Sukun (Artocarpus communis) merupakan buah yang sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan orang di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Sukun dikenal sebagai buah yang dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan yang cukup digemari masyarakat. Bahkan, sukun sebagai makanan ringan, juga digemari oleh publik di luar negeri.
Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Agribisnis Departemen Pertanian, 2002 , dijelaskan bahwa sukun memiliki kandungan gizi dan karbohidrat yang cukup lumayan. Selain karbohidrat, sukun memiliki kandungan protein, lemak, vitamin B1, B2, dan vitamin C, serta mineral (kalsium, fosfor, dan zat besi). Selain itu, kandungan air di dalam buah yang juga disebut bread fruit ini cukup tinggi yaitu sekitar 69,3%.
Jika dibandingkan dengan jenis ubi-ubian, sukun memiliki kalori yang lebih tinggi. Suhardjo dkk. dalam “Pengolahan Tepung Sukun untukMendukung Pengembangan Agroindustri Pedesaan”, menjelaskan bahwa energi di dalam sukun per 100 gram bahan dalam bentuk tepung adalah sebesar 320 Kal. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan ubi kayu yang hanya 158 Kal, ubi jalar merah 125 Kal, maupun kentang hitam 142 Kal.
Sesuai dengan perkembangannya sekaligus sebagai upaya diversifikasi bahan pangan, sukun kini juga diolah menjadi gaplek sukun, tepung sukun, pati sukun, atau tapai sukun, hingga sebagai camilan atau makanan ringan. Dengan demikian, kehadiran sukun sebagai bahan pangan alternatif bisa dipertimbangkan untuk mengurangi tingginya angka konsumsi beras Indonesia yang pada 2002 mencapai 136 kg per kapita yang tidak bisa tercukupi dengan produksi beras dalam negeri.
Tepung sukun sangat prospektif untuk dikembangkan. Menurut Suhardjo, selain sebagai cara untuk mengawetkan buah sukun sewaktu musim panen juga dapat diolah menjadi berbagai produk olahan seperti misal krupuk, mie, kue basah, kue kering, dan lain-lain. “Ini sekaligus sebagai substitusi tepung terigu,” tulis Suhardjo.
Proses pembuatan tepung sukun tergolong sederhana. Buah sukun dibersihkan, dikupas, dicuci, dipotong tipis, dijemur dan menjadi gaplek sukun. Setelah itu, gaplek sukun ditumbuk halus, diayak, dan terakhir dijemur.
Alternatif lain pengolahan sukun sebagai makanan adalah dengan cara yang paling sederhana yakni digoreng. Cara ini paling lazim dilakukan kebanyakan orang. Proses pembuatannya sederhana. Pertama, buah sukun dikupas kulitnya. Selanjutnya daging buah tersebut dicuci hingga bersih. Setelah itu, daging sukun diiris tipis sesuai dengan kebutuhan selanjutnya diberi bumbu racikan seperti kunyit, kemiri dan bumbu penyedap. Setelah proses tersebut selesai maka tahap akhir adalah menggoreng daging buah sukun tersebut. Dengan demikian kripik sukun siap dihidangkan sebagai makanan kecil.
Keripik Sukun ini sudah mulai dikembangkan sebagai argoindustri. Menurut Suhardjo pula, pengerajin keripik ini pada umumnya berkembang di daerah pinggiran atau di kota, bukan di pedesaan yang merupakan pusat produksi sukun. Sementara ini, pedesaan masih sebagai penyedia bahan mentah sendangkan kota sebagai tempat pengolahannya.
Berawal dari dua butir
Usaha membuat sukun sebagai makanan ringan ternyata mampu menggugah hati H. Darto (67) sebagai penggerak roda ekonomi keluarganya di masa pensiun. Darto menceritakan bahwa ia tergugah untuk memulai usaha ini saat diminta pendapat oleh seorang rekannya. Ia diminta untuk memikirkan oleh-oleh khas Cilacap yang bisa diberikan kepada tamu rekannya tersebut. Setelah dipikirkan beberapa saat, dengan berbekal sisa pesangon pensiunnya, ia meminta agar istrinya membeli dua butir sukun untuk diolah menjadi makanan ringan. Saat itu, ujar H. Darto, sebutir sukun harganya hanya Rp. 200,-. Ia tidak pernah menyadari bahwa dua butir itu merupakan awal dari keberhasilannya. ”Responnya positif, sriping sukun buatan istri saya digemari oleh para tamu,” ujar Darto senang. Sejak 1994 itu ia mulai merintis usaha pembuat sriping sukun dibawah bendera UD Mahkota DJ berdomisili di Cilacap, Jawa Tengah.
H. Darto sempat bingung dengan keterbatasan modal yang ia miliki untuk membeli bahan baku. Informasi demi informasi dikumpulkannya dalam rangka mencari pinjaman. Sampai pada saat rekan-rekannya menyarankan agar menghubungi Pertamina. ”Saya coba ajukan ke Pertamina untuk bantuan modal dan alhamdulillah saya mendapat bantuan Rp. 10 juta,” ujarnya gembira. Pinjaman dari PUKK (sekarang PKBL - Red.) Pertamina UP IV Cilacap itu memberikan nafas baru bagi usahanya. ”Saya mendapat pinjaman lunak dalam jangka waktu 36 bulan,” ujarnya.
Usaha itupun bergulir mulus. Ia mulai menuai hasil dari usaha sriping sukun. Saat ditanya soal penghasilannya, dengan rendah hati ia mengatakan, ”Pendapatan kotor kami minimal Rp. 1 juta per minggu.”
Dengan berjalannya usaha H. Darto ini telah membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga disekitarnya. Ia mempekerjakan 10 orang warga sekitar yang terdiri dari delapan wanita dan dua pria. Upah per minggunya sesuai dengan UMR yakni dalam kisaran rata-rata Rp. 17.500,- per hari per orang.
Dalam mengelola usahanya ini, H. Darto berprinsip untuk tidak takut bersaing dan senantiasa menjaga mutu dan kualitas. ”Itu yang selalu saya tekankan dalam menjalankan usaha ini,” tegasnya. Ia bertutur bahwa dirinya sempat dihadapi dengan persaingan ketat. Saat itu ia diberikan pilihan untuk menurunkan harga, yang menurutnya sama saja dengan menurunkan kualitas. Tantangan itu ia hadapi dengan tegar. ”Saya tidak mau menurunkan kualitas sriping sukun saya sedikitpun. Harga mahal tidak jadi masalah, yang penting kepuasan konsumen,” ujarnya lugas.
Hingga saat ini, sriping sukun UD Mahkota DJ telah didistribusikan ke Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Surabaya, Jogja, dan Cilacap. Pada Januari 2005, H. Darto juga sempat memasarkan produknya di luar negeri. ”Waktu itu saya diajak Pertamina untuk ikut pameran di Dubai, Timur Tengah selama 21 hari. Pesertanya 55 negara,” ujarnya.
H. Darto mengatakan bahwa pada awalnya ia tidak menduga bahwa produk makanan ringannya digemari oleh para pengunjung stand pameran. ”Saya bawa 600 bungkus, kok ya habis dalam enam hari,” ujarnya sambil tertawa.
Sebagai upaya pemasaran produknya di sana, ia menitipkan sample dan brosur tentang usahanya kepada pihak perwakilan RI di Dubai. Ia mengatakan bahwa sejak ia dibuatkan brosur dan sering diajak menjadi peserta pameran oleh Pertamina, penjualannya meningkat sampai 50%. ”Saya pernah pameran di Jakarta dua kali dan beberapa kota lain,” ujarnya.
H. Darto masih memprioritaskan pasar domestik dibandingkan dengan pasar di luar negeri. ”Kalau untuk ekspor saya masih repot,” ujarnya.
Akibat dari kegiatan promosinya tersebut, H. Darto pernah menerima pesanan dari Bandung sebanyak satu ton sriping sukun. Satu bungkus chesse stick kemasan 200 gram dijual dengan harga Rp. 3.500,- dan sriping sukun kemasan yang sama seharga Rp. 3.000 ,-. ”Kalau di toko harganya bisa diatas Rp. 4.000,-,” ujarnya.
Dalam menjalankan usahanya, H. Darto menyadari bahwa keberadaan UD Mahkota DJ harus dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat di lingkungannya. ”Setiap Lebaran saya memberikan kupon kepada warga sekitar yang dapat ditukarkan dengan makanan, sirup, dan lain-lain,” ucapnya.
Mengelola usaha ini tidak mudah. H. Darto mengakui bahwa pengetahuan mengenai manajemen bisnis sangat penting. ”Saya pernah ikut kursus administrasi dan manajemen industri kecil diajak Pertamina,” ungkapnya.
Sebagai pengusaha, ia kerap menghadapi persoalan dan kendala terutama yang berkaitan dengan kualitas makanan yang ia produksi. H. Darto mengatakan bahwa saat ini orang banyak memperhatikan soal kesehatan. Oleh karena itu, katanya, kita juga harus menjawab persoalan ini. Masalah yang dihadapi oleh kebanyakan pengusaha makanan gorengan adalah soal kandungan kolesterol. Menurutnya, saat ini ada teknologi buatan Universitas Gajah Mada yang bisa dijadikan solusi masalah tersebut. Alat vacuum pengering tersebut harganya sekitar Rp. 3 juta dengan volume 10 kilogram. ”Saat ini saya masih mengusahakan untuk mendapatkan pinjaman lunak guna pengadaan alat ini,” ujarnya.
Usaha yang sudah ditekuninya selama kurang lebih sepuluh tahun ini telah mampu membantu membawa kehidupan H. Darto dan keluarga ke tingkat yang lebih baik. Tidak pernah ada yang menduga sebelumnya bahwa dua butir sukun pada akhirnya bisa membawa H. Darto sampai ke negeri orang. ”Ini buah dari kerja keras. Saya senang, dengan usaha ini, saya bisa diberi kesempatan oleh Pertamina untuk pergi melihat negara orang,” katanya dengan gembira.
(
adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2005)