Tidak pernah terbayang sebelumnya untuk melihat kota Vienna. Paling banter yang bisa dilakukan hanya mendengar cerita tentang keindahannya dari orang yang pernah ke sana, melihat dari gambar foto dan piring kayu pajangan dinding oleh-oleh khas dari sana, atau tayangan televisi.
Kesempatan itu pun tiba. Penerbangan cukup melelahkan. Paling tidak 20 jam kami di udara. Dari udara yang tampak hanya ladang hijau, beberapa kelompok bangunan seperti sebuah perkampungan kecil. Tapi yang banyak terlihat adalah kincir angin pembangkit listrik. Di dalam hati hanya bisa bertanya, entah kapan Indonesia bisa memanfaatkan angin sebagai tenaga pembangkit listrik. Padahal potensi yang kita miliki sangat besar mencapai sekitar 81.000 km garis pantai.
Anyway, pesawat pun akhirnya mendarat setelah tiga kali transit di Singapura, Kolombo, dan Dubai. Saya sebenarnya sedikit khawatir karena tidak bisa berbahasa Jerman. Memang bahasa Jerman menjadi bahasa sehari-hari di Vienna. Seluruh papan nama dan penunjuk jalan berbahasa Jerman. Lumayan keriting juga untuk memahaminya.
Setibanya di sebuah ruang tunggu saya sedikit lega karena melihat rekan-rekan dari KBRI yang menunggu kedatangan kami. Kami pun bergegas ke tempat bagage claim untuk mengambil barang bawaan yang lumayan banyak.
Dari bandara, kami langsung menuju Hoffburg Palace untuk menyiapkan stand pameran. Hoffburg, sebuah istana yang megah.
Sumber di KBRI Wina menjelaskan bahwa Istana Hofburg adalah bekas Istana Kaisar Austria. Situs KBRI Wina lebih memperinci fungsi istana tersebut. Sebagian dari gedung tersebut dewasa ini dipakai untuk Istana Presiden, Kantor-kantor pemerintah, Museum Musik, Museum für Völkerkunde (Museum Ethnologi) dan Schatzkammer. Di dalam Museum Etnologi tersebut terdapat ruang Indonesia dan Perpustakaan dengan literatur mengenai kebudayaan Indonesia. Di dalam Schatzkammer dipamerkan perhiasan berharga dari kerajaan Austria. Di depan istana terdapat Heldenplatz (Lapangan Pahlawan) dengan patung Prinz Eugen (yang mengalahkan Turki) dan Erzherzog-Karl menunggang kuda, yang mengalahkan Napoleon. Hoffburg terletak di distrik satu alias pusat kota.
Di sekeliling istana dapat ditemui para pengamen musik klasik. Sebagian dari mereka ada yang berdandan ala zaman kerajaan. Mereka bermain antara tiga sampai lima orang dengan alat musik yang bervariasi. Suara yang dihasilkan begitu indah didukung dengan fisik bangunan di sekitar yang membantu menciptakan gaung musik yang sulit dilupakan. Bahkan ada juga yang mengamen dengan menggunakan piano. Sungguh luar biasa.
Kota Wina memang tidak terlepas dari musik. Dengan demikian Wina mendapat julukan juga "Walzer Stadt" (Kota Walz). Banyak komponis-komponis ternama di dunia memulai kariernya dikota Wina. Staatsoper, Volkstheater, Musikverein, Philharmoniker dan Wiener Sängerknaben mempunyai solisten dan dirigen yang namanya cukup dikenal di dunia musik.
Wina dikenal juga sebagai kota theater. Banyak theater besar maupun theater kecil yang cukup baik untuk dilihat. Di musim panas pada umumnya theater-theater besar ditutup, tetapi hal ini tidak mengurangi daya tarik para pengunjung untuk melihat theater-theater kecil yang kwalitas pertunjukannya cukup baik. Sayang kami tidak memiliki waktu untuk menyaksikannya.
Sekitar pukul 20.00 waktu setempat kami baru selesai menyusun materi pameran. Tidak ada kendala yang berarti dalam proses persiapan pameran. Hanya saja karena mereka berbahasa Jerman dan memiliki karakter yang Lelah yang dirasakan tidak dapat membohongi bahwa kami sudah harus istirahat. Ditambah lagi lelah sisa penerbangan yang belum sempat dilepas. Kalau dipikir-pikir di Indonesia sudah jam 02.00 dini hari. Setelah mencari makan malam, kami pun berstirahat.
Pagi hari di kota Wina tidak jauh berbeda dengan kota lain. Hanya saja perbedaannya pada jam kerja justru banyak orang yang bersantai menikmati matahari. Aneh, bukankah seharusnya mereka bekerja? Atau mungkin kota ini terlalu indah sehingga orang banyak yang melancong ke sini.
Wina sebagai kota tua memang memiliki banyak obyek wisata yang menarik dan mempunyai nila budaya dan sejarah yang tinggi. Situs KBRI Wina memberikan info detil tentang obyek wisata tersebut: Stephansdom (Gereja Katedral Stephanus) didirikan tahun 1137 selesai dibangun tahun 1455. Katedral berbentuk gotik ini terletak di pusat kota Wina. Di sekitar Katedral terdapat pusat pertokoan yang menjual pakaian, perhiasan, barang-barang kesenian dan souvenir. Letaknya tidak jauh dari istana Hofburg.
Ringstraße merupakan jalan lingkar sepanjang 6,5 km menglilingi pusat kota Wina (centrum) dahulu adalah pagar benteng kota Wina, yang kemudian pada tahun 1857 oleh Kaisar Franz Joseph dijadikan jalan. Schwedenplatz (lapangan Swedia) berada di seberang Danau Kanal di depannya terdapat Kantor OPEC. Di Kanal tsb terdapat restauran Kapal (berhenti) . Urania adalah gedung peneropong bintang.
Regierungsgebäude (Gedung Pemerintah) didepannya terdapat patung Jenderal Radetzky menunggang kuda. Stadtpark, di taman tersebut terdapat patung Komponis terkenal Johann Strauß Jr. dan Franz Schubert. Musikverein, adalah gedung Konser, diantaranya untuk grup musik "Wiener Philharmoniker", Karlskirche (Gereja Karolus) yang dibangun pada tahun 1716-1737 dengan gaya barok, sebagai rasa syukur atas berhentinya wabah pes. Didekat gereja tedapat Technische Universität. Staatsoper (Gedung Opera) dibangun tahun 1861-1869 yang hancur oleh bom pada Perang Dunia ke-2 dan kemudian dibangun kembali tahun 1948-1955. Kunstakademie adalah Akademi Senirupa dimana di dekatnya terdapat patung Pujangga Friedrich Schiller dan Wolfgang Goethe. Burggarten (Taman Istana) didalamnya terdapat patung Komponis terkenal Wolfgang Amadeus Mozart. Kunsthistorisches Museum (Museum Kesenian) , di dalamanya terdapat koleksi barang-barang kesenian, khususnya lukisan-lukisan.
Naturhistorisches Museum (Museum Alam) didalamnya terdapat koleksi binatang yang diawetkan dan tumbuh-tumbuhan serta batu-batuan. Gedung Parlemen dibangun tahun 1873-1883 adalah tempat sidangnya wakil-wakil rakyat yaitu Nationalrat (Dewan Nasional) dan Bundesrat (Dewan Federal). Rathaus (Balai Kota) didirikan tahun 1872-1883 adalah kantor Gubernur dan Parlemen Wina. Burgtheater (Teater Kerajaan) dibangun tahun 1874-1888 adalah tempat diadakannya sandiwara-sandiwara sastra klasik Jerman.
Universität Wien (Universitas Wina) didirikan tahun 1873-1883. Wina mempunyai Universitas sejak tahun 1365. Untuk yang hobi belanja, bisa langsung menuju ke Parndorf Designer Outlet Center berada di daerah 7111, sekitar 40 menit dari Wina. Transportasi harus dengan kendaraan pribadi melalui Autobahn A4 ke arah exit 43 Neusiedl am See.
Satu tempat yang sempat membuat kami terpana adalah istana musim panas kaisar yakni Istana Schönbrunn terletak di Wina Barat merupakan istana musim panas Kaisar Austria. Istana tersebut didirikan oleh Ratu Maria Theresia pada tahun 1744-1775. Sebagian dari Istana dijadikan museum. Dalam museum tersebut dipamerkan benda-benda peninggalan kerajaan Austria, seperti lukisan, pakaian dan alat-alat rumah tangga. Di dalam komplek istana tersebut terdapat taman, kebun binatang, hutan tanaman dan di atas bukit terdapat Gapura Gloriette. Pemandangan yang luar biasa. Kenangan yang membekas untuk hari terakhir kami di Wina.
(adp_Overseas Journey - Europe)
Sabtu, 18 Juli 2009
Freedom: Destination is Nothing, Journey is Everything
"Ya Allah janganlah Kau turunkan hujan dan selamatkan kami dari semua mara bahaya", doaku sesaat sebelum menyalakan sepeda motor dan berangkat menembus udara malam menuju Anyer.
Touring ke luar kota menggunakan sepeda motor bukanlah hal yang baru bagi para bikers terutama di saat liburan atau akhir pekan. Sayup terdengar Redemption Song Bob Marley dari salah satu scooter peserta mempertegas nuansa kebebasan di kalangan bikers.
Kalender akhir pekan pertama April 2007 menarik perhatian para bikers untuk melakukan touring tentu karena ada tanggal merah di situ. Kali ini PMC didukung oleh Pelumas Pertamina menggelar touring Enduro 4T Racing Anyer Tour 2007. Pesertanya tidak tanggung-tanggung, mencapai lebih dari 100 motor. Touring dilepas oleh Manajer Retail Marketing Pelumas Hasto Wibowo dari kantor pelumas di Simpruk, Jakarta.
Jalan malam bagi kelompok bikers dengan jumlah sedikit memang mengasyikan karena cuaca tidak panas dan relatif lancar. Situasi menjadi menegangkan bila jumlah motor lebih dari 30 buah apalagi mencapai lebih dari 100 sepeda motor. Tingkat risiko sangat tinggi. Aba-aba road captain tidak terlihat, banyaknya lobang di jalan dan yang paling penting kita harus pandai menjaga jarak dengan motor didepannya. Kondisi ini bertambah kesulitannya bila rasa kantuk menyerang. Sering terjadi jarak antar motor terlalu dekat sehingga berisiko terjadi tabrakan beruntun dan motor dapat saling berjatuhan. Untuk menyikapi hal ini, keandalan pengendara dan ketangguhan sepeda motor menjadi faktor utama yang harus diperhatikan.
Untuk sepeda motor, terutama mesinnya, para bikers peserta touring menggunakan pelumas Enduro 4T Racing. Otomatis keandalannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Anto, salah satu peserta, mengatakan bahwa dalam turing ini Enduro 4T Racing bagus. ”Tidak slip kopling, respon enak dan cepat, bahan bakar irit, tidak ada kendala di mesin, dan untuk mesing suaranya halus,” ujarnya. Ia mengakui bahwa dirinya memang mengharapkan Pertamina memproduksi oli dengan SAE 10W 40 karena ia biasanya pakai Prima XP atau Fastron. ”Kalau sekarang ada Enduro 4T 10W 40 saya akan pakai,” tegasnya mantap.
Dari beberapa kelompok motorist yang bergabung dengan rombongan PMC (Pertamina Motor Club) tampak sebuah 'gang' yang menamakan SOC (scooter owner club) atau lebih dikenal dengan sebutan Vespa Balaraja.
Kelompok ini mendesain Vespanya dengan beraneka bentuk ada yang memiliki side car berwarna loreng, Vespa dengan panjang mencapai lebih dari 2 meter, tidak dicat sehingga tampak sangat 'ugly'. Tidak pernah terbayang bahwa ada festival motor terjelek tiap tahunnya. Unik, sebuah motor yg dilengkapi dengan tape bak motor Harley tipe Road King. sesuai dengan bentuk motornya lagu2 "Song of Freedom" dari Bob Marley terdengar nyaring dari Vespa butut.
"Mas mohon maaf saya terpaksa mohon pamit karena akan menuju Palembang siang ini", demikian pamit pak Unang kepada kami. "Palembang ???? naik motor ini???", decak kagum penulis. Bagi kelompok ini memang penganut "destination is nothing, journey is everything".
Kota Lama Terlupakan
Perjalanan pulang tidak kalah serunya dibandingkan dengan perjalanan waktu berangkat menuju Anyer. Perjalanan kali ini meninggalkan banyak kesan bagi kami. Sejak dimulainya penggunaan jalan tol Jakarta Merak maka banyak kota yang tidak pernah kita singgahi bila kita akan bersantai di pantai Carita. Kota-kota tersebut pada jaman dulu terkenal karena macetnya. Simpul kemacetan terbentuk karena jalan ramai melewati pasar tumpah, terminal angkutan umum dan kadang juga stasiun kereta api. Kondisi jalan diperparah dengan lalu lalangnya truk besar dan container pengangkut barang.
Tigaraksa, Cikupa, dan Balaraja adalah kota-kota setelah kota Tangerang yang sarat dengan kemacetan. Aroma busuk dari pasar tradisional, debu beterbangan dan kemacetan mewarnai perjalanan di siang hari. Pada malam hari, suasana tidak begitu terasa hanya 'wangian' pasar tradisional masih tercium.
Kota- kota ini seakan manjadi kota tua yang terlupakan karena kita hanya kita baca pada papan petunjuk jalan berlatar belakang hijau di jalan tol. Namun bila kita mengendarai motor maka kita seakan kembali 'menemukan' kota terlupakan tersebut.
Anyer - Labuan
Warna biru laut, ombak putih, nyiur melambai yang memecah dipantai membuat perjalanan semakin indah menyenangkan. terlebih bila kita riding di pagi atau sore hari. Cahaya lembayung sore hari, udara pantai yang bersih yang melenakan. Pemandangan pantai memang tidak pernah membosankan.
Berbagai bentuk hotel dan villa mulai dari nuansa Bali, mediteranian, hingga bertemakan tradisional menghiasi kiri kanan jalan menuju Carita. Jalan sepi, mulus dan cukup lebar menambah kenyamanan bermotor ria sepanjang jalur ini.
Trayek Anyer Labuan memang merupakan rute yang paling favorit bagi para bikers. Alam ciptaan Illahi ini nampak tenang dan damai. Aroma laut yang kaya akan garam seakan membelai pori-pori tubuh. Biarkan helm kita terbuka agar wajah kita juga dibelai udara laut. Udara jernih lebih terasa melonggarkan pernafasan bila kita nikmati diatas sadel motor. Memang tidak salah ungkapan para bikers: "Suasana tampak indah dan berbeda bila dinikmati di atas sadel motor".
Labuan - Rangkas
Pemandangan pantai yang indah berubah menjadi alam dataran rendah perbukitan yang didominasi oleh kehadiran sawah menguning setelah melewati kota Labuan menuju Rangkasbitung. Trayek ini cukup bagus untuk dilewati karena jalan cukup lebar, berbukit, berkelok dan tidak terlalu ramai. sangat berbeda situasinya dibandingkan trayek Tangerang - Serang yang berdebu.
Walaupun jalur ini boleh dibilang mulus namun lagi-lagi harus waspada karena lobang jalanan kadang menjebak bagi para motorist. Labuan Rangkasbitung berjarak kurang lebih 58 Km. Bagi rombongan besar maka kecepatan disarankan tidak lebih dari 60 km/jam.
Rangkasbitung - Bogor
Perjalanan dari Anyer kembali ke Jakarta dimulai pukul 13.30 dengan memilih jalur tengah yaitu Carita, Labuan, Rangkasbitung, Bogor dan kembali ke Jakarta via Parung. Lepas kota Rangkasbitung sekitar pukul 5.00 sore hari. Mendung menggantung tetap membayangi perjalanan kali ini.
Jalanan tampak sepi dan mulai memasuki perkebunan kelapa sawit. Hanya rombongan PMC saja yang melewati wilayah pegunungan ini. Hujan gerimis masih turun sehingga membatasi jarak pandang. Jalan yang tampak mulus namun selalu menyediakan lobang dalam bagi yang tdk waspada.
Langit berwarna lembayung mulai menjadi lebih gelap dan gelap. Tampak bayangan pegunungan sekilas tersinari sisa cahaya mentari. Suasana tampak hening dan sedikit mencekam.
"Jalanan baru saja selesai diaspal, warnanya merah", demikian komentar Boim menceritakan pengalamannya. ini hanyalah sebuah joke karena sisa tanah merah melapisi aspal. Tanah merah ditambah hujan membuat perjalanan sangat berbahaya. "Ya Allah janganlah Kau turunkan hujan dan selamatkan kami dari semua mara bahaya", doaku. Bagi penulis kondisi ini bak jalan di lantai licin yang bersabun, sangat berbahaya. Motor sportster yang mempunyai berat hampir 200 kg terasa tidak stabil dan beberapa kali bergeser ketika melintasi tanah becek. kondisi ini diperparah kondisi rem belakang yang tidak berfungsi sejak lepas kota Labuan. bahkan sempat terseret ketika rem disc bagian belakang terlepas dari posisinya dan terseret di jalanan.
Sekilas masih terbaca jarak tempuh melalui patok di pinggir jalan 98 km lagi menuju Bogor. Patok demi patok kadang terbaca 74, 71, 60 km dan akhirnya patok-patok tersebut tidak terbaca lagi karena gelap menyelimuti perjalanan.
Di tengah hutan tersebut terlihat cahaya lampu kuning yang bearti lampu sebuah kota. penulis berharap inilah kota Jasinga tempat rombongan akan beristirahat. Ternyata setelah dekat lampu kuning hanya beberapa buah dan perjalanan baru mencapai kota kecil Cipanas. Setelah itu kembali memasuki wilayah hutan gelap lagi. Menjelang waktu Isya kembali terlihat cahaya kuning dari balik hutan. dan ternyata benar rombongan telah memasuki kota Jasinga. sebuah kota kecil di barat Bogor. Dari patok arah pinggir jalan, jarak menuju kota Bogor 43 km. walaupun sedikit mencekam, rombongan PMC beberapa kali berpapasan dengan kelompok motor yg akan menuju Rangkasbitung.
Perjalanan sangat berkesan. Sekali lagi "destination is nothing, journey is everything".
(adp_Petualangan)
Touring ke luar kota menggunakan sepeda motor bukanlah hal yang baru bagi para bikers terutama di saat liburan atau akhir pekan. Sayup terdengar Redemption Song Bob Marley dari salah satu scooter peserta mempertegas nuansa kebebasan di kalangan bikers.
Kalender akhir pekan pertama April 2007 menarik perhatian para bikers untuk melakukan touring tentu karena ada tanggal merah di situ. Kali ini PMC didukung oleh Pelumas Pertamina menggelar touring Enduro 4T Racing Anyer Tour 2007. Pesertanya tidak tanggung-tanggung, mencapai lebih dari 100 motor. Touring dilepas oleh Manajer Retail Marketing Pelumas Hasto Wibowo dari kantor pelumas di Simpruk, Jakarta.
Jalan malam bagi kelompok bikers dengan jumlah sedikit memang mengasyikan karena cuaca tidak panas dan relatif lancar. Situasi menjadi menegangkan bila jumlah motor lebih dari 30 buah apalagi mencapai lebih dari 100 sepeda motor. Tingkat risiko sangat tinggi. Aba-aba road captain tidak terlihat, banyaknya lobang di jalan dan yang paling penting kita harus pandai menjaga jarak dengan motor didepannya. Kondisi ini bertambah kesulitannya bila rasa kantuk menyerang. Sering terjadi jarak antar motor terlalu dekat sehingga berisiko terjadi tabrakan beruntun dan motor dapat saling berjatuhan. Untuk menyikapi hal ini, keandalan pengendara dan ketangguhan sepeda motor menjadi faktor utama yang harus diperhatikan.
Untuk sepeda motor, terutama mesinnya, para bikers peserta touring menggunakan pelumas Enduro 4T Racing. Otomatis keandalannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Anto, salah satu peserta, mengatakan bahwa dalam turing ini Enduro 4T Racing bagus. ”Tidak slip kopling, respon enak dan cepat, bahan bakar irit, tidak ada kendala di mesin, dan untuk mesing suaranya halus,” ujarnya. Ia mengakui bahwa dirinya memang mengharapkan Pertamina memproduksi oli dengan SAE 10W 40 karena ia biasanya pakai Prima XP atau Fastron. ”Kalau sekarang ada Enduro 4T 10W 40 saya akan pakai,” tegasnya mantap.
Dari beberapa kelompok motorist yang bergabung dengan rombongan PMC (Pertamina Motor Club) tampak sebuah 'gang' yang menamakan SOC (scooter owner club) atau lebih dikenal dengan sebutan Vespa Balaraja.
Kelompok ini mendesain Vespanya dengan beraneka bentuk ada yang memiliki side car berwarna loreng, Vespa dengan panjang mencapai lebih dari 2 meter, tidak dicat sehingga tampak sangat 'ugly'. Tidak pernah terbayang bahwa ada festival motor terjelek tiap tahunnya. Unik, sebuah motor yg dilengkapi dengan tape bak motor Harley tipe Road King. sesuai dengan bentuk motornya lagu2 "Song of Freedom" dari Bob Marley terdengar nyaring dari Vespa butut.
"Mas mohon maaf saya terpaksa mohon pamit karena akan menuju Palembang siang ini", demikian pamit pak Unang kepada kami. "Palembang ???? naik motor ini???", decak kagum penulis. Bagi kelompok ini memang penganut "destination is nothing, journey is everything".
Kota Lama Terlupakan
Perjalanan pulang tidak kalah serunya dibandingkan dengan perjalanan waktu berangkat menuju Anyer. Perjalanan kali ini meninggalkan banyak kesan bagi kami. Sejak dimulainya penggunaan jalan tol Jakarta Merak maka banyak kota yang tidak pernah kita singgahi bila kita akan bersantai di pantai Carita. Kota-kota tersebut pada jaman dulu terkenal karena macetnya. Simpul kemacetan terbentuk karena jalan ramai melewati pasar tumpah, terminal angkutan umum dan kadang juga stasiun kereta api. Kondisi jalan diperparah dengan lalu lalangnya truk besar dan container pengangkut barang.
Tigaraksa, Cikupa, dan Balaraja adalah kota-kota setelah kota Tangerang yang sarat dengan kemacetan. Aroma busuk dari pasar tradisional, debu beterbangan dan kemacetan mewarnai perjalanan di siang hari. Pada malam hari, suasana tidak begitu terasa hanya 'wangian' pasar tradisional masih tercium.
Kota- kota ini seakan manjadi kota tua yang terlupakan karena kita hanya kita baca pada papan petunjuk jalan berlatar belakang hijau di jalan tol. Namun bila kita mengendarai motor maka kita seakan kembali 'menemukan' kota terlupakan tersebut.
Anyer - Labuan
Warna biru laut, ombak putih, nyiur melambai yang memecah dipantai membuat perjalanan semakin indah menyenangkan. terlebih bila kita riding di pagi atau sore hari. Cahaya lembayung sore hari, udara pantai yang bersih yang melenakan. Pemandangan pantai memang tidak pernah membosankan.
Berbagai bentuk hotel dan villa mulai dari nuansa Bali, mediteranian, hingga bertemakan tradisional menghiasi kiri kanan jalan menuju Carita. Jalan sepi, mulus dan cukup lebar menambah kenyamanan bermotor ria sepanjang jalur ini.
Trayek Anyer Labuan memang merupakan rute yang paling favorit bagi para bikers. Alam ciptaan Illahi ini nampak tenang dan damai. Aroma laut yang kaya akan garam seakan membelai pori-pori tubuh. Biarkan helm kita terbuka agar wajah kita juga dibelai udara laut. Udara jernih lebih terasa melonggarkan pernafasan bila kita nikmati diatas sadel motor. Memang tidak salah ungkapan para bikers: "Suasana tampak indah dan berbeda bila dinikmati di atas sadel motor".
Labuan - Rangkas
Pemandangan pantai yang indah berubah menjadi alam dataran rendah perbukitan yang didominasi oleh kehadiran sawah menguning setelah melewati kota Labuan menuju Rangkasbitung. Trayek ini cukup bagus untuk dilewati karena jalan cukup lebar, berbukit, berkelok dan tidak terlalu ramai. sangat berbeda situasinya dibandingkan trayek Tangerang - Serang yang berdebu.
Walaupun jalur ini boleh dibilang mulus namun lagi-lagi harus waspada karena lobang jalanan kadang menjebak bagi para motorist. Labuan Rangkasbitung berjarak kurang lebih 58 Km. Bagi rombongan besar maka kecepatan disarankan tidak lebih dari 60 km/jam.
Rangkasbitung - Bogor
Perjalanan dari Anyer kembali ke Jakarta dimulai pukul 13.30 dengan memilih jalur tengah yaitu Carita, Labuan, Rangkasbitung, Bogor dan kembali ke Jakarta via Parung. Lepas kota Rangkasbitung sekitar pukul 5.00 sore hari. Mendung menggantung tetap membayangi perjalanan kali ini.
Jalanan tampak sepi dan mulai memasuki perkebunan kelapa sawit. Hanya rombongan PMC saja yang melewati wilayah pegunungan ini. Hujan gerimis masih turun sehingga membatasi jarak pandang. Jalan yang tampak mulus namun selalu menyediakan lobang dalam bagi yang tdk waspada.
Langit berwarna lembayung mulai menjadi lebih gelap dan gelap. Tampak bayangan pegunungan sekilas tersinari sisa cahaya mentari. Suasana tampak hening dan sedikit mencekam.
"Jalanan baru saja selesai diaspal, warnanya merah", demikian komentar Boim menceritakan pengalamannya. ini hanyalah sebuah joke karena sisa tanah merah melapisi aspal. Tanah merah ditambah hujan membuat perjalanan sangat berbahaya. "Ya Allah janganlah Kau turunkan hujan dan selamatkan kami dari semua mara bahaya", doaku. Bagi penulis kondisi ini bak jalan di lantai licin yang bersabun, sangat berbahaya. Motor sportster yang mempunyai berat hampir 200 kg terasa tidak stabil dan beberapa kali bergeser ketika melintasi tanah becek. kondisi ini diperparah kondisi rem belakang yang tidak berfungsi sejak lepas kota Labuan. bahkan sempat terseret ketika rem disc bagian belakang terlepas dari posisinya dan terseret di jalanan.
Sekilas masih terbaca jarak tempuh melalui patok di pinggir jalan 98 km lagi menuju Bogor. Patok demi patok kadang terbaca 74, 71, 60 km dan akhirnya patok-patok tersebut tidak terbaca lagi karena gelap menyelimuti perjalanan.
Di tengah hutan tersebut terlihat cahaya lampu kuning yang bearti lampu sebuah kota. penulis berharap inilah kota Jasinga tempat rombongan akan beristirahat. Ternyata setelah dekat lampu kuning hanya beberapa buah dan perjalanan baru mencapai kota kecil Cipanas. Setelah itu kembali memasuki wilayah hutan gelap lagi. Menjelang waktu Isya kembali terlihat cahaya kuning dari balik hutan. dan ternyata benar rombongan telah memasuki kota Jasinga. sebuah kota kecil di barat Bogor. Dari patok arah pinggir jalan, jarak menuju kota Bogor 43 km. walaupun sedikit mencekam, rombongan PMC beberapa kali berpapasan dengan kelompok motor yg akan menuju Rangkasbitung.
Perjalanan sangat berkesan. Sekali lagi "destination is nothing, journey is everything".
(adp_Petualangan)
Saat Uang Digantikan dengan Uap
Community Development secara sederhana bisa diartikan dengan bina lingkungan merupakan suatu kegiatan yang dila-kukan oleh badan usaha dalam memberikan nilai tambah kepada masyarakat dan lingkung-an di sekitar lokasi kegiatan usahanya. Dengan adanya nilai tambah tersebut diharapkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat dapat terangkat.
Program ini sebenarnya sangat jitu jika dikelola secara maskimal dan profesional. Dampak dari program community development memberikan hasil berupa nilai tambah yang tidak pernah terbayang sebelumnya.
Dalam prakteknya, community development sering diartikan dengan pembangunan atau perbaikan jalan, rumah ibadah, sekolah, dan lain-lain. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, karena tujuannya tetap untuk mense-jahterakan masyarkat sekitar. Dengan adanya jalan, rumah ibadah, dan fasilitas sekolah yang memadai otomatis akan dapat membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat, akti¬-vi¬¬tas ekonomi yang semakin maju dan dinamis, peluang mendapatkan masa depan yang lebih baik, dan lain sebagainya.
Tetapi semua kegiatan tersebut pasti mem-butuhkan anggaran yang jumlahnya tidak kecil. Dan pada akhirnya membawa community development kepada suatu pemahaman sempit yang selalu identik dengan memberikan “uang”.
BANGKIT DARI KRISIS
Mengurangi angka kemiskinan, mencipta-kan lapangan pekerjaan, meningkatkan daya beli rakyat, dan membangun kembali ekonomi Indonesia harus menjadi agenda khusus bagi seluruh elemen di negeri ini untuk bangkit dari krisis.
Semangatnya sama dengan program community development yang sudah dijalankan oleh entitas-entitas bisnis dan sebagian besar masyarakat sudah bisa merasakan hasilnya.
Pengembangan perekonomian rakyat bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi daerah yang ada. Seperti di Tomohon, Sulawesi Utara yang memiliki potensi aren yang cukup besar. Untuk memanfaatkan potensi aren yang dimilikinya, dibangunlah sebuah pabrik gula aren yang dikelola oleh Yayasan Masarang.
Pabrik yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Minggu (14/1) tersebut merupakan pabrik gula aren pertama di Indonesia dan pabrik gula aren pertama di dunia yang menggunakan energi panas bumi. Energi panas bumi dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar untuk proses pembu-atan gula aren.
Pertamina Area Geothermal Lahendong memasok uap panas bumi secara cuma-cuma untuk industri pabrik gula aren tersebut. Pasokan ini merupakan bentuk kontribusi Pertamina demi terciptanya pertumbuhan ekonomi dan memberikan dampak pening-katan kesejahteraan dan menurunkan angka pengangguran di sekitar area operasi.
Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Bambang Kustono menegaskan bahwa Pertamina memasok uap sebesar 4 ton per jam. “Ini merupakan community development Perta-mina,” ujarnya di Lahendong, Minggu (14/1).
Bambang Kustono menegaskan energi panas bumi tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Ia menjelaskan bahwa saat ini sudah mulai dilaksanakan pemanfaatan panas bumi untuk pemakaian langsung seperti pengeringan gula aren dan yang sedang dikembangkan adalah untuk mengeringkan kopra.
Dampak beroperasinya pabrik tersebut sudah dirasakan oleh 3.500 orang petani aren di Tomohon yang menjual hasil sadapannya ke pabrik gula aren Masarang.
Direktur Pabrik Gula Aren Masarang Albert K Mait mengatakan bahwa pabrik ini dapat didirikan karena ada akses kerjasama dengan Pertamina untuk pasokan uap panas bumi secara cuma-cuma. Keuntungan dari pe-manfaatan panas bumi yang dipasok Pertamina adalah pabrik tersebut dapat menghemat bahan bakar yang sangat besar dan membantu pelestarian lingkungan.
Menurutnya, untuk proses selama satu jam jika dilakukan secara tradisional bisa mengha-biskan 20 kilogram kayu bakar. Apalagi jika dikalikan sebanyak 3.500 petani anggota kami yang melakukan kegiatan tersebut secara serentak maka kayu bakar yang dibutuhkan bisa mencapai 7.000 kilogram per hari dan ini berpotensi merusak lingkungan. “Kita mensyukuri panas bumi dari Pertamina bisa membantu petani di Tomohon,” ujarnya.
Pabrik gula aren Masarang telah meng-ekspor produk perdana ke Amsterdam dengan jumlah 12,6 ton. Harga jual gula aren diperkirakan mencapai 96 ribu rupiah per kilogram.
Pabrik ini memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 2,5 ton per hari. Tetapi saat ini baru beroperasi satu ton per hari dengan 35 orang pekerja yang bekerja satu shift. Direktur Pabrik Gula Aren Masarang Albert K Mait mengatakan ke depan di-mungkinkan untuk beroperasi penuh dalam tiga shift kerja.
Community development yang dilakukan Pertamina Area Geothermal Lahendong telah membuahkan hasil yang sangat signifikan terhadap masyarakat Tomohon. Mulai dari pengurangan angka pengang-guran dan kemiskinan dengan adanya lapangan kerja baru, peningkatan penda-patan ekonomi setempat, serta pelestarian lingkungan hidup.
Melaksanakan community development memang harus fokus pada hasil akhir yang diharapkan dan tidak selamanya berarti memberikan sumbangan berupa uang. Pada kesempatan ini Pertamina telah membuk-tikan komitmennya terhadap lingkungan sekitar sekaligus memberi bukti bahwa dalam hal ini bantuan uang dapat digantikan dengan pasokan uap.
(adp_Feature Reportase)
Program ini sebenarnya sangat jitu jika dikelola secara maskimal dan profesional. Dampak dari program community development memberikan hasil berupa nilai tambah yang tidak pernah terbayang sebelumnya.
Dalam prakteknya, community development sering diartikan dengan pembangunan atau perbaikan jalan, rumah ibadah, sekolah, dan lain-lain. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, karena tujuannya tetap untuk mense-jahterakan masyarkat sekitar. Dengan adanya jalan, rumah ibadah, dan fasilitas sekolah yang memadai otomatis akan dapat membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat, akti¬-vi¬¬tas ekonomi yang semakin maju dan dinamis, peluang mendapatkan masa depan yang lebih baik, dan lain sebagainya.
Tetapi semua kegiatan tersebut pasti mem-butuhkan anggaran yang jumlahnya tidak kecil. Dan pada akhirnya membawa community development kepada suatu pemahaman sempit yang selalu identik dengan memberikan “uang”.
BANGKIT DARI KRISIS
Mengurangi angka kemiskinan, mencipta-kan lapangan pekerjaan, meningkatkan daya beli rakyat, dan membangun kembali ekonomi Indonesia harus menjadi agenda khusus bagi seluruh elemen di negeri ini untuk bangkit dari krisis.
Semangatnya sama dengan program community development yang sudah dijalankan oleh entitas-entitas bisnis dan sebagian besar masyarakat sudah bisa merasakan hasilnya.
Pengembangan perekonomian rakyat bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi daerah yang ada. Seperti di Tomohon, Sulawesi Utara yang memiliki potensi aren yang cukup besar. Untuk memanfaatkan potensi aren yang dimilikinya, dibangunlah sebuah pabrik gula aren yang dikelola oleh Yayasan Masarang.
Pabrik yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Minggu (14/1) tersebut merupakan pabrik gula aren pertama di Indonesia dan pabrik gula aren pertama di dunia yang menggunakan energi panas bumi. Energi panas bumi dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar untuk proses pembu-atan gula aren.
Pertamina Area Geothermal Lahendong memasok uap panas bumi secara cuma-cuma untuk industri pabrik gula aren tersebut. Pasokan ini merupakan bentuk kontribusi Pertamina demi terciptanya pertumbuhan ekonomi dan memberikan dampak pening-katan kesejahteraan dan menurunkan angka pengangguran di sekitar area operasi.
Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Bambang Kustono menegaskan bahwa Pertamina memasok uap sebesar 4 ton per jam. “Ini merupakan community development Perta-mina,” ujarnya di Lahendong, Minggu (14/1).
Bambang Kustono menegaskan energi panas bumi tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Ia menjelaskan bahwa saat ini sudah mulai dilaksanakan pemanfaatan panas bumi untuk pemakaian langsung seperti pengeringan gula aren dan yang sedang dikembangkan adalah untuk mengeringkan kopra.
Dampak beroperasinya pabrik tersebut sudah dirasakan oleh 3.500 orang petani aren di Tomohon yang menjual hasil sadapannya ke pabrik gula aren Masarang.
Direktur Pabrik Gula Aren Masarang Albert K Mait mengatakan bahwa pabrik ini dapat didirikan karena ada akses kerjasama dengan Pertamina untuk pasokan uap panas bumi secara cuma-cuma. Keuntungan dari pe-manfaatan panas bumi yang dipasok Pertamina adalah pabrik tersebut dapat menghemat bahan bakar yang sangat besar dan membantu pelestarian lingkungan.
Menurutnya, untuk proses selama satu jam jika dilakukan secara tradisional bisa mengha-biskan 20 kilogram kayu bakar. Apalagi jika dikalikan sebanyak 3.500 petani anggota kami yang melakukan kegiatan tersebut secara serentak maka kayu bakar yang dibutuhkan bisa mencapai 7.000 kilogram per hari dan ini berpotensi merusak lingkungan. “Kita mensyukuri panas bumi dari Pertamina bisa membantu petani di Tomohon,” ujarnya.
Pabrik gula aren Masarang telah meng-ekspor produk perdana ke Amsterdam dengan jumlah 12,6 ton. Harga jual gula aren diperkirakan mencapai 96 ribu rupiah per kilogram.
Pabrik ini memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 2,5 ton per hari. Tetapi saat ini baru beroperasi satu ton per hari dengan 35 orang pekerja yang bekerja satu shift. Direktur Pabrik Gula Aren Masarang Albert K Mait mengatakan ke depan di-mungkinkan untuk beroperasi penuh dalam tiga shift kerja.
Community development yang dilakukan Pertamina Area Geothermal Lahendong telah membuahkan hasil yang sangat signifikan terhadap masyarakat Tomohon. Mulai dari pengurangan angka pengang-guran dan kemiskinan dengan adanya lapangan kerja baru, peningkatan penda-patan ekonomi setempat, serta pelestarian lingkungan hidup.
Melaksanakan community development memang harus fokus pada hasil akhir yang diharapkan dan tidak selamanya berarti memberikan sumbangan berupa uang. Pada kesempatan ini Pertamina telah membuk-tikan komitmennya terhadap lingkungan sekitar sekaligus memberi bukti bahwa dalam hal ini bantuan uang dapat digantikan dengan pasokan uap.
(adp_Feature Reportase)
Temulawak
Temulawak bagi kebanyakan orang Indonesia bukanlah barang baru. Tanaman umbi yang berkhasiat ini telah lama dikenal oleh masyarakat dan dikonsumsi sebagai jamu. Di masa kanak-kanak teringat pembicaraan orang tua jika kita sulit makan. ”Cekokin temu lawak saja,” kata orang tua yang lain memberikan solusi.
Selain itu, seorang rekan yang baru saja pulih dari gangguan fungsi hati yang dideritanya juga mengkonsumsi temulawak. “Banyak orang yang bilang temulawak bagus untuk memperbaiki fungsi hati,” ujarnya.
Jika bicara soal rasa temulawak tentunya banyak pendapat yang terucap. Ada yang mengatakan enak tetapi juga ada yang mengatakan sebaliknya. Ini semua tergantung bagaimana cara memproses dan menyajikannya. Namun jika dari sisi khasiat, mayoritas konsumen sepakat mengacungkan jempol untuk obat tradisional ini. Sebenarnya apa sih temulawak itu, dan sedahsyat apa khasiat yang dimilikinya?
Temulawak yang memiliki nama latin Curcuma Xanthorhiza Roxb ini sejak lama dikenal masyarakat sebagai tanaman umbi yang mampu menambah nafsu makan. Kandungan di dalam temulawak memang banyak ragamnya. Untuk urusan meningkatkan nafsu makan, pakar obat-obatan tradisional seperti dikutip Koran Tempo, 4 Januari 2006 mengatakan bahwa zat yang bernama minyak atsiri, dikenal memiliki bau dan rasa khas temulawak, merupakan zat yang mampu meningkatkan nafsu makan. Sumber lain menulis bahwa minyak atsiri juga bisa membunuh mikroba. Buahnya mengandung minyak terbang (anetol, pinen, felandren, dipenten, fenchon, metilchavikol, anisaldehida, asam anisat, kamfer), dan minyak lemak.
Fungsi lain dari temulawak adalah menjadi hepato protector alias mengatasi kerusakan fungsi hati. Beberapa orang teman yang pernah mengalami gangguan fungsi hati mengeluhkan tentang penyakit ini. Gangguan fungsi hati (lever) adalah penyakit yang tidak mengenakkan dan serba salah. Karena banyak hal yang harus diatur dengan seksama dari mulai aktivitas hingga asupan makanan dan minuman. Bahkan, keluhan yang seringkali kita rasakan seperti badan terasa lesu dan tidak bersemangat di siang hari, sulit tidur di malam hari, keluhan di pencernaan seperti sakit maag, demam dan mual, bisa jadi merupakan indikasi adanya gangguan pada fungsi hati kita.
Seorang guru besar Universitas Padjajaran di Bandung sebagaimana dikutip suratkabar harian Sinar Harapan mengungkapkan kemujaraban temulawak sebagai hepato protector berdasarkan hasil penelitian. Temulawak juga terbukti bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan sel hati. Dari penelitian, ditemukan bahwa khasiat temulawak ini berada dalam kandungan kurkumin, zat yang berguna untuk menjaga dan menyehatkan hati (lever), dan mencegah hepatitis B dan risiko kanker hati.
Sumber lain mengutip bahwa kurkumin yang terdapat pada rimpang tumbuhan ini bermanfaat sebagai acnevulgaris, di samping sebagai anti inflamasi (anti radang) antioksidan, anti hepototoksik (anti keracunan empedu) dan antitumor. Seperti dikutip dari berbagai sumber, komposisi kimia dari rimpang temulawak adalah protein pati sebesar 29-30 persen, kurkumin satu sampai dua persen, dan minyak asiri antara enam hingga sepuluh persen.
Temulawak juga memiliki kekuatan untuk mengobati kanker dalam stadium dini. Temulawak juga berkhasiat menghilangkan rasa nyeri dan sakit karena kanker. Seorang herbalis Yellia Mangan menulis dalam bukunya yang berjudul Cara Bijak Menangani Kanker tentang keampuhan temulawak. Menurutnya, ramuan temulawak ini dapat dikonsumsi jika penyakit masih dalam stadium dini. Namun, katanya, jika selama dua bulan tidak kunjung membaik maka ia menganjurkan agar pasien berkonsultasi dengan dokter atau ahli yang lebih berpengalaman.
Yellia mengatakan bahwa ramuan temulawak untuk mengobati kanker dapat diminum segera setelah menjalani operasi pengangkatan kanker dan radiasi. Ini, katanya, dimaksudkan untuk memutuskan rantai sel kanker yang mungkin masih tertinggal. Tambahnya lagi, ramuan temulawak dapat diminum setelah dua minggu sejak kemoterapi dilakukan. Bila dokter memberikan obat, tambahnya, ramuan sebaiknya diminum dua jam sebelum atau setelah mengonsumsi obat dokter.
Setelah memahami khasiatnya, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara mengolahnya. Kabelan Kunia, M. Si., dari Pusat Bioteknologi ITB sebagaimana dituliskan pada harian Pikiran Rakyat mengatakan bahwa penggunaan temulawak pada prinsipnya sama dengan kunyit maupun kencur, yaitu diparut dan diambil airnya. Sedikit ada beberapa penambahan komponen untuk penyakit tertentu. Pada gangguan ginjal untuk satu rimpang temulawak, ditambahkan segenggam daun kumis kucing dan segenggam daun meniran dengan empat gelas air, direbus sampai tinggal setengahnya. Diminum tiga kali sehari. Untuk menambah nafsu makan bisa dicampur juga dengan rimpang lengkuas. Sedang untuk memperbaiki rasa bisa ditambah gula aren, asem atau jeruk nipis sesuai selera.
Kehidupan dan Budidaya Temulawak
Bicara tentang temulawak tentu kita perlu mengetahui cara budidayanya. Temulawak adalah tumbuhan asli Indonesia, tetapi penyebarannya hanya terbatas di Jawa, Maluku, dan Kalimantan. Sebagai tanaman obat, temulawak biasa dibudidayakan orang dan menjadi salah satu komoditas pertanian. Namanya pun beranekaragam, seperti di Jawa Barat, temulawak dikenal dengan nama koneng gede. Dalam bahasa Jawa dan di Madura disebutnya temulabak.
Temulawak termasuk dalam keluarga Zingibereaceae banyak ditemukan di hutan-hutan daerah tropis. Temulawak juga berkembang biak di tanah tegalan sekitar permukiman, terutama pada tanah gembur, sehingga buah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar. Temulawak termasuk jenis tumbuh-tumbuhan herba yang batang pohonnya berbentuk batang semu dan tingginya dapat mencapai dua meter. Daunnya lebar dan pada setiap helaian dihubungkan dengan pelapah dan tangkai daun yang agak panjang.
Temulawak mempunyai bunga yang berbentuk unik (bergerombol) dan berwarna kuning tua. Rimpang temulawak sejak lama dikenal sebagai bahan ramuan obat. Aroma dan warna khas dari rimpang temulawak adalah berbau tajam dan daging buahnya berwarna kekuning-kuningan. Daerah tumbuhnya selain di dataran rendah juga dapat tumbuh baik sampai pada ketinggian tanah 1.500 meter di atas permukaan laut.
(adp_Feature Umum)
Selain itu, seorang rekan yang baru saja pulih dari gangguan fungsi hati yang dideritanya juga mengkonsumsi temulawak. “Banyak orang yang bilang temulawak bagus untuk memperbaiki fungsi hati,” ujarnya.
Jika bicara soal rasa temulawak tentunya banyak pendapat yang terucap. Ada yang mengatakan enak tetapi juga ada yang mengatakan sebaliknya. Ini semua tergantung bagaimana cara memproses dan menyajikannya. Namun jika dari sisi khasiat, mayoritas konsumen sepakat mengacungkan jempol untuk obat tradisional ini. Sebenarnya apa sih temulawak itu, dan sedahsyat apa khasiat yang dimilikinya?
Temulawak yang memiliki nama latin Curcuma Xanthorhiza Roxb ini sejak lama dikenal masyarakat sebagai tanaman umbi yang mampu menambah nafsu makan. Kandungan di dalam temulawak memang banyak ragamnya. Untuk urusan meningkatkan nafsu makan, pakar obat-obatan tradisional seperti dikutip Koran Tempo, 4 Januari 2006 mengatakan bahwa zat yang bernama minyak atsiri, dikenal memiliki bau dan rasa khas temulawak, merupakan zat yang mampu meningkatkan nafsu makan. Sumber lain menulis bahwa minyak atsiri juga bisa membunuh mikroba. Buahnya mengandung minyak terbang (anetol, pinen, felandren, dipenten, fenchon, metilchavikol, anisaldehida, asam anisat, kamfer), dan minyak lemak.
Fungsi lain dari temulawak adalah menjadi hepato protector alias mengatasi kerusakan fungsi hati. Beberapa orang teman yang pernah mengalami gangguan fungsi hati mengeluhkan tentang penyakit ini. Gangguan fungsi hati (lever) adalah penyakit yang tidak mengenakkan dan serba salah. Karena banyak hal yang harus diatur dengan seksama dari mulai aktivitas hingga asupan makanan dan minuman. Bahkan, keluhan yang seringkali kita rasakan seperti badan terasa lesu dan tidak bersemangat di siang hari, sulit tidur di malam hari, keluhan di pencernaan seperti sakit maag, demam dan mual, bisa jadi merupakan indikasi adanya gangguan pada fungsi hati kita.
Seorang guru besar Universitas Padjajaran di Bandung sebagaimana dikutip suratkabar harian Sinar Harapan mengungkapkan kemujaraban temulawak sebagai hepato protector berdasarkan hasil penelitian. Temulawak juga terbukti bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan sel hati. Dari penelitian, ditemukan bahwa khasiat temulawak ini berada dalam kandungan kurkumin, zat yang berguna untuk menjaga dan menyehatkan hati (lever), dan mencegah hepatitis B dan risiko kanker hati.
Sumber lain mengutip bahwa kurkumin yang terdapat pada rimpang tumbuhan ini bermanfaat sebagai acnevulgaris, di samping sebagai anti inflamasi (anti radang) antioksidan, anti hepototoksik (anti keracunan empedu) dan antitumor. Seperti dikutip dari berbagai sumber, komposisi kimia dari rimpang temulawak adalah protein pati sebesar 29-30 persen, kurkumin satu sampai dua persen, dan minyak asiri antara enam hingga sepuluh persen.
Temulawak juga memiliki kekuatan untuk mengobati kanker dalam stadium dini. Temulawak juga berkhasiat menghilangkan rasa nyeri dan sakit karena kanker. Seorang herbalis Yellia Mangan menulis dalam bukunya yang berjudul Cara Bijak Menangani Kanker tentang keampuhan temulawak. Menurutnya, ramuan temulawak ini dapat dikonsumsi jika penyakit masih dalam stadium dini. Namun, katanya, jika selama dua bulan tidak kunjung membaik maka ia menganjurkan agar pasien berkonsultasi dengan dokter atau ahli yang lebih berpengalaman.
Yellia mengatakan bahwa ramuan temulawak untuk mengobati kanker dapat diminum segera setelah menjalani operasi pengangkatan kanker dan radiasi. Ini, katanya, dimaksudkan untuk memutuskan rantai sel kanker yang mungkin masih tertinggal. Tambahnya lagi, ramuan temulawak dapat diminum setelah dua minggu sejak kemoterapi dilakukan. Bila dokter memberikan obat, tambahnya, ramuan sebaiknya diminum dua jam sebelum atau setelah mengonsumsi obat dokter.
Setelah memahami khasiatnya, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara mengolahnya. Kabelan Kunia, M. Si., dari Pusat Bioteknologi ITB sebagaimana dituliskan pada harian Pikiran Rakyat mengatakan bahwa penggunaan temulawak pada prinsipnya sama dengan kunyit maupun kencur, yaitu diparut dan diambil airnya. Sedikit ada beberapa penambahan komponen untuk penyakit tertentu. Pada gangguan ginjal untuk satu rimpang temulawak, ditambahkan segenggam daun kumis kucing dan segenggam daun meniran dengan empat gelas air, direbus sampai tinggal setengahnya. Diminum tiga kali sehari. Untuk menambah nafsu makan bisa dicampur juga dengan rimpang lengkuas. Sedang untuk memperbaiki rasa bisa ditambah gula aren, asem atau jeruk nipis sesuai selera.
Kehidupan dan Budidaya Temulawak
Bicara tentang temulawak tentu kita perlu mengetahui cara budidayanya. Temulawak adalah tumbuhan asli Indonesia, tetapi penyebarannya hanya terbatas di Jawa, Maluku, dan Kalimantan. Sebagai tanaman obat, temulawak biasa dibudidayakan orang dan menjadi salah satu komoditas pertanian. Namanya pun beranekaragam, seperti di Jawa Barat, temulawak dikenal dengan nama koneng gede. Dalam bahasa Jawa dan di Madura disebutnya temulabak.
Temulawak termasuk dalam keluarga Zingibereaceae banyak ditemukan di hutan-hutan daerah tropis. Temulawak juga berkembang biak di tanah tegalan sekitar permukiman, terutama pada tanah gembur, sehingga buah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar. Temulawak termasuk jenis tumbuh-tumbuhan herba yang batang pohonnya berbentuk batang semu dan tingginya dapat mencapai dua meter. Daunnya lebar dan pada setiap helaian dihubungkan dengan pelapah dan tangkai daun yang agak panjang.
Temulawak mempunyai bunga yang berbentuk unik (bergerombol) dan berwarna kuning tua. Rimpang temulawak sejak lama dikenal sebagai bahan ramuan obat. Aroma dan warna khas dari rimpang temulawak adalah berbau tajam dan daging buahnya berwarna kekuning-kuningan. Daerah tumbuhnya selain di dataran rendah juga dapat tumbuh baik sampai pada ketinggian tanah 1.500 meter di atas permukaan laut.
(adp_Feature Umum)
Rebana
Budaya Melayu tampaknya tak terpisahkan dari kehadiran alat musik tabuh rebana. Kehadirannya kerap mengisi kemeriahan dalam setiap perhelatan akbar yang sarat dengan nuansa Islami, misalnya hari-hari raya keagamaan, pernikahan, khitanan dan acara lainnya. Bahkan, rebana telah menjadi suatu cabang seni budaya melayu yang sering diperlombakan.
Di dunia pendidikan, bagi siswa yang bersekolah di institusi pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam, kesenian rebana biasanya sudah masuk ke dalam salah satu kurikulum atau kegiatan ekstra para santrinya.
Rebana berasal dari perkataan Sansekerta yaitu “reba”. Rebana terdiri daripada baluh yang diperbuat daripada kayu yang memiliki lubang yang besar. Satu daripada bahagian lubang tersebut ditutup dengan kulit.
Rebana biasanya dimainkan oleh sekelompok musisi yang terdiri dari empat hingga delapan orang yang memainkan irama yang harmonis. Pada sebagian daerah, para penabuh rebana ada juga yang menggunakan tongkat rotan kecil sebagai alat tabuhnya, dengan tujuan untuk mendapatkan suara yang lebih perkusif.
Keberadaan rebana di antara masyarakat Ibukota hingga saat ini masih tetap eksis. Jika anda sempat mengunjungi beberapa daerah yang kental dengan nuansa Melayu dan Islam di Jakarta, salah satu contohnya wilayah Tebet, Kampung Melayu, suara musik ini sudah tidak asing lagi. Para remaja masjid kerap melakukan latihan rebana sebagai persiapan untuk mengisi acara-acara keagamaan di kampungnya.
Kehadiran rebana di tengah masyarakat dan menjadi catatan dalam sejarah Islam sudah cukup lama. Di masa lalu, rebana dan gendang kerap kali digunakan untuk membangkitkan semangat perjuangan para pejuang Islam.
Rebana bentuknya menyerupai tamborin, hanya saja jenis kulit yang digunakan lebih tebal. Secara fisik, rebana tidak jauh berbeda dengan instrumen perkusi lainnya yang sejenis seperti gendang. Bahan bakunya terdiri dari kayu mangga dan kulit kambing.
Prosesnya tampak sederhana, namun diperlukan keahlian yang luar biasa. Pembuatan diawali dengan memotong kayu pohon mangga gelondongan kira-kira setebal 10 cm. Selanjutnya, kayu tersebut dibubut dan dibentuk menjadi mangkuk berlubang ganda. Masing-masing rebana memiliki ukuran diameter yang berbeda. Dimulai dari ukuran 6 inchi untuk suara tinggi hingga 14 inchi yang dapat menghasilkan suara yang lebih rendah.
Kayu-kayu tersebut selanjutnya disimpan di tempat yang kering untuk menunggu proses berikutnya. Jika dikerjakan oleh satu orang, dari proses pembubutan ini bisa dihasilkan sekitar 25 sampai 30 kayu rebana perhari. Subroto (55), pembuat kayu rebana, menjelaskan bahwa pekerjaan memproduksi kayu ini biasanya bersifat borongan. Ongkos pembuatannya berada pada kisaran Rp 1.750,- per buahnya.
Untuk kulitnya digunakan bahan dasar kulit kambing. Kulit ini dibeli dari pedagang kulit hewan potong yang sudah menjadi langganan mereka. Kulit ini selanjutnya dicuci dan direndam dalam air kapur. Tujuannya supaya bulu-bulu kambing mudah rontok. Proses ini memakan waktu sekitar dua sampai tiga hari.
Setelah melalui tahap tersebut, bulu yang berada pada kulit kambing dikerok hingga bersih. Kemudian, kulit dicuci kembali dan dijemur hinnga kering. Tak jauh berbeda dengan proses membuat baju, kulit tersebut selanjutnya diberi pola dan dipotong sesuai keperluan dan dipasang pada potongan mangkuk kayu mangga yang sudah disiapkan. Biasanya, untuk satu lembar kulit kambing berukuran normal bisa digunakan untuk membuat 4 buah rebana ukuran 12 inchi.
Pada proses pemasangan ini dilakukan penyetelan nada rebana. Yesri (31), seorang pengerajin rebana di Medan mengatakan bahwa untuk membuat alat musik ini diperlukan jam terbang yang tinggi. “Terutama bagian stel nada,” katanya.
Para pengrajin rebana yang bergabung dengan UD Rebana milik Said Aldi Al Idrus adalah orang-orang yang memiliki skill cukup lumayan. Untuk melakukan stel nada rebana, mereka mengandalkan feeling yang lumayan tajam. Caranya, kata Yesri, mereka mengukur regangan kulit dengan menekan kulit tersebut menggunakan ujung jari. Apabila regangannya sudah cukup maka nada yang diinginkan sudah didapat. “Ilmu ini didapat dari Paman Said dari Malaysia yang sudah ahli dibidang ini,” katanya. Terakhir dilakukan proses finishing.
Dalam satu hari mereka mampu memproduksi enam puluh sampai delapan puluh buah per harinya. Padahal pekerjanya hanya sekitar delapan orang. “Itu sudah sampai produk jadi dan siap pakai, lho,” jelasnya.
UD Rebana berlokasi di daerah Perumnas Mandala, Percut Saituan, Deli Serdang, Sumatera Utara. Usaha pembuatan rebana ini sudah berjalan cukup lama yakni lima belas tahun.
Yesri menceritakan bahwa awalnya usaha ini dirintis oleh Said (pemilik) dari tingkat distribusi. Selanjutnya, sekitar dua sampai tiga tahun mulai berkembang ke tingkat selanjutnya yakni pembuatan rebana dalam jumlah besar.
Selain rebana, UD Rebana juga memproduksi Ronggeng Melayu, alat musik sejenis rebana dalam ukuran yang lebih besar. Ukurannya bisa dua sampai tiga kali rebana biasa. Jika diperhatikan, bentuk fisiknya justru lebih mendekati gendang daripada rebana. Untuk pembuatan Ronggeng ini dipekerjakan tujuh orang pengerajin dan mampu menghasilkan 10 sampai 12 buah per harinya. Ronggeng dibuat dengan menggunakan kayu pohon kelapa sebagai bahan dasarnya.
Dalam hal pemasaran, rebana produk dalam negeri ini sudah dapat dikatakan cukup membanggakan. Di Sumatera Utara sendiri mereka memasarkannya di wilayah Pakam, Perbaungan, dan Pantai Cermin. “Di Pantai Cermin kami punya toko,” kata Yesri.
Selain memasok pasar domestik, UD Rebana setiap minggu mengirimkan sebagian besar produknya ke Kuala Lumpur, Malaysia. Jumlahnya tergantung pesanan dari konsumen. Selain itu, mereka juga memasarkan produk ini ke negara-negara tetangga seperti Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand.
Omset yang bisa didapat dari usaha ini lumayan besar. Rita (28) istri dari pemilik UD Rebana Said Aldi Al Idrus menjelaskan bahwa pada saat-saat normal, omset mereka bisa mencapai sekitar Rp. 100 juta per bulan. Bahkan yang lebih luar biasa, menurutnya, di saat ramai bisa meningkat tajam hingga Rp. 200 juta sampai Rp. 250 juta per bulan. Tetapi Rita juga menambahkan bahwa tidak tertutup kemungkinan bagi usahanya untuk hanya mengantongi omset sekitar Rp. 10 juta sampai Rp. 15 juta per bulan di masa-masa sepi pesanan.
Berdasarkan pengalaman, pesanan ramai biasanya pada saat musim ujian sekolah di Malaysia atau pada musim acara keagamaan seperti perayaan Hari Raya Idul Fitri, Maulid Nabi dan lain-lain. “Kadang ada kalanya orang memesan rebana untuk souvenir saja,” katanya.
Untuk membantu perkembangan usahanya, Rita mendapatkan pinjaman lunak dari PKBL Pertamina UPms I Medan sebesar 50 juta rupiah. Pinjaman ini baru berjalan sekitar tiga bulan sejak awal tahun 2005 dengan jangka waktu tiga tahun.
Rita mengatakan bahwa perhatian Pertamina kepada kemajuan usahanya ini sangat berarti baginya karena dapat dimanfaatkan untuk membantu mengembangkan usahanya di masa mendatang.
Dari usaha ini, Said sang pemilik, telah beberapa kali dianugerahi sebagai Pemuda Pelopor Nasional tingkat Provinsi Sumatera Utara. Bahkan pada 2004 yang lalu dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor tingkat Nasional yang diserahkan oleh Presiden RI.
(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2005)
Di dunia pendidikan, bagi siswa yang bersekolah di institusi pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam, kesenian rebana biasanya sudah masuk ke dalam salah satu kurikulum atau kegiatan ekstra para santrinya.
Rebana berasal dari perkataan Sansekerta yaitu “reba”. Rebana terdiri daripada baluh yang diperbuat daripada kayu yang memiliki lubang yang besar. Satu daripada bahagian lubang tersebut ditutup dengan kulit.
Rebana biasanya dimainkan oleh sekelompok musisi yang terdiri dari empat hingga delapan orang yang memainkan irama yang harmonis. Pada sebagian daerah, para penabuh rebana ada juga yang menggunakan tongkat rotan kecil sebagai alat tabuhnya, dengan tujuan untuk mendapatkan suara yang lebih perkusif.
Keberadaan rebana di antara masyarakat Ibukota hingga saat ini masih tetap eksis. Jika anda sempat mengunjungi beberapa daerah yang kental dengan nuansa Melayu dan Islam di Jakarta, salah satu contohnya wilayah Tebet, Kampung Melayu, suara musik ini sudah tidak asing lagi. Para remaja masjid kerap melakukan latihan rebana sebagai persiapan untuk mengisi acara-acara keagamaan di kampungnya.
Kehadiran rebana di tengah masyarakat dan menjadi catatan dalam sejarah Islam sudah cukup lama. Di masa lalu, rebana dan gendang kerap kali digunakan untuk membangkitkan semangat perjuangan para pejuang Islam.
Rebana bentuknya menyerupai tamborin, hanya saja jenis kulit yang digunakan lebih tebal. Secara fisik, rebana tidak jauh berbeda dengan instrumen perkusi lainnya yang sejenis seperti gendang. Bahan bakunya terdiri dari kayu mangga dan kulit kambing.
Prosesnya tampak sederhana, namun diperlukan keahlian yang luar biasa. Pembuatan diawali dengan memotong kayu pohon mangga gelondongan kira-kira setebal 10 cm. Selanjutnya, kayu tersebut dibubut dan dibentuk menjadi mangkuk berlubang ganda. Masing-masing rebana memiliki ukuran diameter yang berbeda. Dimulai dari ukuran 6 inchi untuk suara tinggi hingga 14 inchi yang dapat menghasilkan suara yang lebih rendah.
Kayu-kayu tersebut selanjutnya disimpan di tempat yang kering untuk menunggu proses berikutnya. Jika dikerjakan oleh satu orang, dari proses pembubutan ini bisa dihasilkan sekitar 25 sampai 30 kayu rebana perhari. Subroto (55), pembuat kayu rebana, menjelaskan bahwa pekerjaan memproduksi kayu ini biasanya bersifat borongan. Ongkos pembuatannya berada pada kisaran Rp 1.750,- per buahnya.
Untuk kulitnya digunakan bahan dasar kulit kambing. Kulit ini dibeli dari pedagang kulit hewan potong yang sudah menjadi langganan mereka. Kulit ini selanjutnya dicuci dan direndam dalam air kapur. Tujuannya supaya bulu-bulu kambing mudah rontok. Proses ini memakan waktu sekitar dua sampai tiga hari.
Setelah melalui tahap tersebut, bulu yang berada pada kulit kambing dikerok hingga bersih. Kemudian, kulit dicuci kembali dan dijemur hinnga kering. Tak jauh berbeda dengan proses membuat baju, kulit tersebut selanjutnya diberi pola dan dipotong sesuai keperluan dan dipasang pada potongan mangkuk kayu mangga yang sudah disiapkan. Biasanya, untuk satu lembar kulit kambing berukuran normal bisa digunakan untuk membuat 4 buah rebana ukuran 12 inchi.
Pada proses pemasangan ini dilakukan penyetelan nada rebana. Yesri (31), seorang pengerajin rebana di Medan mengatakan bahwa untuk membuat alat musik ini diperlukan jam terbang yang tinggi. “Terutama bagian stel nada,” katanya.
Para pengrajin rebana yang bergabung dengan UD Rebana milik Said Aldi Al Idrus adalah orang-orang yang memiliki skill cukup lumayan. Untuk melakukan stel nada rebana, mereka mengandalkan feeling yang lumayan tajam. Caranya, kata Yesri, mereka mengukur regangan kulit dengan menekan kulit tersebut menggunakan ujung jari. Apabila regangannya sudah cukup maka nada yang diinginkan sudah didapat. “Ilmu ini didapat dari Paman Said dari Malaysia yang sudah ahli dibidang ini,” katanya. Terakhir dilakukan proses finishing.
Dalam satu hari mereka mampu memproduksi enam puluh sampai delapan puluh buah per harinya. Padahal pekerjanya hanya sekitar delapan orang. “Itu sudah sampai produk jadi dan siap pakai, lho,” jelasnya.
UD Rebana berlokasi di daerah Perumnas Mandala, Percut Saituan, Deli Serdang, Sumatera Utara. Usaha pembuatan rebana ini sudah berjalan cukup lama yakni lima belas tahun.
Yesri menceritakan bahwa awalnya usaha ini dirintis oleh Said (pemilik) dari tingkat distribusi. Selanjutnya, sekitar dua sampai tiga tahun mulai berkembang ke tingkat selanjutnya yakni pembuatan rebana dalam jumlah besar.
Selain rebana, UD Rebana juga memproduksi Ronggeng Melayu, alat musik sejenis rebana dalam ukuran yang lebih besar. Ukurannya bisa dua sampai tiga kali rebana biasa. Jika diperhatikan, bentuk fisiknya justru lebih mendekati gendang daripada rebana. Untuk pembuatan Ronggeng ini dipekerjakan tujuh orang pengerajin dan mampu menghasilkan 10 sampai 12 buah per harinya. Ronggeng dibuat dengan menggunakan kayu pohon kelapa sebagai bahan dasarnya.
Dalam hal pemasaran, rebana produk dalam negeri ini sudah dapat dikatakan cukup membanggakan. Di Sumatera Utara sendiri mereka memasarkannya di wilayah Pakam, Perbaungan, dan Pantai Cermin. “Di Pantai Cermin kami punya toko,” kata Yesri.
Selain memasok pasar domestik, UD Rebana setiap minggu mengirimkan sebagian besar produknya ke Kuala Lumpur, Malaysia. Jumlahnya tergantung pesanan dari konsumen. Selain itu, mereka juga memasarkan produk ini ke negara-negara tetangga seperti Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand.
Omset yang bisa didapat dari usaha ini lumayan besar. Rita (28) istri dari pemilik UD Rebana Said Aldi Al Idrus menjelaskan bahwa pada saat-saat normal, omset mereka bisa mencapai sekitar Rp. 100 juta per bulan. Bahkan yang lebih luar biasa, menurutnya, di saat ramai bisa meningkat tajam hingga Rp. 200 juta sampai Rp. 250 juta per bulan. Tetapi Rita juga menambahkan bahwa tidak tertutup kemungkinan bagi usahanya untuk hanya mengantongi omset sekitar Rp. 10 juta sampai Rp. 15 juta per bulan di masa-masa sepi pesanan.
Berdasarkan pengalaman, pesanan ramai biasanya pada saat musim ujian sekolah di Malaysia atau pada musim acara keagamaan seperti perayaan Hari Raya Idul Fitri, Maulid Nabi dan lain-lain. “Kadang ada kalanya orang memesan rebana untuk souvenir saja,” katanya.
Untuk membantu perkembangan usahanya, Rita mendapatkan pinjaman lunak dari PKBL Pertamina UPms I Medan sebesar 50 juta rupiah. Pinjaman ini baru berjalan sekitar tiga bulan sejak awal tahun 2005 dengan jangka waktu tiga tahun.
Rita mengatakan bahwa perhatian Pertamina kepada kemajuan usahanya ini sangat berarti baginya karena dapat dimanfaatkan untuk membantu mengembangkan usahanya di masa mendatang.
Dari usaha ini, Said sang pemilik, telah beberapa kali dianugerahi sebagai Pemuda Pelopor Nasional tingkat Provinsi Sumatera Utara. Bahkan pada 2004 yang lalu dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor tingkat Nasional yang diserahkan oleh Presiden RI.
(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2005)
Saat Alam Memberi Manfaat
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman…
(Kolam Susu; Koes Plus)
Lirik lagu Koes Plus tersebut sangat cocok dinyanyikan saat anda berada di daerah Kamojang. Saat kaki menapak di tanah Kamojang, Jawa Barat, maka kesan pertama yang ditangkap adalah lingkungan yang asri, indah, sejuk, dan nyaman. Posisinya yang berada di dataran tinggi pun menunjang kondisi alamiah tadi. Sejuknya udara Kamojang tentu akan memberikan kesan yang mendalam bagi siapapun yang menghirupnya.
Di kawasan ini kita betul-betul dimanjakan oleh alam. Bayangkan saja, dari hasil buminya yang subur, masyarakat setempat dapat bercocok tanam dan beternak. Dari iklimnya yang asri masyarakat juga dapat mengembangkan usaha di sektor wisata alam. Dari perut buminya pun, kita mendapatkan manfaat yang luarbiasa dari potensi panasbumi yang terdapat di wilayah ini.
Untuk bercocok tanam, masyarakat kebanyakan bertani kentang dan kol. Tanaman jagung dan kacang-kacangan juga dikembangkan oleh masyarakat. Pengelolaannya dikoordinir oleh Karang Taruna setempat. Koordinator Karang Taruna Dadan Hendra menjelaskan bahwa bidang pertanian di Kamojang sebenarnya cukup bagus tapi sangat gambling karena fluktuasi harga tergantung pasar.
Di sektor peternakan, masyarakat juga mendapatkan hasil yang cukup lumayan. Menurut Dadan budidaya domba, ikan hias, ikan konsumsi, itik dan kelinci hasilnya lumayan. Memang untuk peternakan di sini sangat cocok, seperti rumput dan sumber daya alam memungkinkan.
Dadan mengatakan bahwa di desanya ia bersama rekan-rekan Karang Taruna melaksanakan usaha pengembangbiakan domba Garut. “Dari awal penggemukan, domba dijual hidup awalnya. Tapi untuk jual hidup juga tergantung pasar, jadi kami sekarang diarahkan untuk budidaya,” katanya.
Domba Garut memiliki kualitas daging lumayan besar dan nilai ekonominya sangat tinggi. Dadan menjelaskan bahwa minat konsumen terhadap domba Garut bervariasi. Mulai dari nilai seni, untuk domba aduan, sampai pemanfaatan dagingnya yang sangat besar. Domba Garut memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Dari bobotnya saja, domba Garut sudah memiliki keunggulan. “Beda dengan domba sayur, yang beratnya sekitar 14 sampai 20 kg, kalau domba Garut bisa mencapai 90 sampai100 kg per ekor,” paparnya.
Melihat keunggulannya ini, maka dari sisi harga tidak perlu diragukan lagi. Harga domba Garut jantan yang usianya satu tahun dengan bobot 30 sampai 40 kg berada pada kisaran satu juta rupiah. Dadan bertutur bahwa untuk sekali penjualan bisa mencapai 10 sampai 20 ekor. Ia menambahkan bahwa untuk domba Garut kami adakan seleksi terlebih dulu, kalau ada yang bagus kami tahan sampai usianya satu tahun lebih karena kalau dijual bisa mencapai dua sampai tiga juta perekor. “Ada bandar dari kota yang ambil ke sini,” katanya.
Iklim Kamojang ternyata juga cocok untuk beternak kelinci dan itik. Dadan mengatakan bahwa untuk anak kelinci kami jual hidup untuk dipasarkan. Hasilnya juga lumayan. Kelinci per ekor yang masih berumur dua bulan bisa laku dijual dengan harga sekitar Rp. 7.000,-. “Sekali jual bisa mencapai sekitar 100 ekor,” ujarnya. Belum lagi itik yang bisa memberikan hasil dari daging dan telurnya.
Anugrah alam belum berhenti di sini. Alam masih memberikan belaiannya kepada masyarakat Kamojang dalam beternak ikan air tawar. Untuk budidaya ikan, kebanyakan ikan nila sejenis kakap warna hitam untuk dimakan. Sedangkan untuk ikan hias ada Discus dan jenis ikan hias yang ada dipasaran. Dadan bercerita bahwa panen ikan dilakukan setiap enam bulan. Satu kolam sebesar satu hektar bisa menghasilkan sembilan kwintal. “Khusus untuk ikan kami ikut anggota asosiasi peternak ikan air tawar, maka kita salurkan ke sana,” jelasnya.
Ternyara anugrah alam, sekali lagi belum selesai sampai di sini. Dadan dan masyarakat setempat masih bisa mendapatkan hasil sampingan dari usahanya dalam beternak. “Sejak 2002 kami dibina dan mendapatkan ilmu baru dari Pertamina terutama dalam hal pemanfaatan kotoran hewan,” ungkapnya.
Pemanfaatan limbah kotoran hewan untuk pupuk hasilnya cukup lumayan. Kotoran ternak ini difermentasikan dan harga jual jadi lumayan mahal. “Kalau kami biasa panen pupuk satu karung itu Rp. 3.000,- , sekarang dengan ilmu yang kami dapat, kotoran hewan sudah diolah bisa mencapai harga Rp. 15.000,- per karung,” ujarnya. Ditambah lagi dengan kencing kelinci untuk pupuk yang satu liter diberi harga Rp. 1.000,- . Dalam satu minggu bisa memproduksi 60 liter.
Pemberdayaan masyarakat, kata Dadan, berawal dari keprihatinan perusahaan (baca: Pertamina) terhadap remaja Kamojang yang saat itu masih banyak yang tidak bekerja. “Daya tampung perusahaan untuk menerima pekerja juga terbatas,” ujarnya. Berangkat dari keprihatinan inilah, Pertamina Kamojang melakukan pembinaan terhadap Karang Taruna setempat agar bisa menghasilkan pendapatan secara mandiri. “Total bantuan Pertamina sekitar Rp. 115 juta ,” kata Dadan.
Sekarang melalui pemberdayaan masyarakat ini, kata Dadan, banyak remaja yang bisa merasakan hasilnya. Ia memaparkan bahwa untuk penjualan yang paling menguntungkan dari domba. Dalam sebulan hasil penjualan bisa Rp. 300 ribu sampai Rp. 400 ribu per orang “Itu penghasilan kotor,” katanya.
Untuk mengelola domba ada satu kelompok yang terdiri dari 20 orang. Untuk kelinci ada dua kelompok yang anggotanya berjumlah 15 orang. Pengelolaan ikan ditangani oleh 10 orang, ikan hias 10 orang, balai bibit 8 orang. Selain itu, anggota Karang Taruna juga dididik untuk membuka usaha bengkel yang ditangani oleh delapan orang anggotanya. Secara keseluruhan, dengan perkembangan usaha yang begitu pesat, hingga saat ini sudah mencapai sekitar 90 orang yang kini bisa merasakan manfaatnya.
Dadan menuturkan bahwa sistem pembagian hasil penjualan ada penyisihan untuk biaya pemeliharaan. “Di karang taruna juga ada koperasi yang menampung sebagian kecil dari keuntungan untuk masa depan,” katanya.
Bantuan yang kami terima dari Pertamina, kata Dadan, dimanfaatkan untuk modal. “Domba untuk per orang Rp. 3,6 juta dikali 20. Kami kolektifkan untuk dibangun dan dikelola sama-sama,” katanya. Dan setiap bulannya, masing-masing ketua kelompok melaporkan hasilnya.
Selain bantuan modal, katanya, mereka juga mendapatkan pelatihan di bidang menjahit, komputer dan bengkel. “Kami sangat bersyukur karena masyarakat Kamojang sangat membutuhkan bantuan ini dan hasilnya sangat membantu sekali,” tuturnya. Masyarakat juga mendapatkan kelonggaran dari Pertamina dibawah Rp. 5 juta tanpa jaminan. Angsuran tergantung kemampuan. Ada yang satu tahun (untuk yang nominal kecil) lebih dari Rp. 3 juta mencapai 2 tahun. Sedangkan untuk Rp. 5 juta ke atas mencapai 3 tahun. “Harapan kami ke depan, “kata Dadan,” kegiatan seperti ini agar dipertahankan atau kalau perlu ditingkatkan. Masih ada beberapa rekan putri kami yang putus sekolah dan belum terpikirkan apa kegiatan yang cocok untuk mereka.”
Dadan mengatakan bahwa masyarakat sekitar sini menanggapi kegiatan pertamina dengan positif. Pertamina sangat akrab sekali dengan karyawan, juga tidak dianggap sebagai pendatang. Pertamina dianggap sebagai saudara dan sering membantu masyarakat kalau ada yang sakit utnuk pinjam kendaraan dan fasilitas pengobatan massal. Dadan mengatakan bahwa kadang ada saat emergency . “Kami paling berani ke Pertamina untuk pinjam mobil ke dokter. Kami anggap pertamina sebagai warga Kamojang sendiri,” katanya.
)adp_Feature Reportase_Diterbitkan2005)
(Kolam Susu; Koes Plus)
Lirik lagu Koes Plus tersebut sangat cocok dinyanyikan saat anda berada di daerah Kamojang. Saat kaki menapak di tanah Kamojang, Jawa Barat, maka kesan pertama yang ditangkap adalah lingkungan yang asri, indah, sejuk, dan nyaman. Posisinya yang berada di dataran tinggi pun menunjang kondisi alamiah tadi. Sejuknya udara Kamojang tentu akan memberikan kesan yang mendalam bagi siapapun yang menghirupnya.
Di kawasan ini kita betul-betul dimanjakan oleh alam. Bayangkan saja, dari hasil buminya yang subur, masyarakat setempat dapat bercocok tanam dan beternak. Dari iklimnya yang asri masyarakat juga dapat mengembangkan usaha di sektor wisata alam. Dari perut buminya pun, kita mendapatkan manfaat yang luarbiasa dari potensi panasbumi yang terdapat di wilayah ini.
Untuk bercocok tanam, masyarakat kebanyakan bertani kentang dan kol. Tanaman jagung dan kacang-kacangan juga dikembangkan oleh masyarakat. Pengelolaannya dikoordinir oleh Karang Taruna setempat. Koordinator Karang Taruna Dadan Hendra menjelaskan bahwa bidang pertanian di Kamojang sebenarnya cukup bagus tapi sangat gambling karena fluktuasi harga tergantung pasar.
Di sektor peternakan, masyarakat juga mendapatkan hasil yang cukup lumayan. Menurut Dadan budidaya domba, ikan hias, ikan konsumsi, itik dan kelinci hasilnya lumayan. Memang untuk peternakan di sini sangat cocok, seperti rumput dan sumber daya alam memungkinkan.
Dadan mengatakan bahwa di desanya ia bersama rekan-rekan Karang Taruna melaksanakan usaha pengembangbiakan domba Garut. “Dari awal penggemukan, domba dijual hidup awalnya. Tapi untuk jual hidup juga tergantung pasar, jadi kami sekarang diarahkan untuk budidaya,” katanya.
Domba Garut memiliki kualitas daging lumayan besar dan nilai ekonominya sangat tinggi. Dadan menjelaskan bahwa minat konsumen terhadap domba Garut bervariasi. Mulai dari nilai seni, untuk domba aduan, sampai pemanfaatan dagingnya yang sangat besar. Domba Garut memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Dari bobotnya saja, domba Garut sudah memiliki keunggulan. “Beda dengan domba sayur, yang beratnya sekitar 14 sampai 20 kg, kalau domba Garut bisa mencapai 90 sampai100 kg per ekor,” paparnya.
Melihat keunggulannya ini, maka dari sisi harga tidak perlu diragukan lagi. Harga domba Garut jantan yang usianya satu tahun dengan bobot 30 sampai 40 kg berada pada kisaran satu juta rupiah. Dadan bertutur bahwa untuk sekali penjualan bisa mencapai 10 sampai 20 ekor. Ia menambahkan bahwa untuk domba Garut kami adakan seleksi terlebih dulu, kalau ada yang bagus kami tahan sampai usianya satu tahun lebih karena kalau dijual bisa mencapai dua sampai tiga juta perekor. “Ada bandar dari kota yang ambil ke sini,” katanya.
Iklim Kamojang ternyata juga cocok untuk beternak kelinci dan itik. Dadan mengatakan bahwa untuk anak kelinci kami jual hidup untuk dipasarkan. Hasilnya juga lumayan. Kelinci per ekor yang masih berumur dua bulan bisa laku dijual dengan harga sekitar Rp. 7.000,-. “Sekali jual bisa mencapai sekitar 100 ekor,” ujarnya. Belum lagi itik yang bisa memberikan hasil dari daging dan telurnya.
Anugrah alam belum berhenti di sini. Alam masih memberikan belaiannya kepada masyarakat Kamojang dalam beternak ikan air tawar. Untuk budidaya ikan, kebanyakan ikan nila sejenis kakap warna hitam untuk dimakan. Sedangkan untuk ikan hias ada Discus dan jenis ikan hias yang ada dipasaran. Dadan bercerita bahwa panen ikan dilakukan setiap enam bulan. Satu kolam sebesar satu hektar bisa menghasilkan sembilan kwintal. “Khusus untuk ikan kami ikut anggota asosiasi peternak ikan air tawar, maka kita salurkan ke sana,” jelasnya.
Ternyara anugrah alam, sekali lagi belum selesai sampai di sini. Dadan dan masyarakat setempat masih bisa mendapatkan hasil sampingan dari usahanya dalam beternak. “Sejak 2002 kami dibina dan mendapatkan ilmu baru dari Pertamina terutama dalam hal pemanfaatan kotoran hewan,” ungkapnya.
Pemanfaatan limbah kotoran hewan untuk pupuk hasilnya cukup lumayan. Kotoran ternak ini difermentasikan dan harga jual jadi lumayan mahal. “Kalau kami biasa panen pupuk satu karung itu Rp. 3.000,- , sekarang dengan ilmu yang kami dapat, kotoran hewan sudah diolah bisa mencapai harga Rp. 15.000,- per karung,” ujarnya. Ditambah lagi dengan kencing kelinci untuk pupuk yang satu liter diberi harga Rp. 1.000,- . Dalam satu minggu bisa memproduksi 60 liter.
Pemberdayaan masyarakat, kata Dadan, berawal dari keprihatinan perusahaan (baca: Pertamina) terhadap remaja Kamojang yang saat itu masih banyak yang tidak bekerja. “Daya tampung perusahaan untuk menerima pekerja juga terbatas,” ujarnya. Berangkat dari keprihatinan inilah, Pertamina Kamojang melakukan pembinaan terhadap Karang Taruna setempat agar bisa menghasilkan pendapatan secara mandiri. “Total bantuan Pertamina sekitar Rp. 115 juta ,” kata Dadan.
Sekarang melalui pemberdayaan masyarakat ini, kata Dadan, banyak remaja yang bisa merasakan hasilnya. Ia memaparkan bahwa untuk penjualan yang paling menguntungkan dari domba. Dalam sebulan hasil penjualan bisa Rp. 300 ribu sampai Rp. 400 ribu per orang “Itu penghasilan kotor,” katanya.
Untuk mengelola domba ada satu kelompok yang terdiri dari 20 orang. Untuk kelinci ada dua kelompok yang anggotanya berjumlah 15 orang. Pengelolaan ikan ditangani oleh 10 orang, ikan hias 10 orang, balai bibit 8 orang. Selain itu, anggota Karang Taruna juga dididik untuk membuka usaha bengkel yang ditangani oleh delapan orang anggotanya. Secara keseluruhan, dengan perkembangan usaha yang begitu pesat, hingga saat ini sudah mencapai sekitar 90 orang yang kini bisa merasakan manfaatnya.
Dadan menuturkan bahwa sistem pembagian hasil penjualan ada penyisihan untuk biaya pemeliharaan. “Di karang taruna juga ada koperasi yang menampung sebagian kecil dari keuntungan untuk masa depan,” katanya.
Bantuan yang kami terima dari Pertamina, kata Dadan, dimanfaatkan untuk modal. “Domba untuk per orang Rp. 3,6 juta dikali 20. Kami kolektifkan untuk dibangun dan dikelola sama-sama,” katanya. Dan setiap bulannya, masing-masing ketua kelompok melaporkan hasilnya.
Selain bantuan modal, katanya, mereka juga mendapatkan pelatihan di bidang menjahit, komputer dan bengkel. “Kami sangat bersyukur karena masyarakat Kamojang sangat membutuhkan bantuan ini dan hasilnya sangat membantu sekali,” tuturnya. Masyarakat juga mendapatkan kelonggaran dari Pertamina dibawah Rp. 5 juta tanpa jaminan. Angsuran tergantung kemampuan. Ada yang satu tahun (untuk yang nominal kecil) lebih dari Rp. 3 juta mencapai 2 tahun. Sedangkan untuk Rp. 5 juta ke atas mencapai 3 tahun. “Harapan kami ke depan, “kata Dadan,” kegiatan seperti ini agar dipertahankan atau kalau perlu ditingkatkan. Masih ada beberapa rekan putri kami yang putus sekolah dan belum terpikirkan apa kegiatan yang cocok untuk mereka.”
Dadan mengatakan bahwa masyarakat sekitar sini menanggapi kegiatan pertamina dengan positif. Pertamina sangat akrab sekali dengan karyawan, juga tidak dianggap sebagai pendatang. Pertamina dianggap sebagai saudara dan sering membantu masyarakat kalau ada yang sakit utnuk pinjam kendaraan dan fasilitas pengobatan massal. Dadan mengatakan bahwa kadang ada saat emergency . “Kami paling berani ke Pertamina untuk pinjam mobil ke dokter. Kami anggap pertamina sebagai warga Kamojang sendiri,” katanya.
)adp_Feature Reportase_Diterbitkan2005)
Trikomsa
Usaha yang dirintis dari industri lilin lampu, Trikomsa berusaha untuk terus tumbuh dan berkembang sekaligus memberi manfaat bagi lingkungannya.
Sugarwo Nugroho (38) pria Jawa-Banjar ini mengawali bisnis lilin lampu sekitar 2 tahun yang lalu. Dengan merangkak dan penuh perjuangan, usaha ini dijalankannya dibawah bendera CV Trikomsa Indocandle.
Diawali dengan dua buah mesin dan enam orang pekerja, Sugarwo menggeluti usaha pembuatan lilin ini. Trikomsa mengolah lilin sebanyak 5 ton per bulan yang dibelinya dari Pertamina Unit Pemasaran VI Balikpapan. Seiring dengan perkembangannya, pasokan pun bertambah hingga kini mencapai 10 ton per bulannya.
Sugarwo bercerita bahwa untuk pembelian lilin tersebut, ia harus memenuhi persyaratan administrasi yang ditetapkan, diantaranya harus berbadan hukum atau berbentuk CV, SIUP, dan lain-lain. “Saya ajukan CV sebagai pemakai langsung dan disetujui,” katanya.
Alumnus IAIN Sunan Kalijaga ini mengatakan bahwa untuk menjalankan bisnis ini tidak mudah. Ia memerlukan pasokan modal dari pihak luar. Oleh karena itu, katanya, ia mengajukan permohonan untuk menjadi mitra binaan melalui PKBL DOH Kalimantan.
“Kebetulan saya sering bertemu dengan rekan PKBL DOH Kalimantan di pengajian,” ujarnya. Harapannya pun terkabul, dana sebesar Rp. 75 juta dikucurkan sebagai bantuan modal dengan jangka waktu tiga tahun.
Untuk pemasaran produknya, Sugarwo tidak terlalu khawatir dan menganggap produsen lain sebagai mitra, bukan sebagai pesaing. Ia mengatakan bahwa Trikomsa punya pasar sendiri. Untuk memperkuat armada penjualannya, Sugarwo membina hubungan dengan lima mitra penjualannya yang tentunya sudah memiliki pasarnya masing-masing.
”Saya memasarkan produk ini ke empat provinsi yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi,” katanya.
Menghadapi permintaan konsumen yang begitu besar Sugarwo mengakui bahwa dirinya sempat kewalahan. ”Contohnya, Sulawesi itu mintanya di atas sepuluh ton, untuk itu saya perlu perkembangan di sisi produksi, fasilitas dana dan lain-lain,” paparnya. Belum lagi melayani permintaan konsumen di daerah lain. Ia berharap, PKBL DOH Kalimantan dapat mempertimbangkan harapannya ini demi perkembangan usahanya ke depan.
Bicara soal bahan baku, Sugarwo mengatakan bahwa satu ton lilin bisa menghasilkan sekitar 160 dos lilin lampu yang masing-masing berisi 35 batang. Selanjutnya, oleh agen, lilin itu dibawa untuk dipasarkan. ”Biasanya lilin diambil oleh agen. Bisa 500 sampai 1500 dos,” katanya.
Namun demikian sering kali, ungkap Sugarwo, permintaan mencapai 1600 dos per bulan. Ia bersyukur bahwa lilin produksinya tidak pernah menumpuk di gudang, alias selalu habis terjual. Ia menunjuk ke arah tumpukan lilin lampu dan mengatakan bahwa semua sudah ada yang beli. ”Jadi begitu selesai langsung diangkut ke agen,” tambahnya.
Hingga saat ini, Sugarwo sudah mempekerjakan sembilan orang tenaga dan memiliki delapan buah mesin di industri lilin lampu miliknya. Sugarwo menjelaskan bahwa dirinya berharap dengan keberadaan industri ini dapat membuka lapangan pekerjaan bagi para tetangga dan masyarakat sekitar. Namun demikian, katanya, karena usaha ini juga dijalankan secara profesional maka untuk perekrutan ia juga mengutamakan individu yang betul-betul mampu untuk bekerja dengan baik.
Untuk membayar pekerjanya, Sugarwo mengatakan bahwa perhitungannya bersifat borongan. Untuk memproduksi satu ton lilin ia membayar gaji karyawan pada kisaran Rp. 75.000,- sampai Rp. 100.000,-. Di luar itu, ia bisa mengantungi keuntungan sekitar Rp. 8 800.000,- per ton.
Tumbuh dan berkembang
Keberhasilan Sugarwo dalam mengelola usaha industri lilin ini memacu dirinya untuk mengembangkan sayap usaha. ”Dari sini saya berpikir untuk pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Selanjutnya, Trikomsa pun berkembang dengan membuka industri mebel multipleks dan depot ayam bakar. Selain itu, di bidang pendidikan dan pelatihan, Sugarwo juga membuka Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Trikomsa Indoschool pada 16 Oktober 2004 dengan visi menjadi lembaga pemberdayaan masyarakat, pusat diklat kerja dan pengembangan kreativitas generasi muda yang profesional dan terpercaya.
Sugarwo menegaskan bahwa tuntutan perkembangan zaman telah mendorongnya untuk ikut aktif dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan mampu bersaing di pasar global. Berdasarkan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional, LPM ini berupaya untuk mengembangkan kurikulum pendidikan berbasis kompetensi dan mengarahkan metode pembelajaran pada keterampilan yang berbasis kebutuhan masyarakat luas atau pendidikan yang berkelanjutan. Untuk itu, melalui LPM ini, Sugarwo menargetkan sebanyak 500 orang yang bisa diberdayakan.
Program kursus yang ditawarkan beranekaragam, meliputi baca tulis Al Qur’an, bahasa Arab, bahasa Inggris, meubel multiplex, kaligrafi, radiator dan dinamo, sablon, jahit dan bordir, las karbit dan listrik, elektronik, fotografi, jurnalistik, presenter dan MC, bimbingan belajar, montir sepeda motor, dan kursus komputer. Pusat pendidikan ini bertempat di Jl. Klamono-Gatu No. 8 RT 076 Balikpapan. ”Tempat saya sewa dari koperasi Pertamina,” katanya.
Untuk kaum duafa, kata Sugarwo, Trikomsa menyediakan sejumlah program misalnya ada program jahit dan bordir untuk anak putus sekolah dan keluarga tidak mampu. Saat ditanya mengenai biaya, Sugarwo menjelaskan bahwa untuk hal tersebut pihaknya bekerjasama dengan pihak ketiga yang peduli. ”Kalau tidak ada, kami danai sendiri dari usaha-usaha yang lain,” ungkapnya.
Selain usaha di bidang pendidikan dan pelatihan, Trikomsa juga membuka usaha meubel multiplex. Usaha ini baru mereka mulai. Mereka mendatangkan bahan baku dari Jawa. Menurut Sugarwo, Trikomsa akan memasarkan produknya di wilayah Kalimantan Timur. Sugarwo mengatakan bahwa sebenarnya peluang masih terbuka lebar tetapi usahanya terkendala masalah dana. Oleh karena itu, ia mengharapkan bantuan dana untuk pengembangan selanjutnya.
(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2005)
Sugarwo Nugroho (38) pria Jawa-Banjar ini mengawali bisnis lilin lampu sekitar 2 tahun yang lalu. Dengan merangkak dan penuh perjuangan, usaha ini dijalankannya dibawah bendera CV Trikomsa Indocandle.
Diawali dengan dua buah mesin dan enam orang pekerja, Sugarwo menggeluti usaha pembuatan lilin ini. Trikomsa mengolah lilin sebanyak 5 ton per bulan yang dibelinya dari Pertamina Unit Pemasaran VI Balikpapan. Seiring dengan perkembangannya, pasokan pun bertambah hingga kini mencapai 10 ton per bulannya.
Sugarwo bercerita bahwa untuk pembelian lilin tersebut, ia harus memenuhi persyaratan administrasi yang ditetapkan, diantaranya harus berbadan hukum atau berbentuk CV, SIUP, dan lain-lain. “Saya ajukan CV sebagai pemakai langsung dan disetujui,” katanya.
Alumnus IAIN Sunan Kalijaga ini mengatakan bahwa untuk menjalankan bisnis ini tidak mudah. Ia memerlukan pasokan modal dari pihak luar. Oleh karena itu, katanya, ia mengajukan permohonan untuk menjadi mitra binaan melalui PKBL DOH Kalimantan.
“Kebetulan saya sering bertemu dengan rekan PKBL DOH Kalimantan di pengajian,” ujarnya. Harapannya pun terkabul, dana sebesar Rp. 75 juta dikucurkan sebagai bantuan modal dengan jangka waktu tiga tahun.
Untuk pemasaran produknya, Sugarwo tidak terlalu khawatir dan menganggap produsen lain sebagai mitra, bukan sebagai pesaing. Ia mengatakan bahwa Trikomsa punya pasar sendiri. Untuk memperkuat armada penjualannya, Sugarwo membina hubungan dengan lima mitra penjualannya yang tentunya sudah memiliki pasarnya masing-masing.
”Saya memasarkan produk ini ke empat provinsi yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi,” katanya.
Menghadapi permintaan konsumen yang begitu besar Sugarwo mengakui bahwa dirinya sempat kewalahan. ”Contohnya, Sulawesi itu mintanya di atas sepuluh ton, untuk itu saya perlu perkembangan di sisi produksi, fasilitas dana dan lain-lain,” paparnya. Belum lagi melayani permintaan konsumen di daerah lain. Ia berharap, PKBL DOH Kalimantan dapat mempertimbangkan harapannya ini demi perkembangan usahanya ke depan.
Bicara soal bahan baku, Sugarwo mengatakan bahwa satu ton lilin bisa menghasilkan sekitar 160 dos lilin lampu yang masing-masing berisi 35 batang. Selanjutnya, oleh agen, lilin itu dibawa untuk dipasarkan. ”Biasanya lilin diambil oleh agen. Bisa 500 sampai 1500 dos,” katanya.
Namun demikian sering kali, ungkap Sugarwo, permintaan mencapai 1600 dos per bulan. Ia bersyukur bahwa lilin produksinya tidak pernah menumpuk di gudang, alias selalu habis terjual. Ia menunjuk ke arah tumpukan lilin lampu dan mengatakan bahwa semua sudah ada yang beli. ”Jadi begitu selesai langsung diangkut ke agen,” tambahnya.
Hingga saat ini, Sugarwo sudah mempekerjakan sembilan orang tenaga dan memiliki delapan buah mesin di industri lilin lampu miliknya. Sugarwo menjelaskan bahwa dirinya berharap dengan keberadaan industri ini dapat membuka lapangan pekerjaan bagi para tetangga dan masyarakat sekitar. Namun demikian, katanya, karena usaha ini juga dijalankan secara profesional maka untuk perekrutan ia juga mengutamakan individu yang betul-betul mampu untuk bekerja dengan baik.
Untuk membayar pekerjanya, Sugarwo mengatakan bahwa perhitungannya bersifat borongan. Untuk memproduksi satu ton lilin ia membayar gaji karyawan pada kisaran Rp. 75.000,- sampai Rp. 100.000,-. Di luar itu, ia bisa mengantungi keuntungan sekitar Rp. 8 800.000,- per ton.
Tumbuh dan berkembang
Keberhasilan Sugarwo dalam mengelola usaha industri lilin ini memacu dirinya untuk mengembangkan sayap usaha. ”Dari sini saya berpikir untuk pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Selanjutnya, Trikomsa pun berkembang dengan membuka industri mebel multipleks dan depot ayam bakar. Selain itu, di bidang pendidikan dan pelatihan, Sugarwo juga membuka Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Trikomsa Indoschool pada 16 Oktober 2004 dengan visi menjadi lembaga pemberdayaan masyarakat, pusat diklat kerja dan pengembangan kreativitas generasi muda yang profesional dan terpercaya.
Sugarwo menegaskan bahwa tuntutan perkembangan zaman telah mendorongnya untuk ikut aktif dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan mampu bersaing di pasar global. Berdasarkan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional, LPM ini berupaya untuk mengembangkan kurikulum pendidikan berbasis kompetensi dan mengarahkan metode pembelajaran pada keterampilan yang berbasis kebutuhan masyarakat luas atau pendidikan yang berkelanjutan. Untuk itu, melalui LPM ini, Sugarwo menargetkan sebanyak 500 orang yang bisa diberdayakan.
Program kursus yang ditawarkan beranekaragam, meliputi baca tulis Al Qur’an, bahasa Arab, bahasa Inggris, meubel multiplex, kaligrafi, radiator dan dinamo, sablon, jahit dan bordir, las karbit dan listrik, elektronik, fotografi, jurnalistik, presenter dan MC, bimbingan belajar, montir sepeda motor, dan kursus komputer. Pusat pendidikan ini bertempat di Jl. Klamono-Gatu No. 8 RT 076 Balikpapan. ”Tempat saya sewa dari koperasi Pertamina,” katanya.
Untuk kaum duafa, kata Sugarwo, Trikomsa menyediakan sejumlah program misalnya ada program jahit dan bordir untuk anak putus sekolah dan keluarga tidak mampu. Saat ditanya mengenai biaya, Sugarwo menjelaskan bahwa untuk hal tersebut pihaknya bekerjasama dengan pihak ketiga yang peduli. ”Kalau tidak ada, kami danai sendiri dari usaha-usaha yang lain,” ungkapnya.
Selain usaha di bidang pendidikan dan pelatihan, Trikomsa juga membuka usaha meubel multiplex. Usaha ini baru mereka mulai. Mereka mendatangkan bahan baku dari Jawa. Menurut Sugarwo, Trikomsa akan memasarkan produknya di wilayah Kalimantan Timur. Sugarwo mengatakan bahwa sebenarnya peluang masih terbuka lebar tetapi usahanya terkendala masalah dana. Oleh karena itu, ia mengharapkan bantuan dana untuk pengembangan selanjutnya.
(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2005)
Langganan:
Postingan (Atom)