Sabtu, 18 Juli 2009
Cianten-Halimun Quest: Menembus Batas
Liburan Idul Fitri yang panjang telah memanggil para bikers untuk memulai menjelajah. Tak disangka rencana perjalanan ini menorehkan pengalaman tak terlupakan. Track batu bak pisau teranyam, dibawah guyuran hujan lebat dan dingin pegunungan menambah kesan mendalam.
Pemilihan Route
Pagi itu cerah, sinar mentari menembus celah rindang pepohonan, udara sejuk dan bisik daun yang bergesekan menambah hangat nuansa di Jalan Raya Parung.
Perbincangan pukul 9 pagi di sebuah warung kelapa muda Parung. “Gimana bro, setuju gak kita ke Pelabuhan Ratu via Leuwiliang, di peta ada route ini dan kelihatannya lebih pendek dari jalan biasa?” tanya Adim kepada teman-teman.
“Kelihatannya sih OK,” jawab Johansyah sambil melihat peta pada pocket pc. Johansyah mengatakan bahwa hobinya adalah menjelajah wilayah-wilayah baru di sekitar pantai selatan Jawa Barat. “Makanya saya pilih menggunakan motor trail dan beberapa track di peta sudah pernah saya jalani, ” ungkapnya meyakinkan.
Peta mudik yang digunakan cukup jelas menggambarkan adanya sebuah jalur dari Leuwiliang menuju Pelabuhan Ratu dengan melewati sebuah desa bernama Cianten. Kontur ketinggian tidak begitu jelas tergambar, namun didapat petunjuk bahwa nanti akan melewati pinggang Gunung Salak di sebelah kiri. Jalan berwarna merah sangat jelas, dan tampaknya bisa dilalui dalam waktu kurang dari 2 jam perjalanan.
Ternyata, pembacaan peta tanpa jelas memeriksa kontur ketinggian inilah yang merupakan kesalahan pertama yang membawa pengalaman tak terlupakan.
Perjalanan dimulai dari Parung menuju Leuwiliang dengan melewati beberapa simpul-simpul kemacetan. Perjalanan ini diikuti oleh enam orang anggota PMC dengan jenis motor yang berbeda-beda, mulai dari RX King, Ninja, bebek Mochin, Thunder, trail dan Harley Davidson Sportster. Enam sepeda motor itupun menderu, melaju dan membelah lalu lintas Bogor Barat yang penuh dengan angkot (angkutan kota).
Tanjakan Maut
Pasar Leuwiliang sudah terlampaui. Rombongan pun berbelok ke kiri ke arah desa Cianten. Jalan yang dilalui tidak seramai dan sepadat lintas Bogor-Darmaga-Leuwiliang karena memang jalan ini adalah jalan desa. Kondisinya cukup lumayan walaupun banyak polisi tidur yang melintang di sepanjang jalan. Jalan mulai menanjak namun masih bisa dilalui dengan mudah. Pemandangannya pun indah, selain rumah penduduk di sisi kiri dan kanan jalan, dikejauhan tampak ladang dan sawah yang menyejukkan mata.
Rombongan memasuki kondisi jalan yang kurang baik. Gejala alam pertama sudah terasa ketika per untuk standar Sportster terlepas karena mesin mentok di jalan kasar. ”Mbak, ke Pelabuhan Ratu masih jauh?” tanya rekan-rekan PMC kepada seorang warga, ketika duduk sambil memperbaiki per. Jawaban dari penduduk setempat tidak pernah sama dan selalu mengatakan sudah dekat. Sebuah jawaban yang sangat relatif.
Kesalahan memperkirakan jarak yang akan ditempuh adalah kesalahan kedua setelah salah memprediksi ketinggian via kontur peta.
Mendekati desa Pasiripis, jalan menanjak, berbatu, berliku semakin ketat. Kondisi jalan semakin tidak bersahabat. Dengan wajah sedih terpaksa, tampaknya Sportster harus diangkut dengan mobil. Maka rombongan pun berhenti di sebuah pondok tempat penjual kayu. Mereka memiliki tiga buah mobil colt pick up yang sudah tampak tua namun masih bertenaga. Saat tawar-menawar, harga pun disetujui. Namun mereka hanya menyanggupi sampai Garehong. ”Garehong? Nama daerah apa itu?” kata kami bertanya-tanya.
“Garehong itu akhir dari jalan menanjak selepas Cianten, pak,” ujar sang sopir. Ia menjelaskan, dari sana kami tinggal turun saja karena kontur jalannya sudah tidak menanjak lagi.
”Tapi kami tidak berani mengantar hingga desa Cipeuteuy karena kami sulit untuk kembali ke sini. Mobil kami tidak bisa naik ke sini,” ujarnya. lagi. Sportster pun dinaikkan ke Colt karena sangat tidak memungkinkan dikendarai.
Hawa pegunungan terasa nyaman walaupun mulai diiringi dengan hujan rinai. Hutan hujan tropis mulai terasa rapat mewarnai perjalanan menuju puncak. Perkebunan PTP VIII kebun Cianten menyambut kehadiran para penjelajah dengan jalan becek dan cuaca basah.
Pertigaan jalan setelah melewati perumahan Cianten merupakan sebuah ’point of no return’ . Tanjakan lebih dari 50° jalan berbatu dan diawali hujan deras mengiringi perjalanan anggota PMC. Batu-batu terjal yang disusun untuk menembus hutan tersebut terasa bak pisau tajam yang siap mengiris ban sepeda motor.
Penduduk setempat menyarankan untuk kembali atau jika harus melalui Gunung Halimun, maka agar berhati-hati karena kondisi jalanan yang tidak memadai. ”Di atas jalannya parah, pak, kalau motor dua tak agak repot,” ujar salah seorang tukang ojek di sana. Sebenarnya ada jalan alternatif yang disebut warga sekitar sebagai jalan proyek. Jalan tersebut merupakan jalur proyek panas bumi Unocal yang beroperasi di daerah tersebut. ”Tapi biasanya untuk melintas di jalan itu agak sulit masalah perijinannya, pak,” ujar salah seorang warga.
Tiba di Garehong. Daerah yang tadi menjadi momok bagi supir Colt. Mobil Colt yang disewa untuk mengangkat Sportster kesulitan untuk mendaki, terpaksa motor seberat lebih dari 200 kg diturunkan dan diaktifkan mesinnya. Namun sayang, motor kesulitan untuk hidup. Terpaksa motor didorong untuk mendaki dan menuruni gunung. Ditengah hutan belantara tersebut terasa sangat haus walaupun cuaca hujan deras. Untung masih ada pohon pisang-pisangan untuk menampung air dan langsung diteguk.
Jalur ke arah Gunung Halimun pun dipilih, karena tidak ada pilihan lain. Maka berjatuhanlah para bikers tersebut. Motor trail itu pun roboh. Rekan PMC lain pun berlarian membantu Johan mengangkat motornya. Giliran berikutnya, tampak Arya membekap erat motor RX King-nya bagaikan memeluk guling. Motor tersebut terpeleset jatuh dan menindih pengemudinya. Thunder Bro saya pun tak luput dari batu yang licin dan akhirnya harus pasrah dan rebah. Sportster Adim juga tak kalah parahya, engine guard patah karena menabrak bukit di kanan jalan. Bahkan untuk sekedar meluncur dari ketinggian bukitpun nyaris tidak bisa karena jarak antara mesin dengan bebatuan begitu tipis. Hujan deras menambah semakin sulit mengendarai motor secara biasa. Jalanan yang rusak parah tersebut telah berubah menjadi anak sungai sehingga sulit memilih track yang akan dilalui.
Kesalahan ketiga adalah gagal memprediksi jalan yang akan dilalui. Sebuah motor dengan penumpang sebuah keluarga, ayah-ibu-anak dan ditambah dengan membawa kotak penuh dengan belanjaan tampak asik meliuk-liuk mendaki gunung dengan tersenyum. “Mosok saya ‘gak bisa seperti mereka, cc (baca : se-se - Red.) motor saya ‘kan lebih besar,” demikian pikiran para bikers. Melihat perjalanan mereka, mendorong para pengendara untuk segera melewati track tersebut. Semangat petualang itu terus menyala karena melihat beberapa tukang ojek melintas dengan mudahnya ditambah beban bawaan beberapa dus mi instan dan beberapa karung sayuran. Tekad pun bulat, perjalanan dilanjutkan.
Journey is Everything…..
Dengan susah payah, akhirnya desa Cipeuteuy dapat dicapai walaupun dengan pengorbanan luar biasa. Sebuah warung dengan aneka gorengan, mie rebus plus teh manis panas menyambut akhir perjuangan. Mie rebus pada pukul 5 sore terasa begitu nikmat sebagai makan siang yang terlewat. Hujan masih mengguyur desa sementara itu matahari senja semakin dekat ke peraduannya.
Kesepakatan para bikers akhirnya menentukan kota selanjutnya adalah Parung Kuda sebagai tempat makan malam. Ternyata desa Cikidang masih jauh untuk dicapai dari desa Cipeuteuy, tidak kurang dari 2 jam untuk mencapainya dalam kondisi jalan yang lumayan baik. Jalan itupun ditempuh dalam kegelapan malam dan guyuran hujan. Akhirnya, Pelabuhan Ratu masih tetap dalam tujuan walaupun tidak dicapai saat itu…..
Di kepala kami terngiang-ngiang semboyan bikers: destination is nothing, journey is everything…….. Tujuan dari sebuah perjalanan adalah perjalanan itu sendiri…
(adp_Petualangan)
Marine Pollution Exercise Regional 2005
Dengan adanya intensitas transportasi tersebut, laut memiliki potensi pencemaran yang cukup tinggi. Beberapa contoh kecelakaan tanker antara lain peristiwa Showa Maru dan Exxon Valdez. Insiden kapal tanker Showa Maru kandas di perairan Selat Malaka tahun 1973. Pada peristiwa tersebut Showa Maru menumpahkan ribuan barel minyak mentah ke laut. Peristiwa lain dialami kapal tanker Exxon Valdez pada Maret 1989 bisa dijadikan contoh. Saat itu tanker Exxon Valdez menabrak karang di wilayah Alaska dan menumpahkan 11 juta galon minyak. Peristiwa-peristiwa ini menimbulkan dampak lingkungan yang luar biasa.
Harian Pikiran Rakyat pernah memuat tulisan bahwa jutaan tahun lampau, sebelum manusia memiliki kemampuan memanfaatkan minyak bumi, pencemaran minyak di lautan sebetulnya telah terjadi. Material mengandung minyak yang memasuki lautan berasal dari pembusukan tumbuhan dan hewan secara alami dan melalui presipitasi hidrokarbon dari atmosfer. Hanya sebagian besar pencemar akan dibiodegradasi (diuraikan) organisme secara alami (meskipun dalam jangka waktu lama), sehingga dampak buruk terhadap lingkungan menjadi sangat kecil.
Namun demikian, saat ini, tumpahan minyak akibat kegiatan penambangan lepas pantai, kebocoran dan kecelakaan kapal tanker, kebocoran saluran pipa minyak, dan lainnya, telah menimbulkan kerusakan yang hebat pada tingkat lokal baik bagi tumbuhan, hewan maupun manusia.
Kini, yang menjadi pertanyaan adalah sejauhmana perhatian semua pihak terkait dalam menjaga laut kita dari ancaman pencemaran dan bagaimana menanggulanginya jika terjadi.
Laut Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang kegiatan migas nasional, regional dan internasional. Pasalnya, banyak kapal tanker dari dan menuju luar negeri melintasi sebagian perairan Indonesia. Dengan demikian, laut Indonesia juga menjadi sangat rentan terhadap ancaman tumpahan minyak dari kegiatan migas tersebut. Sebagai perusahaan migas nasional yang dalam kegiatan operasinya juga berhubungan langsung dengan laut, Pertamina memiliki konsekuensi logis untuk turut menjaga kelestariannya.
Tumpahan minyak mentah membawa akibat yang amat luas pada lingkungan laut. Oleh karena itu, penanggulangannya tidak bisa ditangani hanya oleh satu institusi saja. Perlu melibatkan kerja sama berbagai institusi seperti Kementerian Lingkungan Hidup, Departemen Perhubungan, Departemen Pertambangan dan Energi, Departemen Kelautan
dan Perikanan, Kepolisian, Pemerintah Daerah, Kementerian Riset dan Teknologi, termasuk pula masyarakat dan kalangan LSM. Pertamina, bersama-sama dengan Ditjen Perhubungan Laut, TNI-AL, BP Migas/KKS, SAR, Departemen ESDM, Pemda, dan Kementrian Lingkungan Hidup secara rutin melaksanakan latihan penanggulangan tumpahan minyak di laut (Marine Pollution Exercise).
Manajer Lindungan Lingkungan - Divisi K3LL Pertamina, Singgih Hidayat menegaskan bahwa keterlibatan Pertamina ini dilandasi oleh kesepakatan antar negara ASEAN dalam mengantisipasi tumpahan minyak di perairannya terutama perairan yang saling berbatasan. Singgih menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menguji dan mengevaluasi kemampuan penanggulangan tumpahan minyak, menguji dan memperbaiki prosedur kemampuan oil spill recovery response, melatih dan meningkatkan kerjasama penanggulangan kebakaran, SAR dan oil spill recovery, serta meningkatkan hubungan kerjasama yang efektif. Bagi Pertamina, kata Singgih, ini merupakan bentuk aktualisasi dari kebijakan Direksi dalam hal penanggulangan tumpahan minyak.
Tahun ini, MARPOLEX digelar dalam skala regional yang juga melibatkan Philipine Coast Guard dan Japan Coast Guard. Selain itu, dalam latihan tersebut juga dilibatkan Papua Marine Club. Lokasinya di perairan Sorong, Papua, 14-16 Juni 2005. Dalam latihan tersebut, Pertamina diposisikan sebagai unsur penunjang Pemerintah dalam hal ini Ditjen Perhubungan Laut dalam menanggulangi tumpahan minyak. Tim Pertamina terdiri dari K3LL Korporat, UPms VIII Jayapura, UP VII Kasim, DOH Papua, Manajemen Pendayagunaan Aset, K3LL Dit Hulu, HSE Dit. Pengolahan, dan HSE Dit P&N.
Skenario MARPOLEX Regional dimulai dengan adanya kejadian sebuah kapal tanker bertabrakan dengan kapal penumpang. Peristiwa tersebut menimbulkan kecelakaan, kebakaran dan tumpahan minyak yang berdampak pada lingkungan. Sebagai ilustrasi, dalam latihan ini tumpahan minyak diwakilkan dengan menggunakan smoke signal dari kapal korban.
Dengan skenario kejadian tersebut, MARPOLEX mencakup kegiatan rescue, pemadaman kebakaran, penanggulangan tumpahan minyak dan perhitungan dampak lingkungan sebagai dasar perhitungan ganti rugi. Dalam MARPOLEX ini, tim Pertamina berperan sebagai fire fighter dan penganggulangan tumpahan minyak. Untuk pemadaman api, Pertamina menggunakan Tug Boat Bintuni, sedangkan untuk penanggulangan tumpahan minyak Pertamina menggelar 300 meter oil boom dari kapal LCT Antasena. LCT Antasena juga dilengkapi dengan satu unit oil containment bag dan satu unit oil skimmer.
Dalam latihan tersebut, dilakukan kegiatan SAR untuk menyelamatkan awak kapal korban kecelakaan kapal tersebut di laut. Kegiatan ini dilakukan oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) didukung oleh helikopter dari Japan Coast Guard. Setelah korban berhasil diselamatkan dan dievakuasi, selanjutnya dilaksanakan kegiatan pemadaman api. Dalam kegiatan ini, Tug Boat Bintuni milik Pertamina melakukan fire fighting bersama dengan KN Trisula.
Untuk skenario penanggulangan tumpahan minyak di perairan, kapal Pertamina, LCT Antasena menggelar oil boom yang ditarik dengan kapal Malia dan Tug Boat Bintuni. Tahap ini dilakukan untuk penyisihan minyak secara mekanis melalui dua tahap yaitu melokalisasi tumpahan dengan menggunakan oil booms dan melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebut oil skimmer.
Selain penanggulangan tumpahan minyak di perairan dalam latihan tersebut juga dilaksanakan latihan pembersihan pantai dari tumpahan minyak.
Dengan keikutsertaan Pertamina di dalam MARPOLEX ini diharapkan dapat melakukan evaluasi tingkat kehandalan peralatan, SDM dan prosedur tanggap darurat penanggulangan tumpahan minyak sebagai implementasi dari salah satu elemen sistem manajemen keselamatan, kesehatan kerja dan lindungan lingkungan .
Disamping itu Pertamina saat ini ikut berperan aktif didalam penyusunan National Contingency Plan (NCP) bersama Kementerian Lingkungan Hidup, dimana diharapkan dengan diterbitkannya NCP dalam bentuk Peraturan Pemerintah ini akan dapat digunakan sebagai payung dari ketentuan / peraturan pencegahan dan penanggulangan tumpahan minyak secara nasional
(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2005)
The Lost World of Mangrove
Hutan Mangrove ini letaknya pun tidak banyak diketahui orang. Terpencil diantara kemegahan perumahan Pantai Indah Kapuk di utara Jakarta. Luasnya hanya sekitar 25 hektar, tidak seberapa jika dibandingkan dengan luas lapangan golf serta lahan perluasan area perumahan elit tersebut. Jika dilihat dari luar, suaka ini sepintas mirip dengan tempat peristirahatan terakhir alias taman pemakaman umum.
Penulis bersama tim survey dan dokumentasi Hupmas Pertamina serta rekan-rekan mahasiswa pencinta alam Universitas Mercubuana berkesempatan memasuki kawasan hutan yang cukup rindang tersebut. Aroma air payau yang khas pun tercium. Jalan setapak terbuat dari kayu yang tersusun rapi berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara tempat yang satu ke tempat lainnya. Jembatan kayu tersebut dibangun di atas rawa dengan mengandalkan tonggak-tonggak kayu yang ditancapkan di masing-masing sisinya. Jembatan ini cukup kuat untuk menahan beban lebih dari 100 kg. Namun demikian, kami tetap harus waspada karena tidak ada yang mengetahui secara tepat tentang daya tahan konstruksinya dibawah air. Apalagi beberapa tonggak kayu penyanggah sudah miring dan lapuk.
Kehadiran rombongan disambut baik oleh penjaga suaka. Ia menjelaskan bahwa di suaka ini terdapat hewan liar jenis primata (kera) dan burung. Kami pun dimintanya untuk berhati-hati agar tidak mengganggu kelompok kera penghuni suaka. Konon, sang “jawara” kelompok tidak suka bila dilihat atau didekati manusia. Ia pun menerangkan bahwa suaka ini memang khusus diperuntukan bagi ekosistem mangrove.
Ekosistem mangrove diartikan sebagai sekelompok tumbuhan yang terdiri dari berbagai jenis dari suku yang berbeda tetapi mempunyai adaptasi morfologi dan fisiologi yang sama terhadap habitat yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Ekosistem ini sering juga disebut sebagai ekosistem peralihan antara daratan dan laut ataupun dengan perairan sekitar muara sungai. Ekosistem mangrove dikenal unik dan rapuh karena mudah rusak akibat dampak kegiatan manusia. Ekosistem ini merupakan tempat tinggal dari beragam jenis ikan, kepiting, udang kerang, reptil (biawak dan ular), burung dan mamalia seperti hewan primata kera ekor panjang (Macaca fascicularis).
Di Suaka Muara Angke terdapat sekitar 45 jenis burung dan tiga kelompok primata liar yang jumlahnya mencapai sekitar 250 ekor. Untuk floranya, ekosistem mangrove di suaka ini didominasi kelompok Bakau (Rhizophora spp), Api-Api (Avicenia Alba) dan Pidada (Sonneratia Caseolaris). Kondisi Suaka Margasatwa Muara Angke mayoritas ditutupi oleh eceng gondok dan gelagah, sedangkan sisanya ditumbuhi oleh pepohonan, diantaranya mangrove.
Di sisi kiri dan kanan jembatan kayu tersebut terdapat berbagai jenis tanaman rawa dan ekosistem mangrove. Hutan mangrove ini memiliki tiga fungsi. Pertama, fungsi ekologi hutan mangrove adalah sebagai nursery ground, spawning ground, habitat satwa liar, penahan intrusi air laut, penetralisir bahan beracun dan sebagainya. Kedua, fungsi fisik sebagai penahan abrasi/erosi, perangkap sedimen, penahan angin dan sebagainya. Ketiga, fungsi sosial ekonomi sebagai penghasil kayu bahan baku arang, kayu bakar kualitas tinggi, tiang pancang, kayu chip, wisata alam dan sebagainya. Semuanya adalah fungsi-fungsi yang tidak pernah terbayangkan oleh kebanyakan masyarakat Jakarta.
Sekarang, kondisi hutan mengrove di Jakarta cukup memprihatinkan. Berdasarkan data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta, kuantitas dan kualitas ekosistem mangrove mengalami penurunan yang sangat drastis. Pada tahun 1980-an, DKI Jakarta memiliki hutan mangrove seluas 1.025 hektar. Namun saat ini, tahun 2004, hanya tersisa sekitar 70 hektar yang terbagi di dua wilayah yang terpisah yaitu Suaka Margasatwa Muara Angke dan Taman Wisata Angke Kapuk. Ironisnya, dari 70 hektar tersebut ekosistem mangrove hanya tersisa sekitar 50% saja.
Pemandangan yang sangat kontras juga terlihat di luar area suaka margasatwa tersebut. Roda pembangunan yang sangat dinamis telah menggilas lahan yang sebelumnya merupakan kawasan hutan mangrove. Di satu sisi, terlihat suaka yang terpencil dan tidak populer. Sedangkan di sisi lain, mesin industri terlihat sibuk menanamkan tiang pancang fondasi bangunan-bangunan megah dan pembangunan lapangan golf. Sebuah pemandangan klasik dalam proses pembangunan ibukota.
Melihat kondisi yang sangat memprihatinkan ini, beberapa pihak terpanggil untuk melestarikannya. Pertamina bekerjasama dengan mahasiswa dan pihak terkait melaksanakan kegiatan peduli lingkungan dengan menanam 2.000 bibit mangrove di Suaka Margasatwa Muara Angke pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2004 lalu. Harapannya dapat memberikan nilai tambah bagi lingkungan hidup disekitarnya dengan melestarikan ekosistem ini. Antusiasme para mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi terlihat jelas. Pada pagi itu, berkumpul sekitar 150 orang bersama-sama dengan satu tekad yakni peduli terhadap ekosistem mangrove. Kegiatan penanaman pun dilaksanakan secara gotong royong. Tidak disangka bahwa lumpur rawa tersebut memiliki kedalaman yang variatif antara 30 cm sampai satu meter. Bahkan di beberapa titik bisa lebih dalam dari itu. Teknik penanamannya pun unik. Plastik yang membungkus akar tanaman dilubangi terlebih dahulu. Selanjutnya bibit diikatkan menggantung pada sebatang bambu yang ditancapkan ke permukaan lumpur.
Kegiatan penanaman bibit mangrove ini bukan yang pertama bagi Pertamina karena sebelumnya telah dilaksanakan disekitar wilayah operasi Pertamina. Sebelumnya, penanaman dilaksanakan di UP IV Cilacap dan UP VI Balongan. Selanjutnya akan dilaksanakan di UP II Dumai dan unit lainnya. Aksi tersebut sebagai wujud kepedulian perusahaan terhadap lingkungan hidup. Namun demikian hal ini tidak menjamin kelangsungan hidup ekosistem mangrove dapat bertahan lama. Banyak pihak yang harus dilibatkan dalam proses konservasi alam ini. Tindakan konkrit yang berkelanjutan harus tetap dilaksanakan demi keseimbangan kehidupan lingkungan.
Termasuk didalam tindakan konkrit tersebut adalah komitmen penegakan hukum terhadap pelaku perusak lingkungan yang seyogianya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Pada April lalu, penegakkan hukum telah dilakukan oleh jajaran Polri. Media massa memberitakan bahwa Kepolisian Daerah Metro Jaya telah (memutuskan) menahan tiga tersangka kasus penebangan bakau di jalan tol Prof. Sedyatmo, Jakarta Utara. Wadir Kriminal Khusus Kombes Agung Sabar Santoso yang menangani kasus ini membenarkan penahanan pelaku tersebut. Kasus ini berawal saat terjadi penebangan hutan bakau di Jl. Prof. Sedyatmo Km 23, Jakarta Utara. Unit Satuan Sumber Daya Lingkungan Polda Metro Jaya mulai menangani kasus ini pada 14 April 2004. Ketua Wahana Lingkungan Hidup DKI Jakarta Slamet Daroyni mendukung tindakan tegas aparat tersebut. Ia mengatakan bahwa bagaimanapun mereka telah melakukan tindak kejahatan lingkungan. Hal ini merupakan shock therapy bagi semua pihak yang melakukan kejahatan lingkungan di DKI Jakarta. Ia juga menambahkan agar aparat penegak hukum mengusut tuntas siapa aktor yang berada di belakangnya.
Peristiwa tersebut bisa dikatakan sebagai angin segar terhadap upaya pelestarian lingkungan. Kini tinggal bagaimana kita menyikapinya dan berperan dalam mendukung keberhasilannya.
(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2004)
Jangan Biarkan Pelita Itu Sirna
Cerita berlanjut, saat guru memberikan rumus dalam ilmu berhitung, tak jarang dari orang tua kita yang harus bisa menghapal dengan cepat karena tidak memiliki sabak dan grip yang pada waktu itu merupakan alat tulis mereka. Batu sabak dan grip menjadi barang mewah kala itu.
Belum lagi masalah penerangan lampu yang saat itu sangat minim. Kondisi seperti ini mungkin bisa mematahkan semangat seorang anak yang ingin bersekolah. Namun tidak demikian yang dilakukan para pendahulu kita, semangat belajar mereka tetap membara, memberi cahaya untuk keluar dari kegelapan.
Suasana memprihatinkan itu pun berangsur membaik. Kondisi fasilitas pendidikan di negeri ini meningkat kualitasnya dari zaman ke zaman. Sabak dan grip sudah digantikan dengan buku tulis dan pena. Tanah tempat berpijak pun telah ditutupi semen dan lantai. Cerita duduk di atas tikar kumal pun sudah digantikan dengan kursi dan meja yang kokoh. Cahaya bukan lagi menjadi persoalan, kualitas penerangan di sejumlah sekolah kini sudah sangat memadai.
Orang tua kini tidak perlu sulit mencarikan sekolah untuk putra putrinya. Apalagi jika mereka tinggal di dekat kota besar. Seperti di Jakarta dan sekitarnya misalnya, bervariasi fasilitas pendidikan yang ditawarkan para pengelola sekolah baik negeri maupun swasta. Bahkan di antara mereka juga bersaing mempromosikan afiliasi mereka dengan salah satu institusi pendidikan di luar negeri. Kita tinggal menyesuaikan kemampuan kocek saja. Semua terlihat begitu mudah, konsumen pendidikan di kota besar seperti dimanjakan dengan segala fasilitas yang tersedia.
Bagi yang memiliki dana lebih, mereka cenderung mengirimkan putra-putrinya ke sekolah yang bonavide. Jelas, fasilitas gedung sekolah yang mentereng dan segudang fasilitas kelas dunia lainnya bisa didapatkan dengan mudah. Beda halnya dengan kelompok yang biasa-biasa saja, tentu kebanyakan dari mereka mencari sekolah untuk anaknya yang sesuai dengan dana yang ada dan standar yang biasa-biasa saja. Dan bagi kelompok yang kurang beruntung, terpaksa mereka pasrah dengan kondisi yang bisa mereka terima, kondisi sekolah yang ala kadarnya. Memang bukan rahasia lagi, jika orang tua banyak mengeluhkan biaya pendidikan yang sangat tinggi sekarang ini.
Kondisi fasilitas pendidikan yang memadai tentunya akan mempengaruhi siswa saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Minimal secara psikologis, mereka akan terpengaruh. Jika mereka menemukan suasana sekolah yang menyenangkan, tentu mereka akan berangkat ke sekolah dengan senyuman. Tetapi beda halnya jika mereka menemukan suasana sekolah yang memprihatinkan, mungkin mereka memilih untuk pergi bermain bola di tanah lapang daripada belajar dalam suasana sumpek dan gelap.
Mungkin bagi kebanyakan penduduk ibukota, suasana fasilitas pendidikan yang memprihatinkan sudah menjadi barang langka.
Tapi tidak bagi saudara kita di luar Jakarta dan Jawa. Tidak usah terlalu jauh melihat, kita bergeser sedikit ke arah Indramayu. Di sana dapat ditemukan Sekolah Dasar Negeri di wilayah Lemah Mekar yang didirikan tahun 1984. Kondisi bangunannya tidak seperti kebanyakan sekolah di kota besar. Bangunan sekolah itu berdiri persis di samping rawa. Becek, banyak nyamuk, dan tidak memenuhi syarat sanitasi lingkungan sekolah. Belum lagi kondisi bangunannya yang cukup menyedihkan. Bahkan orang tua pun merasa enggan menyekolahkan putra-putri mereka di sana. ”Takut sekolahnya roboh,” komentar para orang tua murid. Belum lagi para guru yang saat mengajar harus selalu waspada melihat ke arah pintu. Menurut mereka, seringkali ular naik dari rawa dan merayap memasuki ruang kelas.””Kami jadi takut,” kata mereka. Ditambah lagi ancaman gigitan nyamuk yang bisa berakibat fatal bagi siswa dan guru. ”Pada tahun 2000 dapat dikatakan sekolah ini tidak layak pakai,” tegas Kepala Sekolah Nuriyati.
Kondisi ini yang kemudian pada 2004 mengundang Pertamina untuk mengulurkan tangan sebagai wujud tanggungjawab sosial perusahaan di sekitar daerah operasi. Tidak sedikit biaya yang dibutuhkan untuk merenovasi sekolah ini. Namun semua harus dilakukan demi kepentingan masa depan anak-anak penerus bangsa. Nuriyati menjelaskan bahwa saat itu Pertamina membantu pembangunan sekolah yang terdiri dari enam kelas dan satu kantor guru, penimbunan rawa di halaman sekolah, perbaikan fasilitas toilet, Unit Kesehatan Sekolah, dan tempat wudhu. Setelah semua selesai dibangun dalam waktu sekitar dua sampai tiga bulan, ada yang unik di sekolah ini. ”Kami terapkan budaya bersih di sekolah ini. Sebelum memasuki ruang kelas, mereka diminta untuk melepas sepatu,” kata Nuriyati.
Sekarang kita bergeser jauh ke Klamono, sebuah wilayah pedalaman di Kepala Burung Provinsi Papua. Jalan yang ditempuh dari kota Sorong sekitar 48 kilometer. Jangan dibayangkan kualitas jalan sama dengan aspal hotmix di jalan lintas provinsi. Jalan tanah dan batu akan menyambut anda saat memasuki kawasan tersebut. Dikala hujan maka otomatis beberapa bagian jalan akan berubah menjadi kubangan lumpur. Oleh karena itu, kurang cocok kalau perjalanan ini kita hitung dengan patokan waktu. Cukup lumayan bagi mereka yang suka petualangan.
Di wilayah Klamono, terdapat sebuah Sekolah Dasar Inpres 55. Chris Cornelis Mayor bertindak selaku kepala sekolah di sana. Wilayahnya tidak jauh dari salah satu daerah operasi hulu Pertamina.
Kondisi ekonomi penduduk setempat tidak seberuntung saudara kita di Indramayu. Banyak dari orang tua kehabisan dana untuk pendidikan anak mereka. Di sinilah Pertamina, dalam jaring tanggung jawab sosial perusahaan, mengulurkan tangan kepada mereka. Chris Cornelis Mayor menegaskan bahwa di sekolahnya sekitar 20 orang siswa menerima beasiswa Pertamina.
”Mereka terbagi dari kelas satu sampai kelas enam,” ujarnya. Chris menjelaskan bahwa pemberian beasiswa itu berdasarkan kemampuan ekonomi mereka. Menurut Chris, dari total 215 siswa hanya sebanyak 68 orang saja yang orangtuanya tergolong mampu. ”Sisanya orang tua mereka tergolong tidak mampu,” ujarnya.
Sama halnya seperti Kepala Sekolah SD Lemah Mekar Indramayu Nuriyati, Chris juga menyambut positif bantuan yang diberikan Pertamina. Selain beasiswa, papar Chris, Pertamina juga memberikan bantuan fasilitas olahraga, buku dan fasilitas bangunan sekolah. Masih menurut Chris, bantuan yang diberikan Pertamina sangat terasa manfaatnya terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu, anak yatim piatu dan siswa yang nyaris drop out dari sekolah karena masalah biaya.
Chris menilai, bantuan beasiswa yang diterima siswanya membantu peningkatan prestasi belajar mereka. Ia berharap bantuan terhadap dunia pendidikan bisa ditingkatkan di masa mendatang.
Ironis memang saat kita di kota besar bergelimang dengan fasilitas pendidikan kelas wahid, sementara saudara kita di daerah lain masih melihat pendidikan yang layak sebagai barang langka. Kepedulian terhadap dunia pendidikan yang dilakukan oleh Pertamina tersebar di seluruh daerah operasi perusahaan. Cerita ini hanya sebagian dari cerita yang berserakan dari Sabang sampai Merauke.
Jangan biarkan pelita itu sirna.
(adp_Feature Reportase)
Rally dan Udara Bersih
Pagi masih menyelimuti kota Surabaya. Layaknya setiap hari minggu, kebanyakan orang enggan untuk bergegas bangun dan memilih untuk melanjutkan tidurnya. Sebagian lagi ada yang sudah berolahraga kecil di sekitar rumahnya. Lalu lintas di kota Surabaya pagi itu tampak lengang.
Namun, di kawasan perumahan Citra Raya, sejumlah kendaraan Panther sudah tampak sibuk berlalu lalang. Tampaknya mereka hendak menuju ke suatu tempat. Semua kendaraan mengarah ke cluster Singapura.
Di sisi mobil-mobil tersebut banyak terpasang stiker berbagai produk. Dari kejauhan, di kaca depan bagian atas tampak sebuah stiker besar melintang bertuliskan Pertamina DEX. Sebagian lagi bertuliskan Meditran SX. Saat melihat stiker bertuliskan nomor peserta dan judul event di pintu kiri dan kanan maka jelas sudah bahwa mereka adalah para peserta rally Panther Laga Wisata 2006. Menurut rencana peserta akan diberangkatkan dari Citra Raya pukul 09.00 WIB. Di lokasi start, tampak banyak peserta berlalu lalang mempersiapkan kendaraan mereka. Sebagian besar membawa serta keluarga mereka, bapak, ibu, istri, suami, anak. Tak jarang dijumpai mobil peserta yang penuh dengan anggota keluarganya. Semua tampak ceria.
Lapangan tempat acara pembukaan berlangsung tampak penuh dengan peserta. Salah seorang panitia berbisik, “Rally kali ini diikuti 1.022 peserta. Ini lebih dahsyat dibandingkan dengan event yang lalu di Jakarta. Waktu itu hanya 867 peserta saja.”
Ternyata, pesertanya tidak hanya dari Surabaya. Beberapa peserta ada yang datang khusus dari Jakarta. “Mobil saya bawa sendiri dari Jakarta,” ungkap seorang peserta kepada panitia. ”Ada juga kendaraan peserta dari Bandung, Bali, Sidoarjo, Malang, dan Semarang.
Saat ditanya mengenai rutenya panitia hanya tersenyum,”rahasia mas.” Yang jelas rute rally peserta dibagi menjadi lima. Masing-masing rute memiliki pos dan check point yang berbeda. Peserta melintasi sejumlah check point yang berada di tempat-tempat wisata di Surabaya seperti Masjid Cheng Hoo, Tugu Pahlawan, Monumen Bambu Runcing, dan Kebun Binatang Surabaya. Selain itu mereka juga melintas outlet Pertamina dan singgah di salah satu pos yang terletak di kantor Pertamina UPms V Surabaya.
Saatnya tiba, Wakil Walikota mengangkat bendera start. Para peserta pun melesat. Saat tiba di pos atau check point yang disiapkan panita, tampak para navigator dengan sigap berlari, bergegas menuju pos dan kembali ke kendaraan. Ada beberapa persoalan yang harus mereka jawab. Itu akan menjadi penilaian nantinya. Navigator ternyata tidak hanya pria dewasa. Tampak diantara mereka anak-anak dan wanita. Semangatnya tak kalah dengan para navigator pria. Yang ada dibenak mereka adalah keceriaan, dan sebagian besar berusaha untuk menang.
Beberapa peserta memberikan kesan mereka tentang produk Pertamina. Yuda misalnya. Peserta dari Surabaya ini mengaku menggunakan pelumas Pertamina untuk kendaraan dieselnya. “Mesin saya jadi halus mas,” ujarnya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh para peserta lainnya. Mia, salah satu pengendara wanita di rally ini mengatakan pelumas Pertamina yang dipakainya membuat tarikan mesin diesel mobil yang dikendarainya semakin kencang. Pendapat serupa juga diutarakan oleh Husaeni, Heru dan Peter yang semuanya sepakat pelumas Pertamina bagus untuk mesin diesel mereka.
Pertamina DEX diluncurkan di Surabaya 18 April 2006 yang lalu. Kadiv BBM Djaelani Sutomo mengatakan melalui kegiatan rally ini Pertamina bermaksud untuk menunjukkan kepada masyarakat, khususnya Surabaya, bahwa Pertamina DEX sudah ada di kota mereka.
“Kalau waktu itu (saat launching di Surabaya 18 April 2006, red) Pertamina DEX mungkin hanya diketahui oleh kalangan terbatas, maka sekarang kita sampaikan langsung kepada para penggunanya,” ujar Djaelani kepada Warta Pertamina.
Dengan menggunakan Pertamina DEX, kata Djaelani, diharapkan akan memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Pertamina DEX adalah bahan bakar diesel produksi Pertamina yang spesifikasinya sudah memenuhi standar Euro II dan ramah lingkungan.
Djaelani menambahkan bahwa Pertamina DEX yang ramah lingkungan dapat memberikan performa mesin yang luar biasa. Surabaya merupakan salah satu kota yang cukup padat lalulintasnya. Diharapkan dengan hadirnya Pertamina DEX dapat menjadikan udara di Surabaya lebih bersih. Djelani juga berharap melalui promosi kali ini dapat mengenai sasaran dengan tepat.
Harapan ini bersambut. Beberapa peserta rally mengakui bahwa untuk bahan bakar mereka masih memakai solar biasa. “Kalau Pertamina DEX saya baru tahu sekarang. Boleh juga nanti dicoba untuk mobil kita,” ujar mereka.
PERTAMINA DEX UNGGUL, UNTUK UDARA BERSIH
Udara di kota-kota besar memang memiliki potensi untuk terkena dampak polusi dari kendaraan bermotor. Bukan sebuah cerita baru jika kebanyakan masyarakat yang tinggal di perkotaan harus “berebut” untuk mendapatkan udara segar.
Oleh karena itu, Pertamina meluncurkan Pertamina DEX, untuk lingkungan yang lebih baik. Disamping itu, Pertamina DEX diluncurkan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan pasar akan bahan bakar yang ramah lingkungan sesuai dengan standar Euro II.
Jika dibandingkan dengan produk solar yang ada di pasaran, kandungan sulfur Pertamina DEX ini hanya 300 ppm sedangkan solar biasa mencapai 5.000 ppm. Dari sisi cetane number, Pertamina DEX jelas lebih unggul minimal 53, dibandingkan dengan solar biasa yang hanya 45.
Hasil uji coba membuktikan bahwa Pertamina DEX memiliki segudang keunggulan. Dari sisi akselerasi lebih cepat, tenaga besar, konsumsi irit, tingkat kebisingan yang rendah, dan emisi ramah lingkungan, Pertamina DEX jelas lebih unggul dibandingkan dengan solar.
(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2006)
Pertamina Motor Club: Enduro 4T Ciwidey Tour 2006
angin kencang, petir menyambar, banjir menggenang, pohon tumbang menjadikan malam itu semakin mencekam.
Suasana itu jelas dihadapi oleh para peserta pada Jum’at malam (17/2). Pada malam itu, seluruh peserta diharuskan untuk berkumpul di Simpruk guna melakukan registrasi untuk kegiatan esok hari.
Semangat untuk berangkat nyaris pupus disaat merasakan terpaan hujan malam itu. Namun, dengan tekad bulat, sejumlah peserta memberanikan diri untuk mengambil risiko malam itu. Mereka pun berkumpul, dan mempersiapkan segala sesuatunya di Simpruk.
Acara besar yang direncanakan secara matang adalah Enduro 4T Ciwidey Tour yang diselenggarakan oleh Pertamina Motor Club (PMC) dan didukung oleh pihak sponsor yakni Enduro 4T, Pertamax dan Elpiji.
Touring kali ini sangat istimewa. Selain dari pihak sponsor yang juga ikut berkendara dengan para bikers, touring Ciwidey ini merupakan touring besar pertama yang diselenggarakan PMC. Dari jumlah peserta tidak main-main. Sekitar lebih dari seratus orang ikut di dalam rombongan dan mayoritas adalah anggota PMC. Sisanya adalah para undangan seperti RTC, FXR Club, dan BNI 46 BC, dan undangan lainnya.
Pagi tiba. Adzan Subuh pun membangunkan peserta. Segera setelah mempersiapkan diri, pada pukul 05.00 WIB peserta dilepas keberangkatannya oleh Direktur Keuangan Alfred Rohimone Pembina PMC. Direktur Keuangan berpesan bahwa kegiatan ini merupakan refleksi kebersamaan antara Pertamina, anak perusahaan, dan rekanan. Ia berharap agar masing-masing pengendara menjaga citra positif pribadi dan perusahaan. Itu harus dijaga.
Senada dengan Pembina, Ketua Umum PMC Giri Santoso juga menekankan agar anggotanya dapat berkendara dengan sopan dan aman.
Dari Simpruk, peserta langsung menuju pos 1 di sebuah SPBU di kawasan Tajur. Setelah tiba, peserta dijemput oleh dua orang petugas dari Polantas yang bertugas di kawasan Bogor-Puncak dan dikawal menuju pos 2 di Ciherang.
Sepanjang perjalanan melintas puncak, peserta berbaris rapi dalam formasi dua-dua. Di kesempatan ini juga peserta yang mengenakan rompi Enduro 4T serta membawa bendera melaksanakan kegiatan shooting video promosi untuk Enduro 4T.
Sesampainya di Ciherang, peserta kembali beristirahat dan mengisi bahan bakar. Sebuah kejutan istimewa bagi para bikers bahwa Pembina PMC Alfred Rohimone, didampingi istri, mengendarai sendiri mobilnya dan masih berada di dalam rombongan. Kehadirannya menjadi salah satu penambah semangat para bikers dalam perjalanan touring kali ini.
Perjalanan kembali dilanjutkan menuju pos 3 yang terletak di Rajamandala. Di sini kembali rombongan beristirahat dan mengisi BBM. Setelah itu, rombongan langsung melesat ke Rumah Makan Sindang Reret untuk makan siang.
Perjalanan cukup melelahkan. Namun setelah beristirahat sejenak dan makan siang, stamina para bikers kembali pulih apalagi didorong semangat untuk melihat Kawah Putih, tempat wisata yang terletak di daerah Ciwidey. Indra, salah seorang peserta berbisik, ”mas kalau mau masuk Kawah Putih jangan terlalu sore.”Kata orang setempat, di sana masih banyak binatang buas berkeliaran. Bahaya.”
Gerimis pun mengantarkan perjalanan rombongan PMC menuju Kawah Putih. Jalan menuju ke sana dapat dikatakan memiliki tingkat kesulitan yang cukup lumayan. Selain kondisi jalan yang berlubang, tanjakan yang terjal, tikungan tajam dan ruas jalan yang sempit menjadi faktor ujian bagi keandalan sepeda motor para bikers.
Bikers Enduro 4T ini ingin membuktikan ketangguhan kinerja pelumas yang mereka gunakan. Kebanyakan peserta yang menggunakan Enduro 4T kagum dengan kinerja pelumas produksi Pertamina ini. Karena jelas Enduro 4T ini sudah teruji 48 jam non stop dan 15.000 km jelajah negeri.
Di dalam hati teringat sebuah semboyan saat melintas di Batujajar tepat di depan gerbang pusat pendidikan pasukan khusus, “kalau anda ragu kembali sekarang
juga”.
Tekad kami tetap bulat. Tidak boleh ada keraguan sedikitpun di benak pa≠ra bikers. Apalagi tekad para bikers sudah bulat dan didukung dengan kepercayaan terhadap pelumas yang andal.
Tanpa ragu saat memasuki kawasan wisata Kawah Putih, bikers Enduro 4T langsung tancap gas ke atas. Kondisi jalan yang dilalui lumayan berat. Untuk sepeda motor yang menggunakan Pertamax, rintangan ini sih ringan saja. Karena akselerasi motor mereka pasti jadi oke punya.
Jeritan mesin sepeda motor pun sontak terdengar. Beberapa bikers yang menggunakan mesin 2 tak mengalami kesulitan saat menanjak. Memang begitulah karakter mesin ini. Bagi kendaraan 2 tak, jalan terjal menanjak tidak bisa dianggap sepele. Perlu jarak yang lumayan jauh antar pengendara supaya bisa bermanuver bebas dan grip gas dapat dimainkan maksimal. Karakter ini memang berbeda dengan mesin 4 tak yang memang kuat untuk jalan menanjak.
Rintangan berat itu pun berhasil dilalui dengan selamat. Alhamdulillah, ucap para bikers saat menginjakkan kaki di pelataran parkir kawasan Kawah Putih.
Awan sedikit mendung, kabut sudah mulai turun. Rombongan pun tak sabar untuk segera menuju Kawah Putih untuk mengabadikan diri berfoto dengan latar belakang keindahan alam.
Denting senar kecapi mengucapkan selamat datang kepada para bikers. Terampil jemari pria paruh baya memainkan nada-nada khas Jawa Barat. Senyumnya menyampaikan sambutan hangat, khas Indonesia.
Luar biasa. Menakjubkan. Itu kata yang terbersit dari mulut para bikers saat melihat keindahan alam Kawah Putih. Pertamina Motor Club mengibarkan benderanya di sana.
Para pengendara mengakui ketangguhan produk Pertamina. “Olinya kuat untuk panas dan dingin,” celetuk salah satu peserta di sela-sela perjalanan setelah melalui sejumlah rintangan yang cukup lumayan tadi.
Pada malam harinya, para undangan dan wakil peserta melakukan kegiatan ramah tamah untuk mempererat brotherhood. Acara puncaknya adalah penyematan pin touring oleh Sekjen PMC Adiatma Sardjito kepada para undangan. Peserta menikmati hidangan makan malam yang dimasak menggunakan bahan bakar gas ramah lingkungan Elpiji.
TIPS
Bagi para bikers yang doyan touring, ini ada tips seputar pelumas:
• Untuk kondisi di Indonesia, bikers tentunya membutuhkan pelumas yang telah teruji dan sesuai dengan karakteristik alam Indonesia. Makanya disarankan untuk mencari pelumas yang memiliki kekentalan yang sangat stabil pada temperatur rendah dan tinggi.
• Selain itu, oli juga berpengaruh terhadap kinerja kopling. Jangan sampai lagi enak mengendarai sepeda motor kesayangan waktu touring tiba-tiba koplingnya slip. Ini yang paling nyebelin. Makanya, oli yang diperlukan bikers harus menjamin anti slip kopling.
• Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bikers butuh pelumas yang tidak mudah teroksidasi dan terdegradasi oleh radiasi panas mesin.
• Lebih jauh lagi, bro semua perlu pelumas yangf mampu menjaga kebersihan mesin dari korosi dan keausan dan mampu meningkatkan akselerasi prima. Jadi besutan bro semua bisa meluncur halus dan semua komponen motor utamanya kopling dan rangkaian gear transmisi jauh lebih awet dan tahan lama.
Selamat mencoba.
(adp_Petualangan_Diterbitkan 2006)
Bencana dan Trauma: Penanggulangan Cepat dan Tepat
Di penghujung tahun 2004, tepatnya 26 Desember 2004, Indonesia meneteskan air mata. Bencana dahsyat menghantam ujung utara Sumatera. Tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara menyebabkan angka kematian yang tinggi. Jumlah korban saat itu mencapai bilangan ratusan ribu. Ini menjadi duka kita semua.
Bencana gempa tektonik serupa terjadi di lepas pantai Samudera Indonesia. Gempa berkekuatan 5,9 skala richter mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada Sabtu pagi (27/5). Ribuan bangunan, infrastruktur dan jaringan komunikasi hancur. Bahkan korban jiwa mencapai bilangan ribuan. Pemandangan yang memilukan.
Penanggulangan terhadap bencana alam memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini, penanganan kasus demi kasus harus cepat dan tepat. Keterlambatan akan berakibat pada pemberatan kondisi korban. Semakin lama penanganannya, semakin besar jumlah korban yang meninggal dunia.
Salah satu tenaga medis Pertamina Peduli, dr. Asril Sjakur, mengatakan bahwa untuk penanganan bencana semacam ini tergolong pada traumatologic emergency. Maksudnya adalah suatu kondisi emergency yang menyebabkan trauma fisik (akibat benturan, Red.). “Biasanya, bencana alam seperti ini (gempa bumi, Red.) yang terkena fisiknya, selain sisi psikologisnya,” papar Sjakur.
Ia memberi contoh pada beberapa korban, mayoritas dari mereka mengalami patah tulang dan luka yang disebabkan oleh tertimpa runtuhan rumah tempat tinggal mereka.
Menangani korban trauma prinsipnya sederhana. Intinya, jangan sampai korban yang terkena (luka, Red.) skala ringan menjadi berat karena keterlambatan penanganan. Prinsipnya adalah cepat dan tepat.
Asril Sjakur mengatakan bahwa dalam bencana gempa Yogya kali ini, korban yang diterima di Posko Kesehatan Pertamina Peduli mendapatkan proses life saving terlebih dahulu. “Kita tentukan kondisinya. Kalau merah, langsung kita kirim ke RS Bethesda. Di sana tim dari RSPP sudah siap,” ungkapnya.
Operasi penyelamatan korban gempa membutuhkan sinergisitas yang tinggi. Mobilisasi bantuan medis dan logistik harus sejalan. Dalam kasus ini, logistik tidak hanya terbatas pada makanan. Logistik termasuk obat-obatan dan peralatan. Dalam prosesnya, logistik harus tiba di lokasi just in time. “Oleh karena itu, sebaiknya mereka sama-sama jalan. Jadi kita melihat pada titik di mana kejadian itu terjadi,” tuturnya.
Sjakur menjelaskan bahwa disebabkan oleh kondisi geografis yang tersebar, maka diperlukan mobilitas tinggi untuk mencari korban. ”Tidak mungkin mereka datang sendiri. Kemungkinan kalau mereka diantar. Tapi itu karena keterpaksaan. Seharusnya kita datang ke sana, kerja di sana, urus yang sakit,” tegasnya.
Pendapat yang sama juga diutarakan oleh dr. Pramadhya Bachtiar koordinator tim RSPP yang juga bergabung di bawah koordinasi Tim Medis Pertamina Peduli. Ia menambahkan bahwa pada saat bencana, tim medis yang tiba di lokasi tidak bisa diam dan menunggu. Pramadhya menegaskan bahwa saat itu tim medis berinisiatif bergerak masuk ke lokasi yang terpencil.
Dr. Pramadhya mengatakan bahwa saat itu Tim Pertamina Peduli mendapatkan informasi dari PMI, berita dan dari masyarakat mengenai lokasi yang belum mendapatkan pertolongan medis. Oleh karena itu, Tim Pertamina Peduli bergegas menuju ke lokasi dan memberikan bantuan medis dan logistik. ”Rata-rata di setiap wilayah yang kami kunjungi, Tim Medis Pertamina Peduli adalah tim medis pertama di sana,” ujar Pram.
Ia mengatakan bahwa dalam operasional di lokasi, tim medis bekerjasama dengan aparat desa dan pihak puskesmas setempat. ”Ini maksudnya supaya mereka mengetahui tindakan apa yang telah kami lakukan sehingga
nantinya mereka bisa memberikan tindakan yang tepat pasca penanganan ini,” katanya menambahkan.
Pram memaparkan bahwa penanganan operasi korban gempa terbagi dua jenis yakni operasi cito dan operasi elektif. Operasi cito sifatnya segera karena golden period-nya hanya delapan jam. Jika terlambat, kondisinya bisa memburuk bahkan mengancam jiwa. Sedangkan operasi elektif sifatnya lebih ringan dan bisa dijadwalkan.
Posko Medis
Tim Medis Pertamina Peduli menurunkan tenaga medis yang tidak sedikit yang secara keseluruhan mencapai 43 orang. Untuk membantu kegiatan operasi di RS Bethesda, Pertamina Peduli menempatkan dokter spesialis dari RSPP yang dibantu paramedis.
Untuk posko medis di lapangan, Koordinator Posko Kesehatan Pertamina Peduli dr. Firdaus Junaini mengatakan bahwa pada awal pasca gempa, Pertamina Peduli menyiapkan tenda posko di lapangan Dwi Windu bergabung dengan PMI dan bekerjasama dengan Kodim 0733 BS/Semarang. Selain itu juga mendirikan posko kesehatan di Kecamatan Prambanan.
Dr. Pramadhya menjelaskan bahwa tim medis membawa peralatan, obat-obatan, dan tenaga paramedis pendukung. Dokter spesialis yang diterjunkan terdiri dari spesialis bedah ortopedi dan traumatologi, spesialis bedah umum, dan dokter anastesi. ”Tim kami lengkap,” kata Pram.
Setelah beberapa hari, jumlah pasien tidak sebanyak saat satu hari pasca bencana. Oleh karena itu, kata dr. Firdaus Junaini, Pertamina Peduli proaktif menjemput bola. Tim Medis Pertamina mendatangi pelosok desa yang tidak terjangkau menggunakan dua unit ambulance milik RSPP, dua unit semi ambulance milik UP IV Cilacap, dan satu unit milik UPms IV. Pasien yang dapat tertolong sekitar 75 sampai 100 orang per ambulance per hari. Berdasarkan laporan posko kesehatan, Tim Medis Pertamina Peduli memberikan bantuan ke pelosok, diantaranya desa Krapyak Wetan, desa Karang Weden, desa Gunung Payuh, Desa Srihardono, desa Pakah Palbayang, desa Genting Tirtomulyo, desa Imogiri, desa Pundong, desa Gayamharjo, desa Duku Nawung, desa Jatisari, dan desa Bugisan.
Berdasarkan laporan dari posko kesehatan Pertamina Peduli Yogyakarta pada 2 Juni 2006, jumlah pasien yang ditangani sebanyak 1.208 orang, terdiri dari 968 kasus umum dan 241 kasus bedah. Enam diantaranya untuk bedah tulang.
Suka Duka
”Kami diperintahkan GM UPms IV untuk berangkat Sabtu sore. Kami standby di lokasi Sabtu malam,” ujar Dr. Firdaus saat ditanya awal kegiatan posko kesehatan Pertamina Peduli.
Dirinya mengaku kebingungan karena tidak ada ”peluru” yakni obat-obatan dan dokter. ”Cari makan sulit, ada tetapi jauh, dan harganya luar biasa mahal. Makan susah, minum susah, mandi susah. Begitu obat dan tim medis datang, kami senang. Semua sakit maag kami hilang,” ujarnya seraya berkelakar. ”Kemudian ada kontak dari RSPC mereka siapkan tenaga medis dan obat-obatan lengkap. Kemudian RSPP juga kontak untuk kirim bantuan. Minggu pagi kami sudah bisa bekerja.”
Pada kesempatan terpisah, dr. Pramadhya menceritakan sebuah success story Tim Medis Pertamina Peduli. Saat itu, salah satu pasien yang diterima Tim Pertamina Peduli di RS Bethesda tergolong sangat parah. “Dugaan awal kami, pasien ini tidak dapat tertolong,” ujarnya.
Ia menjelaskan kondisi trauma perut yang dialami pasien telah menyebabkan kerusakan parah pada hati sehingga terjadi pendarahan intra abdominal yang hebat. “Tapi dokter spesialis bedah Joko Sanyoto bersama timnya berusaha maksimal dan akhirnya pasien dapat tertolong setelah menjalani dua kali operasi,” ceritanya.
Keberhasilan Tim Pertamina Peduli dilandasi adanya team work yang solid dari seluruh lini. Perjuangan yang dilakukan seluruh Tim Pertamina Peduli semata-mata sebagai wujud kepedulian perusahaan terhadap korban bencana di Yogyakarta dan sekitarnya.
(adp_Feature Reportase_Bencana Gempa Jogja_Diterbitkan 2005)