantikan dengan Uap

Community Development secara sederhana bisa diartikan dengan bina lingkungan merupakan suatu kegiatan yang dila-kukan oleh badan usaha dalam memberikan nilai tambah kepada masyarakat dan lingkung-an di sekitar lokasi kegiatan usahanya. Dengan adanya nilai tambah tersebut diharapkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat dapat terangkat.

Program ini sebenarnya sangat jitu jika dikelola secara maskimal dan profesional. Dampak dari program community development memberikan hasil berupa nilai tambah yang tidak pernah terbayang sebelumnya.

Dalam prakteknya, community development sering diartikan dengan pembangunan atau perbaikan jalan, rumah ibadah, sekolah, dan lain-lain. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, karena tujuannya tetap untuk mense-jahterakan masyarkat sekitar. Dengan adanya jalan, rumah ibadah, dan fasilitas sekolah yang memadai otomatis akan dapat membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat, akti¬-vi¬¬tas ekonomi yang semakin maju dan dinamis, peluang mendapatkan masa depan yang lebih baik, dan lain sebagainya.

Tetapi semua kegiatan tersebut pasti mem-butuhkan anggaran yang jumlahnya tidak kecil. Dan pada akhirnya membawa community development kepada suatu pemahaman sempit yang selalu identik dengan memberikan “uang”.

BANGKIT DARI KRISIS
Mengurangi angka kemiskinan, mencipta-kan lapangan pekerjaan, meningkatkan daya beli rakyat, dan membangun kembali ekonomi Indonesia harus menjadi agenda khusus bagi seluruh elemen di negeri ini untuk bangkit dari krisis.

Semangatnya sama dengan program community development yang sudah dijalankan oleh entitas-entitas bisnis dan sebagian besar masyarakat sudah bisa merasakan hasilnya.

Pengembangan perekonomian rakyat bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi daerah yang ada. Seperti di Tomohon, Sulawesi Utara yang memiliki potensi aren yang cukup besar. Untuk memanfaatkan potensi aren yang dimilikinya, dibangunlah sebuah pabrik gula aren yang dikelola oleh Yayasan Masarang.

Pabrik yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Minggu (14/1) tersebut merupakan pabrik gula aren pertama di Indonesia dan pabrik gula aren pertama di dunia yang menggunakan energi panas bumi. Energi panas bumi dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar untuk proses pembu-atan gula aren.

Pertamina Area Geothermal Lahendong memasok uap panas bumi secara cuma-cuma untuk industri pabrik gula aren tersebut. Pasokan ini merupakan bentuk kontribusi Pertamina demi terciptanya pertumbuhan ekonomi dan memberikan dampak pening-katan kesejahteraan dan menurunkan angka pengangguran di sekitar area operasi.

Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Bambang Kustono menegaskan bahwa Pertamina memasok uap sebesar 4 ton per jam. “Ini merupakan community development Perta-mina,” ujarnya di Lahendong, Minggu (14/1).

Bambang Kustono menegaskan energi panas bumi tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Ia menjelaskan bahwa saat ini sudah mulai dilaksanakan pemanfaatan panas bumi untuk pemakaian langsung seperti pengeringan gula aren dan yang sedang dikembangkan adalah untuk mengeringkan kopra.

Dampak beroperasinya pabrik tersebut sudah dirasakan oleh 3.500 orang petani aren di Tomohon yang menjual hasil sadapannya ke pabrik gula aren Masarang.

Direktur Pabrik Gula Aren Masarang Albert K Mait mengatakan bahwa pabrik ini dapat didirikan karena ada akses kerjasama dengan Pertamina untuk pasokan uap panas bumi secara cuma-cuma. Keuntungan dari pe-manfaatan panas bumi yang dipasok Pertamina adalah pabrik tersebut dapat menghemat bahan bakar yang sangat besar dan membantu pelestarian lingkungan.

Menurutnya, untuk proses selama satu jam jika dilakukan secara tradisional bisa mengha-biskan 20 kilogram kayu bakar. Apalagi jika dikalikan sebanyak 3.500 petani anggota kami yang melakukan kegiatan tersebut secara serentak maka kayu bakar yang dibutuhkan bisa mencapai 7.000 kilogram per hari dan ini berpotensi merusak lingkungan. “Kita mensyukuri panas bumi dari Pertamina bisa membantu petani di Tomohon,” ujarnya.

Pabrik gula aren Masarang telah meng-ekspor produk perdana ke Amsterdam dengan jumlah 12,6 ton. Harga jual gula aren diperkirakan mencapai 96 ribu rupiah per kilogram.

Pabrik ini memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 2,5 ton per hari. Tetapi saat ini baru beroperasi satu ton per hari dengan 35 orang pekerja yang bekerja satu shift. Direktur Pabrik Gula Aren Masarang Albert K Mait mengatakan ke depan di-mungkinkan untuk beroperasi penuh dalam tiga shift kerja.

Community development yang dilakukan Pertamina Area Geothermal Lahendong telah membuahkan hasil yang sangat signifikan terhadap masyarakat Tomohon. Mulai dari pengurangan angka pengang-guran dan kemiskinan dengan adanya lapangan kerja baru, peningkatan penda-patan ekonomi setempat, serta pelestarian lingkungan hidup.

Melaksanakan community development memang harus fokus pada hasil akhir yang diharapkan dan tidak selamanya berarti memberikan sumbangan berupa uang. Pada kesempatan ini Pertamina telah membuk-tikan komitmennya terhadap lingkungan sekitar sekaligus memberi bukti bahwa dalam hal ini bantuan uang dapat digantikan dengan pasokan uap.

(adp_Feature Reportase)