Senin, 10 Agustus 2009

HARLEY DAVIDSON FOR SALE...!

Dijual Harley Davidson Sportster 1962 883 cc
Harga Rp 45 Juta

Ada teman menjual HDnya. Kalau berminat tulis di komentar aja ya... tinggalkan alamat email atau nomor HP. thanks.




Sabtu, 01 Agustus 2009

Prambanan: Proyek 1000 Candi




Minggu, 12 Juli 2009

Sebutan proyek 1000 candi sering kami gunakan untuk menyebut tugas dadakan yang sering diberikan dari pimpinan di kantor. Maklum tim kerja kami selalu menjadi harapan terakhir setiap ada hal yang tidak jelas, tidak tahu harus diapakan dan harus selesai segera.

Cerita 1000 candi pasti sudah didengar oleh orang Indonesia di seantero negeri. Adalah Bandung Bondowoso dan Loro Jonggrang yang menjadi tokoh utama dalam kisah itu.

Loro Jonggrang adalah putri Prabu Boko
-raja jahat yang mati dibunuh Bandung Bondowoso- yang memberi syarat kepada Bandung Bondowoso untuk membangun 1000 candi dalam satu malam jika ingin menikah dengan dirinya. Bandung Bondowoso lantas mengerahkan pasukan jin untuk membantunya.

Menjelang matahari terbit, Bandung Bondowoso nyaris berhasil menyelesaikan tugasnya. Khawatir akan keberhasilan Bandung, dan tidak ikhlas menikah dengan orang yang membunuh ayahnya, maka Loro Jonggrang meminta bantuan wanita di desa untuk memukul penumbuk padi. Tujuannya supaya ayam jago berkokok dan mengakhiri kepanikan itu dengan kekalahan Bandung.

999 jumlah candi yang berhasil dibuatnya. Mengetahui kecurangan Loro Jonggrang , Bandung pun murka dan mengutuknya menjadi arca candi ke seribu. Tak hanya itu, para wanita di desa itu juga dikutuk menjadi perawan tua.

Kisah itu yang menjadi legenda 1000 candi di kompleks Prambanan. Perjalanan dari Jogja ke Prambanan tidak memakan waktu lama. Sekitar 30 menit dari Prawirotaman melalui Ring Road Utara mengambil arah ke Solo.

Selain wisata kompleks Prambanan, jika anda ingin mengambil paket, loket menyediakan tur Prambanan - Candi Boko. Tidak terlalu mahal.

Ups, ternyata kamera dikenakan pungutan Rp 1.000 untuk kamera foto, dan Rp 3.000 untuk kamera video. Tapi harga itu tidak sebanding dengan keindahan purbakala yang bisa diabadikan untuk memuaskan hasrat narsis dan unggah foto di facebook.

Panas terik akan menemani perjalanan wisata anda di kompleks Prambanan. Kacamata hitam, topi lapangan dan sebotol air minum menjadi benda wajib para pelancong.

Suasana Prambanan saat kami tiba masih dalam proses rehabilitasi pasca gempa. Gempa yang sempat mengguncang Jogja beberapa waktu lalu itu juga sempat meluluhlantakkan beberapa bagian candi di kompleks Prambanan.

Beberapa rombongan wisatawan tampak sibuk mengabadikan kemegahan candi Whisnu. Ada sekelompok mahasiswa pariwisata yang sibuk menjelaskan kisah candi ini kepada turis asing. Anak kecil berlarian menghindari panas matahari. Orang lanjut usia berusaha meniti tangga demi tangga dibantu anak dan cucunya.

Sementara itu, di kejauhan petugas keamanan mengawasi lingkungan untuk menjamin kenyamanan kami semua. Dari atas anjungan foto tampak sekelompok orang menjajakan jasa foto kilat. Menjelang pintu keluar terlihat pedagang kaki lima menawarkan cinderamata.

Suasana yang harmonis, semua hidup berdampingan, saling membantu. Angin menyapa lembut, betapa damai dan indahnya Indonesiaku ini.

Kompleks Prambanan terdiri dari banyak candi. Disebut candi Prambanan karena lokasinya berada di daerah Prambanan. Wisata yang tidak mahal, menarik, penuh dengan pesan moral, peninggalan purbakala yang sangat berharga warisan nenek moyang bangsa.

Menuju Jogja dari Salatiga


Sabtu, 11 Juli 2009

Perjalanan "kereta tua" terasa agak melambat saat kami memasuki kawasan perbukitan di sekitar Salatiga. Rute Kopeng yang indah dan menantang itu terpaksa kami ikhlaskan dan kami pun memilih jalur konvensional melalui pertigaan Bawen menuju Magelang.Toh tidak ada yang bisa kami lihat di Kopeng karena gelap malam sudah turun menyelimuti langit Jawa.

Salatiga sebenarnya tidak ada di agenda perjalanan kami. Tapi, salah satu mantan bos saya ada yang mengisi usia pensiunnya di kawasan perbukitan di sana. "Kami membuka café dan menjual tanaman hias," ujarnya ramah saat menerima kedatangan kami. Rumah asri disulap menjadi café yang bersebelahan dengan kebun pembibitan tanaman hias. Kedatangan kami memang satu hal yang mereka tunggu di hari itu.

Suara muadzin terdengar sayup melantunkan baris terakhir adzan magrib. Di SPBU terdekat, mobil tua ini pun menepi. Dalam hening kami bersujud kepada Yang Maha Kuasa.

Malam itu kami merasakan dua hal yang kontradiktif. Pertama, semangat advonturir untuk menembus gelap kota-kota di Jawa Tengah, antara Salatiga dan Jogjakarta. Kedua, rasa lelah yang sudah mulai mengikis rasa keingintahuan kami.

Jalan berliku dan mendaki mengantar kami menuju Magelang. Tak terasa, kami sudah berada di antrian kendaraan yang mulai tampak menjelang pusat kota Magelang. Suasana di tengah kota pun terlihat ramai. Hiruk pikuk manusia memadati alun-alun menambah kesibukan beberapa Polantas mengatur jalan. Agak semerawut dan membingungkan, tapi semua orang terlihat senang.

Arah menuju Jogja menghilang. Kami pun kehilangan petunjuk. Jalan menyempit dan menjadi satu arah. "Lurus," kata hati saya meyakinkan diri.

Lumayan melegakan saat kami melihat papan penunjuk arah menuju candi Borobudur. "Kita berada di jalan yang benar," ujarku. Laju menuju Jogja.

Tak banyak yang bisa dilihat karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi tidak demikian dengan kondisi di jalan Malioboro, masih ramai. Jadi ingat lantunan lagu KLA Project..Ramai kaki lima, menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila...

Prawirotaman 2, kami disambut gapura keramik yang mencantumkan nama-nama penginapan di jalan itu. Ide yang bagus untuk penunjuk jalan di tempat wisata. Sebuah rumah tamu di jalan itu menjadi tempat kami menginap. Bagi yang belum tahu, sebagai gambaran suasana di Prawirotaman persis seperti kawasan jalan Jaksa di pusat kota Jakarta. Banyak turis backpacker yang memilih guest house di kawasan ini. Faktor harga dan ketenangan menjadi pilihan yang diunggulkan di lingkungan ini.

Waktu istirahat untuk kami dan kereta tua kami Lancer 1983.

Sabtu, 18 Juli 2009

Wina: Walzer Stadt

Tidak pernah terbayang sebelumnya untuk melihat kota Vienna. Paling banter yang bisa dilakukan hanya mendengar cerita tentang keindahannya dari orang yang pernah ke sana, melihat dari gambar foto dan piring kayu pajangan dinding oleh-oleh khas dari sana, atau tayangan televisi.

Kesempatan itu pun tiba. Penerbangan cukup melelahkan. Paling tidak 20 jam kami di udara. Dari udara yang tampak hanya ladang hijau, beberapa kelompok bangunan seperti sebuah perkampungan kecil. Tapi yang banyak terlihat adalah kincir angin pembangkit listrik. Di dalam hati hanya bisa bertanya, entah kapan Indonesia bisa memanfaatkan angin sebagai tenaga pembangkit listrik. Padahal potensi yang kita miliki sangat besar mencapai sekitar 81.000 km garis pantai.

Anyway, pesawat pun akhirnya mendarat setelah tiga kali transit di Singapura, Kolombo, dan Dubai. Saya sebenarnya sedikit khawatir karena tidak bisa berbahasa Jerman. Memang bahasa Jerman menjadi bahasa sehari-hari di Vienna. Seluruh papan nama dan penunjuk jalan berbahasa Jerman. Lumayan keriting juga untuk memahaminya.

Setibanya di sebuah ruang tunggu saya sedikit lega karena melihat rekan-rekan dari KBRI yang menunggu kedatangan kami. Kami pun bergegas ke tempat bagage claim untuk mengambil barang bawaan yang lumayan banyak.

Dari bandara, kami langsung menuju Hoffburg Palace untuk menyiapkan stand pameran. Hoffburg, sebuah istana yang megah.

Sumber di KBRI Wina menjelaskan bahwa Istana Hofburg adalah bekas Istana Kaisar Austria. Situs KBRI Wina lebih memperinci fungsi istana tersebut. Sebagian dari gedung tersebut dewasa ini dipakai untuk Istana Presiden, Kantor-kantor pemerintah, Museum Musik, Museum für Völkerkunde (Museum Ethnologi) dan Schatzkammer. Di dalam Museum Etnologi tersebut terdapat ruang Indonesia dan Perpustakaan dengan literatur mengenai kebudayaan Indonesia. Di dalam Schatzkammer dipamerkan perhiasan berharga dari kerajaan Austria. Di depan istana terdapat Heldenplatz (Lapangan Pahlawan) dengan patung Prinz Eugen (yang mengalahkan Turki) dan Erzherzog-Karl menunggang kuda, yang mengalahkan Napoleon. Hoffburg terletak di distrik satu alias pusat kota.

Di sekeliling istana dapat ditemui para pengamen musik klasik. Sebagian dari mereka ada yang berdandan ala zaman kerajaan. Mereka bermain antara tiga sampai lima orang dengan alat musik yang bervariasi. Suara yang dihasilkan begitu indah didukung dengan fisik bangunan di sekitar yang membantu menciptakan gaung musik yang sulit dilupakan. Bahkan ada juga yang mengamen dengan menggunakan piano. Sungguh luar biasa.

Kota Wina memang tidak terlepas dari musik. Dengan demikian Wina mendapat julukan juga "Walzer Stadt" (Kota Walz). Banyak komponis-komponis ternama di dunia memulai kariernya dikota Wina. Staatsoper, Volkstheater, Musikverein, Philharmoniker dan Wiener Sängerknaben mempunyai solisten dan dirigen yang namanya cukup dikenal di dunia musik.

Wina dikenal juga sebagai kota theater. Banyak theater besar maupun theater kecil yang cukup baik untuk dilihat. Di musim panas pada umumnya theater-theater besar ditutup, tetapi hal ini tidak mengurangi daya tarik para pengunjung untuk melihat theater-theater kecil yang kwalitas pertunjukannya cukup baik. Sayang kami tidak memiliki waktu untuk menyaksikannya.

Sekitar pukul 20.00 waktu setempat kami baru selesai menyusun materi pameran. Tidak ada kendala yang berarti dalam proses persiapan pameran. Hanya saja karena mereka berbahasa Jerman dan memiliki karakter yang Lelah yang dirasakan tidak dapat membohongi bahwa kami sudah harus istirahat. Ditambah lagi lelah sisa penerbangan yang belum sempat dilepas. Kalau dipikir-pikir di Indonesia sudah jam 02.00 dini hari. Setelah mencari makan malam, kami pun berstirahat.

Pagi hari di kota Wina tidak jauh berbeda dengan kota lain. Hanya saja perbedaannya pada jam kerja justru banyak orang yang bersantai menikmati matahari. Aneh, bukankah seharusnya mereka bekerja? Atau mungkin kota ini terlalu indah sehingga orang banyak yang melancong ke sini.

Wina sebagai kota tua memang memiliki banyak obyek wisata yang menarik dan mempunyai nila budaya dan sejarah yang tinggi. Situs KBRI Wina memberikan info detil tentang obyek wisata tersebut: Stephansdom (Gereja Katedral Stephanus) didirikan tahun 1137 selesai dibangun tahun 1455. Katedral berbentuk gotik ini terletak di pusat kota Wina. Di sekitar Katedral terdapat pusat pertokoan yang menjual pakaian, perhiasan, barang-barang kesenian dan souvenir. Letaknya tidak jauh dari istana Hofburg.

Ringstraße merupakan jalan lingkar sepanjang 6,5 km menglilingi pusat kota Wina (centrum) dahulu adalah pagar benteng kota Wina, yang kemudian pada tahun 1857 oleh Kaisar Franz Joseph dijadikan jalan. Schwedenplatz (lapangan Swedia) berada di seberang Danau Kanal di depannya terdapat Kantor OPEC. Di Kanal tsb terdapat restauran Kapal (berhenti) . Urania adalah gedung peneropong bintang.

Regierungsgebäude (Gedung Pemerintah) didepannya terdapat patung Jenderal Radetzky menunggang kuda. Stadtpark, di taman tersebut terdapat patung Komponis terkenal Johann Strauß Jr. dan Franz Schubert. Musikverein, adalah gedung Konser, diantaranya untuk grup musik "Wiener Philharmoniker", Karlskirche (Gereja Karolus) yang dibangun pada tahun 1716-1737 dengan gaya barok, sebagai rasa syukur atas berhentinya wabah pes. Didekat gereja tedapat Technische Universität. Staatsoper (Gedung Opera) dibangun tahun 1861-1869 yang hancur oleh bom pada Perang Dunia ke-2 dan kemudian dibangun kembali tahun 1948-1955. Kunstakademie adalah Akademi Senirupa dimana di dekatnya terdapat patung Pujangga Friedrich Schiller dan Wolfgang Goethe. Burggarten (Taman Istana) didalamnya terdapat patung Komponis terkenal Wolfgang Amadeus Mozart. Kunsthistorisches Museum (Museum Kesenian) , di dalamanya terdapat koleksi barang-barang kesenian, khususnya lukisan-lukisan.

Naturhistorisches Museum (Museum Alam) didalamnya terdapat koleksi binatang yang diawetkan dan tumbuh-tumbuhan serta batu-batuan. Gedung Parlemen dibangun tahun 1873-1883 adalah tempat sidangnya wakil-wakil rakyat yaitu Nationalrat (Dewan Nasional) dan Bundesrat (Dewan Federal). Rathaus (Balai Kota) didirikan tahun 1872-1883 adalah kantor Gubernur dan Parlemen Wina. Burgtheater (Teater Kerajaan) dibangun tahun 1874-1888 adalah tempat diadakannya sandiwara-sandiwara sastra klasik Jerman.

Universität Wien (Universitas Wina) didirikan tahun 1873-1883. Wina mempunyai Universitas sejak tahun 1365. Untuk yang hobi belanja, bisa langsung menuju ke Parndorf Designer Outlet Center berada di daerah 7111, sekitar 40 menit dari Wina. Transportasi harus dengan kendaraan pribadi melalui Autobahn A4 ke arah exit 43 Neusiedl am See.

Satu tempat yang sempat membuat kami terpana adalah istana musim panas kaisar yakni Istana Schönbrunn terletak di Wina Barat merupakan istana musim panas Kaisar Austria. Istana tersebut didirikan oleh Ratu Maria Theresia pada tahun 1744-1775. Sebagian dari Istana dijadikan museum. Dalam museum tersebut dipamerkan benda-benda peninggalan kerajaan Austria, seperti lukisan, pakaian dan alat-alat rumah tangga. Di dalam komplek istana tersebut terdapat taman, kebun binatang, hutan tanaman dan di atas bukit terdapat Gapura Gloriette. Pemandangan yang luar biasa. Kenangan yang membekas untuk hari terakhir kami di Wina.

(adp_Overseas Journey - Europe)

Freedom: Destination is Nothing, Journey is Everything

"Ya Allah janganlah Kau turunkan hujan dan selamatkan kami dari semua mara bahaya", doaku sesaat sebelum menyalakan sepeda motor dan berangkat menembus udara malam menuju Anyer.

Touring ke luar kota menggunakan sepeda motor bukanlah hal yang baru bagi para bikers terutama di saat liburan atau akhir pekan. Sayup terdengar Redemption Song Bob Marley dari salah satu scooter peserta mempertegas nuansa kebebasan di kalangan bikers.

Kalender akhir pekan pertama April 2007 menarik perhatian para bikers untuk melakukan touring tentu karena ada tanggal merah di situ. Kali ini PMC didukung oleh Pelumas Pertamina menggelar touring Enduro 4T Racing Anyer Tour 2007. Pesertanya tidak tanggung-tanggung, mencapai lebih dari 100 motor. Touring dilepas oleh Manajer Retail Marketing Pelumas Hasto Wibowo dari kantor pelumas di Simpruk, Jakarta.

Jalan malam bagi kelompok bikers dengan jumlah sedikit memang mengasyikan karena cuaca tidak panas dan relatif lancar. Situasi menjadi menegangkan bila jumlah motor lebih dari 30 buah apalagi mencapai lebih dari 100 sepeda motor. Tingkat risiko sangat tinggi. Aba-aba road captain tidak terlihat, banyaknya lobang di jalan dan yang paling penting kita harus pandai menjaga jarak dengan motor didepannya. Kondisi ini bertambah kesulitannya bila rasa kantuk menyerang. Sering terjadi jarak antar motor terlalu dekat sehingga berisiko terjadi tabrakan beruntun dan motor dapat saling berjatuhan. Untuk menyikapi hal ini, keandalan pengendara dan ketangguhan sepeda motor menjadi faktor utama yang harus diperhatikan.

Untuk sepeda motor, terutama mesinnya, para bikers peserta touring menggunakan pelumas Enduro 4T Racing. Otomatis keandalannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Anto, salah satu peserta, mengatakan bahwa dalam turing ini Enduro 4T Racing bagus. ”Tidak slip kopling, respon enak dan cepat, bahan bakar irit, tidak ada kendala di mesin, dan untuk mesing suaranya halus,” ujarnya. Ia mengakui bahwa dirinya memang mengharapkan Pertamina memproduksi oli dengan SAE 10W 40 karena ia biasanya pakai Prima XP atau Fastron. ”Kalau sekarang ada Enduro 4T 10W 40 saya akan pakai,” tegasnya mantap.

Dari beberapa kelompok motorist yang bergabung dengan rombongan PMC (Pertamina Motor Club) tampak sebuah 'gang' yang menamakan SOC (scooter owner club) atau lebih dikenal dengan sebutan Vespa Balaraja.

Kelompok ini mendesain Vespanya dengan beraneka bentuk ada yang memiliki side car berwarna loreng, Vespa dengan panjang mencapai lebih dari 2 meter, tidak dicat sehingga tampak sangat 'ugly'. Tidak pernah terbayang bahwa ada festival motor terjelek tiap tahunnya. Unik, sebuah motor yg dilengkapi dengan tape bak motor Harley tipe Road King. sesuai dengan bentuk motornya lagu2 "Song of Freedom" dari Bob Marley terdengar nyaring dari Vespa butut.

"Mas mohon maaf saya terpaksa mohon pamit karena akan menuju Palembang siang ini", demikian pamit pak Unang kepada kami. "Palembang ???? naik motor ini???", decak kagum penulis. Bagi kelompok ini memang penganut "destination is nothing, journey is everything".

Kota Lama Terlupakan
Perjalanan pulang tidak kalah serunya dibandingkan dengan perjalanan waktu berangkat menuju Anyer. Perjalanan kali ini meninggalkan banyak kesan bagi kami. Sejak dimulainya penggunaan jalan tol Jakarta Merak maka banyak kota yang tidak pernah kita singgahi bila kita akan bersantai di pantai Carita. Kota-kota tersebut pada jaman dulu terkenal karena macetnya. Simpul kemacetan terbentuk karena jalan ramai melewati pasar tumpah, terminal angkutan umum dan kadang juga stasiun kereta api. Kondisi jalan diperparah dengan lalu lalangnya truk besar dan container pengangkut barang.

Tigaraksa, Cikupa, dan Balaraja adalah kota-kota setelah kota Tangerang yang sarat dengan kemacetan. Aroma busuk dari pasar tradisional, debu beterbangan dan kemacetan mewarnai perjalanan di siang hari. Pada malam hari, suasana tidak begitu terasa hanya 'wangian' pasar tradisional masih tercium.

Kota- kota ini seakan manjadi kota tua yang terlupakan karena kita hanya kita baca pada papan petunjuk jalan berlatar belakang hijau di jalan tol. Namun bila kita mengendarai motor maka kita seakan kembali 'menemukan' kota terlupakan tersebut.

Anyer - Labuan
Warna biru laut, ombak putih, nyiur melambai yang memecah dipantai membuat perjalanan semakin indah menyenangkan. terlebih bila kita riding di pagi atau sore hari. Cahaya lembayung sore hari, udara pantai yang bersih yang melenakan. Pemandangan pantai memang tidak pernah membosankan.

Berbagai bentuk hotel dan villa mulai dari nuansa Bali, mediteranian, hingga bertemakan tradisional menghiasi kiri kanan jalan menuju Carita. Jalan sepi, mulus dan cukup lebar menambah kenyamanan bermotor ria sepanjang jalur ini.

Trayek Anyer Labuan memang merupakan rute yang paling favorit bagi para bikers. Alam ciptaan Illahi ini nampak tenang dan damai. Aroma laut yang kaya akan garam seakan membelai pori-pori tubuh. Biarkan helm kita terbuka agar wajah kita juga dibelai udara laut. Udara jernih lebih terasa melonggarkan pernafasan bila kita nikmati diatas sadel motor. Memang tidak salah ungkapan para bikers: "Suasana tampak indah dan berbeda bila dinikmati di atas sadel motor".

Labuan - Rangkas
Pemandangan pantai yang indah berubah menjadi alam dataran rendah perbukitan yang didominasi oleh kehadiran sawah menguning setelah melewati kota Labuan menuju Rangkasbitung. Trayek ini cukup bagus untuk dilewati karena jalan cukup lebar, berbukit, berkelok dan tidak terlalu ramai. sangat berbeda situasinya dibandingkan trayek Tangerang - Serang yang berdebu.

Walaupun jalur ini boleh dibilang mulus namun lagi-lagi harus waspada karena lobang jalanan kadang menjebak bagi para motorist. Labuan Rangkasbitung berjarak kurang lebih 58 Km. Bagi rombongan besar maka kecepatan disarankan tidak lebih dari 60 km/jam.

Rangkasbitung - Bogor
Perjalanan dari Anyer kembali ke Jakarta dimulai pukul 13.30 dengan memilih jalur tengah yaitu Carita, Labuan, Rangkasbitung, Bogor dan kembali ke Jakarta via Parung. Lepas kota Rangkasbitung sekitar pukul 5.00 sore hari. Mendung menggantung tetap membayangi perjalanan kali ini.

Jalanan tampak sepi dan mulai memasuki perkebunan kelapa sawit. Hanya rombongan PMC saja yang melewati wilayah pegunungan ini. Hujan gerimis masih turun sehingga membatasi jarak pandang. Jalan yang tampak mulus namun selalu menyediakan lobang dalam bagi yang tdk waspada.

Langit berwarna lembayung mulai menjadi lebih gelap dan gelap. Tampak bayangan pegunungan sekilas tersinari sisa cahaya mentari. Suasana tampak hening dan sedikit mencekam.

"Jalanan baru saja selesai diaspal, warnanya merah", demikian komentar Boim menceritakan pengalamannya. ini hanyalah sebuah joke karena sisa tanah merah melapisi aspal. Tanah merah ditambah hujan membuat perjalanan sangat berbahaya. "Ya Allah janganlah Kau turunkan hujan dan selamatkan kami dari semua mara bahaya", doaku. Bagi penulis kondisi ini bak jalan di lantai licin yang bersabun, sangat berbahaya. Motor sportster yang mempunyai berat hampir 200 kg terasa tidak stabil dan beberapa kali bergeser ketika melintasi tanah becek. kondisi ini diperparah kondisi rem belakang yang tidak berfungsi sejak lepas kota Labuan. bahkan sempat terseret ketika rem disc bagian belakang terlepas dari posisinya dan terseret di jalanan.

Sekilas masih terbaca jarak tempuh melalui patok di pinggir jalan 98 km lagi menuju Bogor. Patok demi patok kadang terbaca 74, 71, 60 km dan akhirnya patok-patok tersebut tidak terbaca lagi karena gelap menyelimuti perjalanan.

Di tengah hutan tersebut terlihat cahaya lampu kuning yang bearti lampu sebuah kota. penulis berharap inilah kota Jasinga tempat rombongan akan beristirahat. Ternyata setelah dekat lampu kuning hanya beberapa buah dan perjalanan baru mencapai kota kecil Cipanas. Setelah itu kembali memasuki wilayah hutan gelap lagi. Menjelang waktu Isya kembali terlihat cahaya kuning dari balik hutan. dan ternyata benar rombongan telah memasuki kota Jasinga. sebuah kota kecil di barat Bogor. Dari patok arah pinggir jalan, jarak menuju kota Bogor 43 km. walaupun sedikit mencekam, rombongan PMC beberapa kali berpapasan dengan kelompok motor yg akan menuju Rangkasbitung.

Perjalanan sangat berkesan. Sekali lagi "destination is nothing, journey is everything".

(adp_Petualangan)

Saat Uang Digantikan dengan Uap

Community Development secara sederhana bisa diartikan dengan bina lingkungan merupakan suatu kegiatan yang dila-kukan oleh badan usaha dalam memberikan nilai tambah kepada masyarakat dan lingkung-an di sekitar lokasi kegiatan usahanya. Dengan adanya nilai tambah tersebut diharapkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat dapat terangkat.

Program ini sebenarnya sangat jitu jika dikelola secara maskimal dan profesional. Dampak dari program community development memberikan hasil berupa nilai tambah yang tidak pernah terbayang sebelumnya.

Dalam prakteknya, community development sering diartikan dengan pembangunan atau perbaikan jalan, rumah ibadah, sekolah, dan lain-lain. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, karena tujuannya tetap untuk mense-jahterakan masyarkat sekitar. Dengan adanya jalan, rumah ibadah, dan fasilitas sekolah yang memadai otomatis akan dapat membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat, akti¬-vi¬¬tas ekonomi yang semakin maju dan dinamis, peluang mendapatkan masa depan yang lebih baik, dan lain sebagainya.

Tetapi semua kegiatan tersebut pasti mem-butuhkan anggaran yang jumlahnya tidak kecil. Dan pada akhirnya membawa community development kepada suatu pemahaman sempit yang selalu identik dengan memberikan “uang”.

BANGKIT DARI KRISIS
Mengurangi angka kemiskinan, mencipta-kan lapangan pekerjaan, meningkatkan daya beli rakyat, dan membangun kembali ekonomi Indonesia harus menjadi agenda khusus bagi seluruh elemen di negeri ini untuk bangkit dari krisis.

Semangatnya sama dengan program community development yang sudah dijalankan oleh entitas-entitas bisnis dan sebagian besar masyarakat sudah bisa merasakan hasilnya.

Pengembangan perekonomian rakyat bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi daerah yang ada. Seperti di Tomohon, Sulawesi Utara yang memiliki potensi aren yang cukup besar. Untuk memanfaatkan potensi aren yang dimilikinya, dibangunlah sebuah pabrik gula aren yang dikelola oleh Yayasan Masarang.

Pabrik yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Minggu (14/1) tersebut merupakan pabrik gula aren pertama di Indonesia dan pabrik gula aren pertama di dunia yang menggunakan energi panas bumi. Energi panas bumi dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar untuk proses pembu-atan gula aren.

Pertamina Area Geothermal Lahendong memasok uap panas bumi secara cuma-cuma untuk industri pabrik gula aren tersebut. Pasokan ini merupakan bentuk kontribusi Pertamina demi terciptanya pertumbuhan ekonomi dan memberikan dampak pening-katan kesejahteraan dan menurunkan angka pengangguran di sekitar area operasi.

Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Bambang Kustono menegaskan bahwa Pertamina memasok uap sebesar 4 ton per jam. “Ini merupakan community development Perta-mina,” ujarnya di Lahendong, Minggu (14/1).

Bambang Kustono menegaskan energi panas bumi tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Ia menjelaskan bahwa saat ini sudah mulai dilaksanakan pemanfaatan panas bumi untuk pemakaian langsung seperti pengeringan gula aren dan yang sedang dikembangkan adalah untuk mengeringkan kopra.

Dampak beroperasinya pabrik tersebut sudah dirasakan oleh 3.500 orang petani aren di Tomohon yang menjual hasil sadapannya ke pabrik gula aren Masarang.

Direktur Pabrik Gula Aren Masarang Albert K Mait mengatakan bahwa pabrik ini dapat didirikan karena ada akses kerjasama dengan Pertamina untuk pasokan uap panas bumi secara cuma-cuma. Keuntungan dari pe-manfaatan panas bumi yang dipasok Pertamina adalah pabrik tersebut dapat menghemat bahan bakar yang sangat besar dan membantu pelestarian lingkungan.

Menurutnya, untuk proses selama satu jam jika dilakukan secara tradisional bisa mengha-biskan 20 kilogram kayu bakar. Apalagi jika dikalikan sebanyak 3.500 petani anggota kami yang melakukan kegiatan tersebut secara serentak maka kayu bakar yang dibutuhkan bisa mencapai 7.000 kilogram per hari dan ini berpotensi merusak lingkungan. “Kita mensyukuri panas bumi dari Pertamina bisa membantu petani di Tomohon,” ujarnya.

Pabrik gula aren Masarang telah meng-ekspor produk perdana ke Amsterdam dengan jumlah 12,6 ton. Harga jual gula aren diperkirakan mencapai 96 ribu rupiah per kilogram.

Pabrik ini memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 2,5 ton per hari. Tetapi saat ini baru beroperasi satu ton per hari dengan 35 orang pekerja yang bekerja satu shift. Direktur Pabrik Gula Aren Masarang Albert K Mait mengatakan ke depan di-mungkinkan untuk beroperasi penuh dalam tiga shift kerja.

Community development yang dilakukan Pertamina Area Geothermal Lahendong telah membuahkan hasil yang sangat signifikan terhadap masyarakat Tomohon. Mulai dari pengurangan angka pengang-guran dan kemiskinan dengan adanya lapangan kerja baru, peningkatan penda-patan ekonomi setempat, serta pelestarian lingkungan hidup.

Melaksanakan community development memang harus fokus pada hasil akhir yang diharapkan dan tidak selamanya berarti memberikan sumbangan berupa uang. Pada kesempatan ini Pertamina telah membuk-tikan komitmennya terhadap lingkungan sekitar sekaligus memberi bukti bahwa dalam hal ini bantuan uang dapat digantikan dengan pasokan uap.

(adp_Feature Reportase)

Temulawak

Temulawak bagi kebanyakan orang Indonesia bukanlah barang baru. Tanaman umbi yang berkhasiat ini telah lama dikenal oleh masyarakat dan dikonsumsi sebagai jamu. Di masa kanak-kanak teringat pembicaraan orang tua jika kita sulit makan. ”Cekokin temu lawak saja,” kata orang tua yang lain memberikan solusi.

Selain itu, seorang rekan yang baru saja pulih dari gangguan fungsi hati yang dideritanya juga mengkonsumsi temulawak. “Banyak orang yang bilang temulawak bagus untuk memperbaiki fungsi hati,” ujarnya.

Jika bicara soal rasa temulawak tentunya banyak pendapat yang terucap. Ada yang mengatakan enak tetapi juga ada yang mengatakan sebaliknya. Ini semua tergantung bagaimana cara memproses dan menyajikannya. Namun jika dari sisi khasiat, mayoritas konsumen sepakat mengacungkan jempol untuk obat tradisional ini. Sebenarnya apa sih temulawak itu, dan sedahsyat apa khasiat yang dimilikinya?

Temulawak yang memiliki nama latin Curcuma Xanthorhiza Roxb ini sejak lama dikenal masyarakat sebagai tanaman umbi yang mampu menambah nafsu makan. Kandungan di dalam temulawak memang banyak ragamnya. Untuk urusan meningkatkan nafsu makan, pakar obat-obatan tradisional seperti dikutip Koran Tempo, 4 Januari 2006 mengatakan bahwa zat yang bernama minyak atsiri, dikenal memiliki bau dan rasa khas temulawak, merupakan zat yang mampu meningkatkan nafsu makan. Sumber lain menulis bahwa minyak atsiri juga bisa membunuh mikroba. Buahnya mengandung minyak terbang (anetol, pinen, felandren, dipenten, fenchon, metilchavikol, anisaldehida, asam anisat, kamfer), dan minyak lemak.

Fungsi lain dari temulawak adalah menjadi hepato protector alias mengatasi kerusakan fungsi hati. Beberapa orang teman yang pernah mengalami gangguan fungsi hati mengeluhkan tentang penyakit ini. Gangguan fungsi hati (lever) adalah penyakit yang tidak mengenakkan dan serba salah. Karena banyak hal yang harus diatur dengan seksama dari mulai aktivitas hingga asupan makanan dan minuman. Bahkan, keluhan yang seringkali kita rasakan seperti badan terasa lesu dan tidak bersemangat di siang hari, sulit tidur di malam hari, keluhan di pencernaan seperti sakit maag, demam dan mual, bisa jadi merupakan indikasi adanya gangguan pada fungsi hati kita.

Seorang guru besar Universitas Padjajaran di Bandung sebagaimana dikutip suratkabar harian Sinar Harapan mengungkapkan kemujaraban temulawak sebagai hepato protector berdasarkan hasil penelitian. Temulawak juga terbukti bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan sel hati. Dari penelitian, ditemukan bahwa khasiat temulawak ini berada dalam kandungan kurkumin, zat yang berguna untuk menjaga dan menyehatkan hati (lever), dan mencegah hepatitis B dan risiko kanker hati.

Sumber lain mengutip bahwa kurkumin yang terdapat pada rimpang tumbuhan ini bermanfaat sebagai acnevulgaris, di samping sebagai anti inflamasi (anti radang) antioksidan, anti hepototoksik (anti keracunan empedu) dan antitumor. Seperti dikutip dari berbagai sumber, komposisi kimia dari rimpang temulawak adalah protein pati sebesar 29-30 persen, kurkumin satu sampai dua persen, dan minyak asiri antara enam hingga sepuluh persen.

Temulawak juga memiliki kekuatan untuk mengobati kanker dalam stadium dini. Temulawak juga berkhasiat menghilangkan rasa nyeri dan sakit karena kanker. Seorang herbalis Yellia Mangan menulis dalam bukunya yang berjudul Cara Bijak Menangani Kanker tentang keampuhan temulawak. Menurutnya, ramuan temulawak ini dapat dikonsumsi jika penyakit masih dalam stadium dini. Namun, katanya, jika selama dua bulan tidak kunjung membaik maka ia menganjurkan agar pasien berkonsultasi dengan dokter atau ahli yang lebih berpengalaman.

Yellia mengatakan bahwa ramuan temulawak untuk mengobati kanker dapat diminum segera setelah menjalani operasi pengangkatan kanker dan radiasi. Ini, katanya, dimaksudkan untuk memutuskan rantai sel kanker yang mungkin masih tertinggal. Tambahnya lagi, ramuan temulawak dapat diminum setelah dua minggu sejak kemoterapi dilakukan. Bila dokter memberikan obat, tambahnya, ramuan sebaiknya diminum dua jam sebelum atau setelah mengonsumsi obat dokter.

Setelah memahami khasiatnya, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara mengolahnya. Kabelan Kunia, M. Si., dari Pusat Bioteknologi ITB sebagaimana dituliskan pada harian Pikiran Rakyat mengatakan bahwa penggunaan temulawak pada prinsipnya sama dengan kunyit maupun kencur, yaitu diparut dan diambil airnya. Sedikit ada beberapa penambahan komponen untuk penyakit tertentu. Pada gangguan ginjal untuk satu rimpang temulawak, ditambahkan segenggam daun kumis kucing dan segenggam daun meniran dengan empat gelas air, direbus sampai tinggal setengahnya. Diminum tiga kali sehari. Untuk menambah nafsu makan bisa dicampur juga dengan rimpang lengkuas. Sedang untuk memperbaiki rasa bisa ditambah gula aren, asem atau jeruk nipis sesuai selera.

Kehidupan dan Budidaya Temulawak
Bicara tentang temulawak tentu kita perlu mengetahui cara budidayanya. Temulawak adalah tumbuhan asli Indonesia, tetapi penyebarannya hanya terbatas di Jawa, Maluku, dan Kalimantan. Sebagai tanaman obat, temulawak biasa dibudidayakan orang dan menjadi salah satu komoditas pertanian. Namanya pun beranekaragam, seperti di Jawa Barat, temulawak dikenal dengan nama koneng gede. Dalam bahasa Jawa dan di Madura disebutnya temulabak.

Temulawak termasuk dalam keluarga Zingibereaceae banyak ditemukan di hutan-hutan daerah tropis. Temulawak juga berkembang biak di tanah tegalan sekitar permukiman, terutama pada tanah gembur, sehingga buah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar. Temulawak termasuk jenis tumbuh-tumbuhan herba yang batang pohonnya berbentuk batang semu dan tingginya dapat mencapai dua meter. Daunnya lebar dan pada setiap helaian dihubungkan dengan pelapah dan tangkai daun yang agak panjang.

Temulawak mempunyai bunga yang berbentuk unik (bergerombol) dan berwarna kuning tua. Rimpang temulawak sejak lama dikenal sebagai bahan ramuan obat. Aroma dan warna khas dari rimpang temulawak adalah berbau tajam dan daging buahnya berwarna kekuning-kuningan. Daerah tumbuhnya selain di dataran rendah juga dapat tumbuh baik sampai pada ketinggian tanah 1.500 meter di atas permukaan laut.

(adp_Feature Umum)

Rebana

Budaya Melayu tampaknya tak terpisahkan dari kehadiran alat musik tabuh rebana. Kehadirannya kerap mengisi kemeriahan dalam setiap perhelatan akbar yang sarat dengan nuansa Islami, misalnya hari-hari raya keagamaan, pernikahan, khitanan dan acara lainnya. Bahkan, rebana telah menjadi suatu cabang seni budaya melayu yang sering diperlombakan.

Di dunia pendidikan, bagi siswa yang bersekolah di institusi pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam, kesenian rebana biasanya sudah masuk ke dalam salah satu kurikulum atau kegiatan ekstra para santrinya.

Rebana berasal dari perkataan Sansekerta yaitu “reba”. Rebana terdiri daripada baluh yang diperbuat daripada kayu yang memiliki lubang yang besar. Satu daripada bahagian lubang tersebut ditutup dengan kulit.

Rebana biasanya dimainkan oleh sekelompok musisi yang terdiri dari empat hingga delapan orang yang memainkan irama yang harmonis. Pada sebagian daerah, para penabuh rebana ada juga yang menggunakan tongkat rotan kecil sebagai alat tabuhnya, dengan tujuan untuk mendapatkan suara yang lebih perkusif.

Keberadaan rebana di antara masyarakat Ibukota hingga saat ini masih tetap eksis. Jika anda sempat mengunjungi beberapa daerah yang kental dengan nuansa Melayu dan Islam di Jakarta, salah satu contohnya wilayah Tebet, Kampung Melayu, suara musik ini sudah tidak asing lagi. Para remaja masjid kerap melakukan latihan rebana sebagai persiapan untuk mengisi acara-acara keagamaan di kampungnya.

Kehadiran rebana di tengah masyarakat dan menjadi catatan dalam sejarah Islam sudah cukup lama. Di masa lalu, rebana dan gendang kerap kali digunakan untuk membangkitkan semangat perjuangan para pejuang Islam.

Rebana bentuknya menyerupai tamborin, hanya saja jenis kulit yang digunakan lebih tebal. Secara fisik, rebana tidak jauh berbeda dengan instrumen perkusi lainnya yang sejenis seperti gendang. Bahan bakunya terdiri dari kayu mangga dan kulit kambing.

Prosesnya tampak sederhana, namun diperlukan keahlian yang luar biasa. Pembuatan diawali dengan memotong kayu pohon mangga gelondongan kira-kira setebal 10 cm. Selanjutnya, kayu tersebut dibubut dan dibentuk menjadi mangkuk berlubang ganda. Masing-masing rebana memiliki ukuran diameter yang berbeda. Dimulai dari ukuran 6 inchi untuk suara tinggi hingga 14 inchi yang dapat menghasilkan suara yang lebih rendah.

Kayu-kayu tersebut selanjutnya disimpan di tempat yang kering untuk menunggu proses berikutnya. Jika dikerjakan oleh satu orang, dari proses pembubutan ini bisa dihasilkan sekitar 25 sampai 30 kayu rebana perhari. Subroto (55), pembuat kayu rebana, menjelaskan bahwa pekerjaan memproduksi kayu ini biasanya bersifat borongan. Ongkos pembuatannya berada pada kisaran Rp 1.750,- per buahnya.

Untuk kulitnya digunakan bahan dasar kulit kambing. Kulit ini dibeli dari pedagang kulit hewan potong yang sudah menjadi langganan mereka. Kulit ini selanjutnya dicuci dan direndam dalam air kapur. Tujuannya supaya bulu-bulu kambing mudah rontok. Proses ini memakan waktu sekitar dua sampai tiga hari.

Setelah melalui tahap tersebut, bulu yang berada pada kulit kambing dikerok hingga bersih. Kemudian, kulit dicuci kembali dan dijemur hinnga kering. Tak jauh berbeda dengan proses membuat baju, kulit tersebut selanjutnya diberi pola dan dipotong sesuai keperluan dan dipasang pada potongan mangkuk kayu mangga yang sudah disiapkan. Biasanya, untuk satu lembar kulit kambing berukuran normal bisa digunakan untuk membuat 4 buah rebana ukuran 12 inchi.

Pada proses pemasangan ini dilakukan penyetelan nada rebana. Yesri (31), seorang pengerajin rebana di Medan mengatakan bahwa untuk membuat alat musik ini diperlukan jam terbang yang tinggi. “Terutama bagian stel nada,” katanya.

Para pengrajin rebana yang bergabung dengan UD Rebana milik Said Aldi Al Idrus adalah orang-orang yang memiliki skill cukup lumayan. Untuk melakukan stel nada rebana, mereka mengandalkan feeling yang lumayan tajam. Caranya, kata Yesri, mereka mengukur regangan kulit dengan menekan kulit tersebut menggunakan ujung jari. Apabila regangannya sudah cukup maka nada yang diinginkan sudah didapat. “Ilmu ini didapat dari Paman Said dari Malaysia yang sudah ahli dibidang ini,” katanya. Terakhir dilakukan proses finishing.

Dalam satu hari mereka mampu memproduksi enam puluh sampai delapan puluh buah per harinya. Padahal pekerjanya hanya sekitar delapan orang. “Itu sudah sampai produk jadi dan siap pakai, lho,” jelasnya.

UD Rebana berlokasi di daerah Perumnas Mandala, Percut Saituan, Deli Serdang, Sumatera Utara. Usaha pembuatan rebana ini sudah berjalan cukup lama yakni lima belas tahun.

Yesri menceritakan bahwa awalnya usaha ini dirintis oleh Said (pemilik) dari tingkat distribusi. Selanjutnya, sekitar dua sampai tiga tahun mulai berkembang ke tingkat selanjutnya yakni pembuatan rebana dalam jumlah besar.

Selain rebana, UD Rebana juga memproduksi Ronggeng Melayu, alat musik sejenis rebana dalam ukuran yang lebih besar. Ukurannya bisa dua sampai tiga kali rebana biasa. Jika diperhatikan, bentuk fisiknya justru lebih mendekati gendang daripada rebana. Untuk pembuatan Ronggeng ini dipekerjakan tujuh orang pengerajin dan mampu menghasilkan 10 sampai 12 buah per harinya. Ronggeng dibuat dengan menggunakan kayu pohon kelapa sebagai bahan dasarnya.

Dalam hal pemasaran, rebana produk dalam negeri ini sudah dapat dikatakan cukup membanggakan. Di Sumatera Utara sendiri mereka memasarkannya di wilayah Pakam, Perbaungan, dan Pantai Cermin. “Di Pantai Cermin kami punya toko,” kata Yesri.

Selain memasok pasar domestik, UD Rebana setiap minggu mengirimkan sebagian besar produknya ke Kuala Lumpur, Malaysia. Jumlahnya tergantung pesanan dari konsumen. Selain itu, mereka juga memasarkan produk ini ke negara-negara tetangga seperti Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand.

Omset yang bisa didapat dari usaha ini lumayan besar. Rita (28) istri dari pemilik UD Rebana Said Aldi Al Idrus menjelaskan bahwa pada saat-saat normal, omset mereka bisa mencapai sekitar Rp. 100 juta per bulan. Bahkan yang lebih luar biasa, menurutnya, di saat ramai bisa meningkat tajam hingga Rp. 200 juta sampai Rp. 250 juta per bulan. Tetapi Rita juga menambahkan bahwa tidak tertutup kemungkinan bagi usahanya untuk hanya mengantongi omset sekitar Rp. 10 juta sampai Rp. 15 juta per bulan di masa-masa sepi pesanan.

Berdasarkan pengalaman, pesanan ramai biasanya pada saat musim ujian sekolah di Malaysia atau pada musim acara keagamaan seperti perayaan Hari Raya Idul Fitri, Maulid Nabi dan lain-lain. “Kadang ada kalanya orang memesan rebana untuk souvenir saja,” katanya.

Untuk membantu perkembangan usahanya, Rita mendapatkan pinjaman lunak dari PKBL Pertamina UPms I Medan sebesar 50 juta rupiah. Pinjaman ini baru berjalan sekitar tiga bulan sejak awal tahun 2005 dengan jangka waktu tiga tahun.

Rita mengatakan bahwa perhatian Pertamina kepada kemajuan usahanya ini sangat berarti baginya karena dapat dimanfaatkan untuk membantu mengembangkan usahanya di masa mendatang.

Dari usaha ini, Said sang pemilik, telah beberapa kali dianugerahi sebagai Pemuda Pelopor Nasional tingkat Provinsi Sumatera Utara. Bahkan pada 2004 yang lalu dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor tingkat Nasional yang diserahkan oleh Presiden RI.

(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2005)

Saat Alam Memberi Manfaat

Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman…
(Kolam Susu; Koes Plus)



Lirik lagu Koes Plus tersebut sangat cocok dinyanyikan saat anda berada di daerah Kamojang. Saat kaki menapak di tanah Kamojang, Jawa Barat, maka kesan pertama yang ditangkap adalah lingkungan yang asri, indah, sejuk, dan nyaman. Posisinya yang berada di dataran tinggi pun menunjang kondisi alamiah tadi. Sejuknya udara Kamojang tentu akan memberikan kesan yang mendalam bagi siapapun yang menghirupnya.

Di kawasan ini kita betul-betul dimanjakan oleh alam. Bayangkan saja, dari hasil buminya yang subur, masyarakat setempat dapat bercocok tanam dan beternak. Dari iklimnya yang asri masyarakat juga dapat mengembangkan usaha di sektor wisata alam. Dari perut buminya pun, kita mendapatkan manfaat yang luarbiasa dari potensi panasbumi yang terdapat di wilayah ini.

Untuk bercocok tanam, masyarakat kebanyakan bertani kentang dan kol. Tanaman jagung dan kacang-kacangan juga dikembangkan oleh masyarakat. Pengelolaannya dikoordinir oleh Karang Taruna setempat. Koordinator Karang Taruna Dadan Hendra menjelaskan bahwa bidang pertanian di Kamojang sebenarnya cukup bagus tapi sangat gambling karena fluktuasi harga tergantung pasar.

Di sektor peternakan, masyarakat juga mendapatkan hasil yang cukup lumayan. Menurut Dadan budidaya domba, ikan hias, ikan konsumsi, itik dan kelinci hasilnya lumayan. Memang untuk peternakan di sini sangat cocok, seperti rumput dan sumber daya alam memungkinkan.

Dadan mengatakan bahwa di desanya ia bersama rekan-rekan Karang Taruna melaksanakan usaha pengembangbiakan domba Garut. “Dari awal penggemukan, domba dijual hidup awalnya. Tapi untuk jual hidup juga tergantung pasar, jadi kami sekarang diarahkan untuk budidaya,” katanya.

Domba Garut memiliki kualitas daging lumayan besar dan nilai ekonominya sangat tinggi. Dadan menjelaskan bahwa minat konsumen terhadap domba Garut bervariasi. Mulai dari nilai seni, untuk domba aduan, sampai pemanfaatan dagingnya yang sangat besar. Domba Garut memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Dari bobotnya saja, domba Garut sudah memiliki keunggulan. “Beda dengan domba sayur, yang beratnya sekitar 14 sampai 20 kg, kalau domba Garut bisa mencapai 90 sampai100 kg per ekor,” paparnya.

Melihat keunggulannya ini, maka dari sisi harga tidak perlu diragukan lagi. Harga domba Garut jantan yang usianya satu tahun dengan bobot 30 sampai 40 kg berada pada kisaran satu juta rupiah. Dadan bertutur bahwa untuk sekali penjualan bisa mencapai 10 sampai 20 ekor. Ia menambahkan bahwa untuk domba Garut kami adakan seleksi terlebih dulu, kalau ada yang bagus kami tahan sampai usianya satu tahun lebih karena kalau dijual bisa mencapai dua sampai tiga juta perekor. “Ada bandar dari kota yang ambil ke sini,” katanya.

Iklim Kamojang ternyata juga cocok untuk beternak kelinci dan itik. Dadan mengatakan bahwa untuk anak kelinci kami jual hidup untuk dipasarkan. Hasilnya juga lumayan. Kelinci per ekor yang masih berumur dua bulan bisa laku dijual dengan harga sekitar Rp. 7.000,-. “Sekali jual bisa mencapai sekitar 100 ekor,” ujarnya. Belum lagi itik yang bisa memberikan hasil dari daging dan telurnya.

Anugrah alam belum berhenti di sini. Alam masih memberikan belaiannya kepada masyarakat Kamojang dalam beternak ikan air tawar. Untuk budidaya ikan, kebanyakan ikan nila sejenis kakap warna hitam untuk dimakan. Sedangkan untuk ikan hias ada Discus dan jenis ikan hias yang ada dipasaran. Dadan bercerita bahwa panen ikan dilakukan setiap enam bulan. Satu kolam sebesar satu hektar bisa menghasilkan sembilan kwintal. “Khusus untuk ikan kami ikut anggota asosiasi peternak ikan air tawar, maka kita salurkan ke sana,” jelasnya.

Ternyara anugrah alam, sekali lagi belum selesai sampai di sini. Dadan dan masyarakat setempat masih bisa mendapatkan hasil sampingan dari usahanya dalam beternak. “Sejak 2002 kami dibina dan mendapatkan ilmu baru dari Pertamina terutama dalam hal pemanfaatan kotoran hewan,” ungkapnya.

Pemanfaatan limbah kotoran hewan untuk pupuk hasilnya cukup lumayan. Kotoran ternak ini difermentasikan dan harga jual jadi lumayan mahal. “Kalau kami biasa panen pupuk satu karung itu Rp. 3.000,- , sekarang dengan ilmu yang kami dapat, kotoran hewan sudah diolah bisa mencapai harga Rp. 15.000,- per karung,” ujarnya. Ditambah lagi dengan kencing kelinci untuk pupuk yang satu liter diberi harga Rp. 1.000,- . Dalam satu minggu bisa memproduksi 60 liter.

Pemberdayaan masyarakat, kata Dadan, berawal dari keprihatinan perusahaan (baca: Pertamina) terhadap remaja Kamojang yang saat itu masih banyak yang tidak bekerja. “Daya tampung perusahaan untuk menerima pekerja juga terbatas,” ujarnya. Berangkat dari keprihatinan inilah, Pertamina Kamojang melakukan pembinaan terhadap Karang Taruna setempat agar bisa menghasilkan pendapatan secara mandiri. “Total bantuan Pertamina sekitar Rp. 115 juta ,” kata Dadan.

Sekarang melalui pemberdayaan masyarakat ini, kata Dadan, banyak remaja yang bisa merasakan hasilnya. Ia memaparkan bahwa untuk penjualan yang paling menguntungkan dari domba. Dalam sebulan hasil penjualan bisa Rp. 300 ribu sampai Rp. 400 ribu per orang “Itu penghasilan kotor,” katanya.

Untuk mengelola domba ada satu kelompok yang terdiri dari 20 orang. Untuk kelinci ada dua kelompok yang anggotanya berjumlah 15 orang. Pengelolaan ikan ditangani oleh 10 orang, ikan hias 10 orang, balai bibit 8 orang. Selain itu, anggota Karang Taruna juga dididik untuk membuka usaha bengkel yang ditangani oleh delapan orang anggotanya. Secara keseluruhan, dengan perkembangan usaha yang begitu pesat, hingga saat ini sudah mencapai sekitar 90 orang yang kini bisa merasakan manfaatnya.

Dadan menuturkan bahwa sistem pembagian hasil penjualan ada penyisihan untuk biaya pemeliharaan. “Di karang taruna juga ada koperasi yang menampung sebagian kecil dari keuntungan untuk masa depan,” katanya.

Bantuan yang kami terima dari Pertamina, kata Dadan, dimanfaatkan untuk modal. “Domba untuk per orang Rp. 3,6 juta dikali 20. Kami kolektifkan untuk dibangun dan dikelola sama-sama,” katanya. Dan setiap bulannya, masing-masing ketua kelompok melaporkan hasilnya.

Selain bantuan modal, katanya, mereka juga mendapatkan pelatihan di bidang menjahit, komputer dan bengkel. “Kami sangat bersyukur karena masyarakat Kamojang sangat membutuhkan bantuan ini dan hasilnya sangat membantu sekali,” tuturnya. Masyarakat juga mendapatkan kelonggaran dari Pertamina dibawah Rp. 5 juta tanpa jaminan. Angsuran tergantung kemampuan. Ada yang satu tahun (untuk yang nominal kecil) lebih dari Rp. 3 juta mencapai 2 tahun. Sedangkan untuk Rp. 5 juta ke atas mencapai 3 tahun. “Harapan kami ke depan, “kata Dadan,” kegiatan seperti ini agar dipertahankan atau kalau perlu ditingkatkan. Masih ada beberapa rekan putri kami yang putus sekolah dan belum terpikirkan apa kegiatan yang cocok untuk mereka.”

Dadan mengatakan bahwa masyarakat sekitar sini menanggapi kegiatan pertamina dengan positif. Pertamina sangat akrab sekali dengan karyawan, juga tidak dianggap sebagai pendatang. Pertamina dianggap sebagai saudara dan sering membantu masyarakat kalau ada yang sakit utnuk pinjam kendaraan dan fasilitas pengobatan massal. Dadan mengatakan bahwa kadang ada saat emergency . “Kami paling berani ke Pertamina untuk pinjam mobil ke dokter. Kami anggap pertamina sebagai warga Kamojang sendiri,” katanya.

)adp_Feature Reportase_Diterbitkan2005)

Trikomsa

Usaha yang dirintis dari industri lilin lampu, Trikomsa berusaha untuk terus tumbuh dan berkembang sekaligus memberi manfaat bagi lingkungannya.

Sugarwo Nugroho (38) pria Jawa-Banjar ini mengawali bisnis lilin lampu sekitar 2 tahun yang lalu. Dengan merangkak dan penuh perjuangan, usaha ini dijalankannya dibawah bendera CV Trikomsa Indocandle.

Diawali dengan dua buah mesin dan enam orang pekerja, Sugarwo menggeluti usaha pembuatan lilin ini. Trikomsa mengolah lilin sebanyak 5 ton per bulan yang dibelinya dari Pertamina Unit Pemasaran VI Balikpapan. Seiring dengan perkembangannya, pasokan pun bertambah hingga kini mencapai 10 ton per bulannya.

Sugarwo bercerita bahwa untuk pembelian lilin tersebut, ia harus memenuhi persyaratan administrasi yang ditetapkan, diantaranya harus berbadan hukum atau berbentuk CV, SIUP, dan lain-lain. “Saya ajukan CV sebagai pemakai langsung dan disetujui,” katanya.

Alumnus IAIN Sunan Kalijaga ini mengatakan bahwa untuk menjalankan bisnis ini tidak mudah. Ia memerlukan pasokan modal dari pihak luar. Oleh karena itu, katanya, ia mengajukan permohonan untuk menjadi mitra binaan melalui PKBL DOH Kalimantan.
“Kebetulan saya sering bertemu dengan rekan PKBL DOH Kalimantan di pengajian,” ujarnya. Harapannya pun terkabul, dana sebesar Rp. 75 juta dikucurkan sebagai bantuan modal dengan jangka waktu tiga tahun.

Untuk pemasaran produknya, Sugarwo tidak terlalu khawatir dan menganggap produsen lain sebagai mitra, bukan sebagai pesaing. Ia mengatakan bahwa Trikomsa punya pasar sendiri. Untuk memperkuat armada penjualannya, Sugarwo membina hubungan dengan lima mitra penjualannya yang tentunya sudah memiliki pasarnya masing-masing.

”Saya memasarkan produk ini ke empat provinsi yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi,” katanya.

Menghadapi permintaan konsumen yang begitu besar Sugarwo mengakui bahwa dirinya sempat kewalahan. ”Contohnya, Sulawesi itu mintanya di atas sepuluh ton, untuk itu saya perlu perkembangan di sisi produksi, fasilitas dana dan lain-lain,” paparnya. Belum lagi melayani permintaan konsumen di daerah lain. Ia berharap, PKBL DOH Kalimantan dapat mempertimbangkan harapannya ini demi perkembangan usahanya ke depan.

Bicara soal bahan baku, Sugarwo mengatakan bahwa satu ton lilin bisa menghasilkan sekitar 160 dos lilin lampu yang masing-masing berisi 35 batang. Selanjutnya, oleh agen, lilin itu dibawa untuk dipasarkan. ”Biasanya lilin diambil oleh agen. Bisa 500 sampai 1500 dos,” katanya.

Namun demikian sering kali, ungkap Sugarwo, permintaan mencapai 1600 dos per bulan. Ia bersyukur bahwa lilin produksinya tidak pernah menumpuk di gudang, alias selalu habis terjual. Ia menunjuk ke arah tumpukan lilin lampu dan mengatakan bahwa semua sudah ada yang beli. ”Jadi begitu selesai langsung diangkut ke agen,” tambahnya.

Hingga saat ini, Sugarwo sudah mempekerjakan sembilan orang tenaga dan memiliki delapan buah mesin di industri lilin lampu miliknya. Sugarwo menjelaskan bahwa dirinya berharap dengan keberadaan industri ini dapat membuka lapangan pekerjaan bagi para tetangga dan masyarakat sekitar. Namun demikian, katanya, karena usaha ini juga dijalankan secara profesional maka untuk perekrutan ia juga mengutamakan individu yang betul-betul mampu untuk bekerja dengan baik.

Untuk membayar pekerjanya, Sugarwo mengatakan bahwa perhitungannya bersifat borongan. Untuk memproduksi satu ton lilin ia membayar gaji karyawan pada kisaran Rp. 75.000,- sampai Rp. 100.000,-. Di luar itu, ia bisa mengantungi keuntungan sekitar Rp. 8 800.000,- per ton.

Tumbuh dan berkembang
Keberhasilan Sugarwo dalam mengelola usaha industri lilin ini memacu dirinya untuk mengembangkan sayap usaha. ”Dari sini saya berpikir untuk pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Selanjutnya, Trikomsa pun berkembang dengan membuka industri mebel multipleks dan depot ayam bakar. Selain itu, di bidang pendidikan dan pelatihan, Sugarwo juga membuka Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Trikomsa Indoschool pada 16 Oktober 2004 dengan visi menjadi lembaga pemberdayaan masyarakat, pusat diklat kerja dan pengembangan kreativitas generasi muda yang profesional dan terpercaya.

Sugarwo menegaskan bahwa tuntutan perkembangan zaman telah mendorongnya untuk ikut aktif dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan mampu bersaing di pasar global. Berdasarkan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional, LPM ini berupaya untuk mengembangkan kurikulum pendidikan berbasis kompetensi dan mengarahkan metode pembelajaran pada keterampilan yang berbasis kebutuhan masyarakat luas atau pendidikan yang berkelanjutan. Untuk itu, melalui LPM ini, Sugarwo menargetkan sebanyak 500 orang yang bisa diberdayakan.

Program kursus yang ditawarkan beranekaragam, meliputi baca tulis Al Qur’an, bahasa Arab, bahasa Inggris, meubel multiplex, kaligrafi, radiator dan dinamo, sablon, jahit dan bordir, las karbit dan listrik, elektronik, fotografi, jurnalistik, presenter dan MC, bimbingan belajar, montir sepeda motor, dan kursus komputer. Pusat pendidikan ini bertempat di Jl. Klamono-Gatu No. 8 RT 076 Balikpapan. ”Tempat saya sewa dari koperasi Pertamina,” katanya.

Untuk kaum duafa, kata Sugarwo, Trikomsa menyediakan sejumlah program misalnya ada program jahit dan bordir untuk anak putus sekolah dan keluarga tidak mampu. Saat ditanya mengenai biaya, Sugarwo menjelaskan bahwa untuk hal tersebut pihaknya bekerjasama dengan pihak ketiga yang peduli. ”Kalau tidak ada, kami danai sendiri dari usaha-usaha yang lain,” ungkapnya.

Selain usaha di bidang pendidikan dan pelatihan, Trikomsa juga membuka usaha meubel multiplex. Usaha ini baru mereka mulai. Mereka mendatangkan bahan baku dari Jawa. Menurut Sugarwo, Trikomsa akan memasarkan produknya di wilayah Kalimantan Timur. Sugarwo mengatakan bahwa sebenarnya peluang masih terbuka lebar tetapi usahanya terkendala masalah dana. Oleh karena itu, ia mengharapkan bantuan dana untuk pengembangan selanjutnya.
(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2005)

Toni Knalpot

Modifikasi kendaraan bermotor telah menjadi salah satu hobi yang cukup digandrungi oleh kebanyakan orang. Pencinta modifikasi ini sebenarnya tidak mengenal batas usia. Namun demikian, mayoritas penggemarnya berada pada usia remaja hingga paruh baya.

Tujuan dari para modifikator tentunya beragam. Ada yang sekedar mengikuti trend, tampil gaya, atau ada juga yang lebih didominasi unsur kebutuhan akan performa kendaraan, dan masih banyak lagi. Intinya, ada unsur ketidakpuasan dari para pencinta modifikasi ini terhadap kondisi kendaraan mereka yang standar pabrikan.

Trend modifikasi yang berkembang di Indonesia, sebagian besar dipengaruhi oleh trend di luar negeri. Salah satu media masuknya aliran atau jenis modifikasi itu bisa melalui media film, majalah, pameran, kontes dan media lainnya. Film Too Fast Too Furious misalnya. Film ini menggugah keinginan para pencinta modifikasi untuk merombak mobilnya seperti yang dimiliki sang bintang.

Kegiatan seperti ini banyak ditemukan di daerah kota besar sampai ke kota kecil. Tidak hanya terbatas di Jawa saja, aksi para pencinta modifikasi ini juga tersebar di berbagai penjuru negeri ini. Bisa dikatakan dari Sabang sampai Merauke.

Hobi semacam ini tentunya merupakan peluang bisnis bagi para mekanik. Tidak hanya sekedar mereparasi dan mengubah bentuk, seringkali para mekanik menerima pesanan beberapa bagian kendaraan atau sparepart atas permintaan khusus. Dalam hal ini, knalpot kendaraan merupakan salah satu ceruk pasar yang lumayan menjanjikan dari segi komersial..

Bagi Toni (60) bisnis ini memiliki daya tarik tersendiri. Ia merintis usaha industri knalpot yang diberi nama Toni Knalpot di Balikpapan sejak lama. Awalnya, cerita Toni, ia membuka usaha bengkel biasa. Itu sekitar tahun 1970-an. Toni mengatakan bahwa pertama kali ia memulai usahanya sendiri. Bengkel ini untuk pertama kalinya melayani motor dan terus berkembang melayani mobil. ”Karena hal tersebut juga didukung latar belakang saya yang dari STM jurusan teknik mesin,” ujarnya saat ditemui.

Toni menegaskan bahwa keberaniannya untuk membuka bengkel bukan datang dari pengalaman. Dorongan keberaniannya berdasarkan ilmu yang ia miliki. “Untuk mobil awalnya hanya bidang las, lalu merambah ke cat duco dan terakhir, saya pun coba ke bidang mesin dan juga ketok magic,” kata Toni.

Sejalan dengan waktu setelah Toni membuka bengkel motor dan mobil, ia dibantu oleh empat orang tenaga lainnya. ”Mereka saya bawa dari Jawa dan saya bayar dengan sistem upah,” tegasnya tentang para karyawannya.

Seiring dengan perkembangan zaman, Toni melihat peluang usaha di bidang pembuatan dan reparasi knalpot. Akhirnya, setelah urun rembuk dengan keluarganya, usaha bengkelnya beralih ke knalpot sekitar tahun 1993. ”Itu pun hasil pilihan dari anak-anak yang saya lakukan secara musyawarah,” tambahnya. Tentunya Toni memiliki alasan kuat dalam pengambilan keputusan tersebut. Usaha knalpot dipilih karena tidak terlalu berisiko besar, waktunya relatif singkat. Selain itu, ia juga sempat mempelajari seluk-beluk knalpot di Surabaya pada 1989. Dan dari kota itu juga Toni mendatangkan bahan bakunya.

Toni bercerita bahwa pelanggan pertama bengkel knalpotnya adalah orang dari Pertamina. ”Ketika orang Pertamina datang ketempat saya, waktu itu bengkel saya masih umum, dan orang Pertamina tersebut minta dibuatkan knalpot dengan ukuran yang sudah ditentukan,” ujarnya. Toni menambahkan bahwa panjang ukuran dapat mempengaruhi harga dari knalpot itu sendiri.

Melihat hasil karya Toni, orang Pertamina tersebut merasa puas. Ternyata, kisah ini tidak berhenti disini. ”Orang Pertamina itu membawa teman-temannya untuk ke bengkel saya ini,” ungkap Toni senang. Pada saat memutuskan untuk menjadi bengkel spesialis, Toni dibantu dengan dua orang tenaga kerja.

Dalam menjalankan usahanya ini, Toni menyatakan bahwa dirinya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dari konsumennya yang kebanyakan orang Pertamina, Toni mendapatkan penjelasan perihal dana PKBL. Setelah diberi beberapa penjelasan, masih kata Toni, akhirnya ia berminat juga mengajukan proposal ke Pertamina untuk mendapatkan tambahan dana sebagai modal usaha. Untuk itu Toni mencoba mengajukan permohonan ke Pertamina UPms VI Balikpapan. ”Untuk pertama kalinya menerima bantuan dari Pertamina pada akhir tahun 1996. Awalnya saya mengajukan proposal dan dari pihak Pertamina mengirim tim survei ke lokasi. Setelah itu baru turun dana sebesar Rp. 15 juta,” kata Toni.

Beberapa bulan kedepan tepatnya pada tahun 1997 Indonesia dihantam badai krisis moneter dan hal tersebut mempengaruhi perekonomian di segala sektor. Dengan adanya krisis tersebut, pengembalian dana Toni agak sedikit tersendat. Walaupun demikian, bengkel Toni tidak sempat tutup atau gulung tikar.

Toni mengatakan bahwa melihat kondisi seperti ini pihak Pertamina tidak terlalu menekan. ”Karena bukan hanya bengkel saya saja yang drop, hampir seluruh pengusaha besar maupun kecil terkena dampaknya,” ungkapnya. Perlahan tapi pasti mungkin itu yang menjadikan Toni tetap bertahan dan terbukti, bengkelnya masih bertahan hingga sekarang. Akhirnya pembayaran ke pihak Pertamina pun kembali lancar.

Toni mengakui bahwa minat modifikasi di Balikpapan cukup tinggi. Ia mengatakan bahwa dalam satu hari konsumen yang datang rata-rata mencapai lima sampai delapan mobil. ”Tapi sering juga konsumen yang datang sampai tidak tertampung,” imbuhnya.

Melihat karya Toni, para pelanggan mengakui keunggulannya. Salah satunya adalah Bambang (37). Ia merasa puas karena pelayanan dan hasilnya tidak mengecewakan. Bambang mengatakan bahwa dirinya sudah dua tahun berlangganan di bengkel knalpot ini. Satu hal yang pasti, kata Bambang, service knalpotnya bagus banget. ”Karya Pak Toni sesuai dengan keinginan pelanggan,” kata Bambang.

Bambang memberikan contoh. “Misalnya saya ingin suaranya seperti ini atau begitu, bengkel Toni bisa menanganinya dengan maksimal dan hasilnya sangat memuaskan,” tutur Bambang.

Toni pun tak segan-segan memberikan garansi terhadap hasil kerjanya jika ada keluhan dari pelanggan. ”Apabila tidak sesuai dengan keinginan saya, dengan senang hati dibongkar kembali,” ungkap Bambang.

Bicara soal harga, Bambang menilai bahwa hal itu relatif dan disini harga sangat bersaing. Salah satu kelebihan Toni Knalpot, kata Bambang, garansi yang ditawarkan juga cukup lama, berkisar tiga hingga empat bulanan. ”Untuk sekali perbaikan tarif yang diberikan dapat dilihat dari kebutuhannya apa dan kerusakannya apa saja,” ujarnya lagi.

Nah, bagi anda yang berdomisili di Balikapapan dan berminat memodifikasi knalpot kendaraan anda, tidak ada salahnya untuk menghubungi Toni Knalpot di (0542)-18558 atau datang langsung ke Jl. Soekarno Hatta Rt. 21 No. 45.

(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2005)

Berbenah di Baru Tengah

Wilayah Kampung Baru Tengah, Balikpapan Barat sempat dikenal sebagai wilayah yang kumuh dan penuh dengan sampah. Setiap orang yang datang ke wilayah itu harus pasrah disambut dengan bau kurang sedap yang berasal dari sampah di kolong-kolong rumah pemukiman atas air. Pemandangan ini tentu sangat bertolak belakang dengan kota Balikpapan yang menyandang gelar kota tertib, teratur, aman dan bersih.

Kondisi kampung itu sendiri memang kurang menguntungkan. Posisinya yang berada di atas air dan disanggah oleh pondasi berupa balok-balok kayu sehingga kolong dibawah tempat tinggal mereka ‘secara alamiah’ menjadi tempat berkumpulnya sampah. Hal ini biasanya terjadi saat air laut pasang. Sampah pun mengapung di pemukiman yang terbuat dari kayu di kawasan Teluk Balikpapan ini. Dan jika air laut surut, meninggalkan sampah berserakan di berbagai sudut dan membusuk.

Disamping ‘faktor alam’ tadi memang diakui masyarakat di wilayah tersebut sudah terbiasa untuk membuang sampah sembarangan. Setiap hari, masyarakat terbiasa membuang sampah rumah tangga di kolong rumah yang juga merupakan kawasan pantai. Sehingga menumpuklah sampah dari warga kampung yang jumlahnya mencapai sekitar 29 ribu jiwa yang pekerjaannya kebanyakan sebagai pedagang dan nelayan. Mereka terbagi dalam 20 rukun tetangga.

Ahmad Efendi, ketua Forum Komunikasi Masyarakat Baru Tengah (FKMBT), menjelaskan bahwa sampah yang ada di perkampungan ini belum pernah ditangani secara optimal baik dari pihak pemerintah daerah maupun swasta yang peduli lingkungan tersebut. ”Melihat kondisi seperti ini, kami coba untuk mengajak Pertamina Unit Pengolahan V yang lokasinya dekat dengan kami,” ungkapnya.

Sebagai penanggungjawab soal kebersihan lingkungan di kampung Baru Tengah, Ahmad Efendi selanjutnya mengajukan proposal dengan dukungan dari lurah dan tokoh masyarakat setempat. ”Kami sangat bersyukur karena Pertamina mengabulkan permohonan kami dan memberikan dana sebesar Rp. 100.935.000,- ” ujarnya.

Dengan dana tersebut, kata Ahmad Efendi, ia bersama 21 orang remaja setempat membentuk kelompok kebersihan. Dana itu dimanfaatkan untuk memberli peralatan kebersihan seperti gerobak, sepatu bot, sarung tangan, alat keruk, dan lain-lain. Selain itu, kata Efendi, Pertamina juga membantu 300 buah tong sampah. Efendi menjelaskan bahwa remaja yang direkrut untuk pekerjaan ini adalah mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dengan dana tersebut kontraknya dengan Pertamina adalah selama tiga bulan. Ini artinya setelah masa kontrak itu habis, mereka bersama-sama warga di sana bahu membahu melanjutkan apa yang sudah dirintis bersama Pertamina. ”Kami akan adakan kerja bakti dan menggerakkan swadaya masyarakat sekitar,” ujarnya.

Menurut Efendi, kini masyarakat paham akan pentingnya kebersihan. ”Dan kami menilai kepedulian Pertamina terhadap kebersihan lingkungan sangat besar. Banyak masyarakat bilang jika Pertamina tidak turun tangan membantu maka soal kebersihan di kampung ini tidak bisa selesai,” ujarnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Lurah Baru Tengah Subandriyo. Ia menegaskan bahwa masyarakat harus membiasakan diri untuk tidak membuang sampah ke laut lagi. ”Ini himbauan kami kepada masyarakat Baru Tengah,” ujarnya. Subandriyo menambahkan bahwa salah satu motivator gerakan kebersihan di Balikpapan adalah dengan dikeluarkannya Perda No. 10 tahun 2004 tentang kebersihan lingkungan. Dengan diberlakukannya Perda tersebut, untuk membuang sampah, warga harus melakukannya di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang telah ditentukan dari pukul 06.00 pagi hingga pukul 18.00 sore. Subandriyo menegaskan bahwa jika ada yang ketahuan membuang sampah sembarangan maka akan dikenakan hukuman denda sekitar Rp. 5 juta atau kurungan selama 3 bulan. ”Sekarang masih dalam tahap sosialisasi,” jelasnya.

Sebagai lurah di Baru Tengah, Subandriyo menyatakan bahwa pihaknya beserta para tokoh masyarakat bersyukur atas adanya perhatian dari Pertamina UP V. Ia mengatakan bahwa tokoh masyarakat sangat senang karena diberikan kesempatan untuk melihat langsung kegiatan di dalam Kilang UP V. ”Para tokoh masyarakat sangat antusias dan jadi tahu apa yang dikerjakan oleh Pertamina. Ooh, ini bahaya, jadi kita jangan main api,” tuturnya.

Subandriyo mengatakan bahwa selain bantuan di bidang kebersihan lingkungan, Pertamina juga memberikan penyuluhan tentang kesehatan, bahaya kebakaran, bantuan abate, dan air bersih. Kata Subandriyo, bantuan air bersih dari Pertamina sangat membantu terutama saat mengalami kekeringan pada akhir 2004 yang lalu. ”Warga di sini mengandalkan air dari sumur tadah hujan dan PDAM. Tapi waktu itu tidak ada hujan dan air PDAM mati,” ujarnya.

Ke depan, warga berharap, Pertamina dapat menjaga keamanan atau unsur safety dari kegiatan operasinya. Selain itu, warga juga mengharapkan adanya kesempatan pemberdayaan masyarakat sebagai tenaga kerja di kilang Pertamina. ”Misalnya ada lowongan jadi cleaning service atau apa saja,” ujar Ahmad Efendi. Lurah Baru Tengah ini menambahkan bahwa banyak dari anak-anak usia sekolah di daerahnya yang terpaksa putus sekolah karena terbentur masalah biaya.

Kini, warga sudah mulai berbenah. Masyarakat setempat yang terhimpun dalam Forum Komunikasi Masyarakat Baru Tengah (FKMBT) bertekad menjadikan kampungnya bersih. Masyarakat bergotong royong membersihkan pemukimannya, agar menjadi kampung sehat dan bersih.

Tugas membersihkan bukanlah persoalan sulit karena bisa dikerjakan secara bergotong royong. Tetapi tugas yang jauh lebih berat adalah mengubah budaya yang sudah lama tertanam. Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan di kolong rumah harus dihapuskan mulai saat ini. Namun demikian, dengan semangat kebersamaan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat dan nyaman memberikan harapan baru bagi masa depan kampung Baru Tengah. Saatnya untuk berubah, saatnya warga Baru Tengah berbenah.

(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2005)

Berawal Dari Butiran, Berujung Pada Keberhasilan

Sukun (Artocarpus communis) merupakan buah yang sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan orang di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Sukun dikenal sebagai buah yang dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan yang cukup digemari masyarakat. Bahkan, sukun sebagai makanan ringan, juga digemari oleh publik di luar negeri.

Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Agribisnis Departemen Pertanian, 2002 , dijelaskan bahwa sukun memiliki kandungan gizi dan karbohidrat yang cukup lumayan. Selain karbohidrat, sukun memiliki kandungan protein, lemak, vitamin B1, B2, dan vitamin C, serta mineral (kalsium, fosfor, dan zat besi). Selain itu, kandungan air di dalam buah yang juga disebut bread fruit ini cukup tinggi yaitu sekitar 69,3%.

Jika dibandingkan dengan jenis ubi-ubian, sukun memiliki kalori yang lebih tinggi. Suhardjo dkk. dalam “Pengolahan Tepung Sukun untukMendukung Pengembangan Agroindustri Pedesaan”, menjelaskan bahwa energi di dalam sukun per 100 gram bahan dalam bentuk tepung adalah sebesar 320 Kal. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan ubi kayu yang hanya 158 Kal, ubi jalar merah 125 Kal, maupun kentang hitam 142 Kal.

Sesuai dengan perkembangannya sekaligus sebagai upaya diversifikasi bahan pangan, sukun kini juga diolah menjadi gaplek sukun, tepung sukun, pati sukun, atau tapai sukun, hingga sebagai camilan atau makanan ringan. Dengan demikian, kehadiran sukun sebagai bahan pangan alternatif bisa dipertimbangkan untuk mengurangi tingginya angka konsumsi beras Indonesia yang pada 2002 mencapai 136 kg per kapita yang tidak bisa tercukupi dengan produksi beras dalam negeri.

Tepung sukun sangat prospektif untuk dikembangkan. Menurut Suhardjo, selain sebagai cara untuk mengawetkan buah sukun sewaktu musim panen juga dapat diolah menjadi berbagai produk olahan seperti misal krupuk, mie, kue basah, kue kering, dan lain-lain. “Ini sekaligus sebagai substitusi tepung terigu,” tulis Suhardjo.

Proses pembuatan tepung sukun tergolong sederhana. Buah sukun dibersihkan, dikupas, dicuci, dipotong tipis, dijemur dan menjadi gaplek sukun. Setelah itu, gaplek sukun ditumbuk halus, diayak, dan terakhir dijemur.

Alternatif lain pengolahan sukun sebagai makanan adalah dengan cara yang paling sederhana yakni digoreng. Cara ini paling lazim dilakukan kebanyakan orang. Proses pembuatannya sederhana. Pertama, buah sukun dikupas kulitnya. Selanjutnya daging buah tersebut dicuci hingga bersih. Setelah itu, daging sukun diiris tipis sesuai dengan kebutuhan selanjutnya diberi bumbu racikan seperti kunyit, kemiri dan bumbu penyedap. Setelah proses tersebut selesai maka tahap akhir adalah menggoreng daging buah sukun tersebut. Dengan demikian kripik sukun siap dihidangkan sebagai makanan kecil.

Keripik Sukun ini sudah mulai dikembangkan sebagai argoindustri. Menurut Suhardjo pula, pengerajin keripik ini pada umumnya berkembang di daerah pinggiran atau di kota, bukan di pedesaan yang merupakan pusat produksi sukun. Sementara ini, pedesaan masih sebagai penyedia bahan mentah sendangkan kota sebagai tempat pengolahannya.

Berawal dari dua butir
Usaha membuat sukun sebagai makanan ringan ternyata mampu menggugah hati H. Darto (67) sebagai penggerak roda ekonomi keluarganya di masa pensiun. Darto menceritakan bahwa ia tergugah untuk memulai usaha ini saat diminta pendapat oleh seorang rekannya. Ia diminta untuk memikirkan oleh-oleh khas Cilacap yang bisa diberikan kepada tamu rekannya tersebut. Setelah dipikirkan beberapa saat, dengan berbekal sisa pesangon pensiunnya, ia meminta agar istrinya membeli dua butir sukun untuk diolah menjadi makanan ringan. Saat itu, ujar H. Darto, sebutir sukun harganya hanya Rp. 200,-. Ia tidak pernah menyadari bahwa dua butir itu merupakan awal dari keberhasilannya. ”Responnya positif, sriping sukun buatan istri saya digemari oleh para tamu,” ujar Darto senang. Sejak 1994 itu ia mulai merintis usaha pembuat sriping sukun dibawah bendera UD Mahkota DJ berdomisili di Cilacap, Jawa Tengah.

H. Darto sempat bingung dengan keterbatasan modal yang ia miliki untuk membeli bahan baku. Informasi demi informasi dikumpulkannya dalam rangka mencari pinjaman. Sampai pada saat rekan-rekannya menyarankan agar menghubungi Pertamina. ”Saya coba ajukan ke Pertamina untuk bantuan modal dan alhamdulillah saya mendapat bantuan Rp. 10 juta,” ujarnya gembira. Pinjaman dari PUKK (sekarang PKBL - Red.) Pertamina UP IV Cilacap itu memberikan nafas baru bagi usahanya. ”Saya mendapat pinjaman lunak dalam jangka waktu 36 bulan,” ujarnya.

Usaha itupun bergulir mulus. Ia mulai menuai hasil dari usaha sriping sukun. Saat ditanya soal penghasilannya, dengan rendah hati ia mengatakan, ”Pendapatan kotor kami minimal Rp. 1 juta per minggu.”

Dengan berjalannya usaha H. Darto ini telah membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga disekitarnya. Ia mempekerjakan 10 orang warga sekitar yang terdiri dari delapan wanita dan dua pria. Upah per minggunya sesuai dengan UMR yakni dalam kisaran rata-rata Rp. 17.500,- per hari per orang.

Dalam mengelola usahanya ini, H. Darto berprinsip untuk tidak takut bersaing dan senantiasa menjaga mutu dan kualitas. ”Itu yang selalu saya tekankan dalam menjalankan usaha ini,” tegasnya. Ia bertutur bahwa dirinya sempat dihadapi dengan persaingan ketat. Saat itu ia diberikan pilihan untuk menurunkan harga, yang menurutnya sama saja dengan menurunkan kualitas. Tantangan itu ia hadapi dengan tegar. ”Saya tidak mau menurunkan kualitas sriping sukun saya sedikitpun. Harga mahal tidak jadi masalah, yang penting kepuasan konsumen,” ujarnya lugas.

Hingga saat ini, sriping sukun UD Mahkota DJ telah didistribusikan ke Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Surabaya, Jogja, dan Cilacap. Pada Januari 2005, H. Darto juga sempat memasarkan produknya di luar negeri. ”Waktu itu saya diajak Pertamina untuk ikut pameran di Dubai, Timur Tengah selama 21 hari. Pesertanya 55 negara,” ujarnya.

H. Darto mengatakan bahwa pada awalnya ia tidak menduga bahwa produk makanan ringannya digemari oleh para pengunjung stand pameran. ”Saya bawa 600 bungkus, kok ya habis dalam enam hari,” ujarnya sambil tertawa.

Sebagai upaya pemasaran produknya di sana, ia menitipkan sample dan brosur tentang usahanya kepada pihak perwakilan RI di Dubai. Ia mengatakan bahwa sejak ia dibuatkan brosur dan sering diajak menjadi peserta pameran oleh Pertamina, penjualannya meningkat sampai 50%. ”Saya pernah pameran di Jakarta dua kali dan beberapa kota lain,” ujarnya.

H. Darto masih memprioritaskan pasar domestik dibandingkan dengan pasar di luar negeri. ”Kalau untuk ekspor saya masih repot,” ujarnya.

Akibat dari kegiatan promosinya tersebut, H. Darto pernah menerima pesanan dari Bandung sebanyak satu ton sriping sukun. Satu bungkus chesse stick kemasan 200 gram dijual dengan harga Rp. 3.500,- dan sriping sukun kemasan yang sama seharga Rp. 3.000 ,-. ”Kalau di toko harganya bisa diatas Rp. 4.000,-,” ujarnya.

Dalam menjalankan usahanya, H. Darto menyadari bahwa keberadaan UD Mahkota DJ harus dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat di lingkungannya. ”Setiap Lebaran saya memberikan kupon kepada warga sekitar yang dapat ditukarkan dengan makanan, sirup, dan lain-lain,” ucapnya.

Mengelola usaha ini tidak mudah. H. Darto mengakui bahwa pengetahuan mengenai manajemen bisnis sangat penting. ”Saya pernah ikut kursus administrasi dan manajemen industri kecil diajak Pertamina,” ungkapnya.

Sebagai pengusaha, ia kerap menghadapi persoalan dan kendala terutama yang berkaitan dengan kualitas makanan yang ia produksi. H. Darto mengatakan bahwa saat ini orang banyak memperhatikan soal kesehatan. Oleh karena itu, katanya, kita juga harus menjawab persoalan ini. Masalah yang dihadapi oleh kebanyakan pengusaha makanan gorengan adalah soal kandungan kolesterol. Menurutnya, saat ini ada teknologi buatan Universitas Gajah Mada yang bisa dijadikan solusi masalah tersebut. Alat vacuum pengering tersebut harganya sekitar Rp. 3 juta dengan volume 10 kilogram. ”Saat ini saya masih mengusahakan untuk mendapatkan pinjaman lunak guna pengadaan alat ini,” ujarnya.

Usaha yang sudah ditekuninya selama kurang lebih sepuluh tahun ini telah mampu membantu membawa kehidupan H. Darto dan keluarga ke tingkat yang lebih baik. Tidak pernah ada yang menduga sebelumnya bahwa dua butir sukun pada akhirnya bisa membawa H. Darto sampai ke negeri orang. ”Ini buah dari kerja keras. Saya senang, dengan usaha ini, saya bisa diberi kesempatan oleh Pertamina untuk pergi melihat negara orang,” katanya dengan gembira.

(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2005)

Pendidikan dan Pekerjaan yang Kami Butuhkan

Pengentasan kemiskinan dan angka pengangguran merupakan permasalahan yang harus segera dipecahkan bersama. Bahkan pertumbuhan ekonomi pun masih belum mampu mengatasi permasalahan ini. Menurut Institute for Development of Economics and Finance (Indef), pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6%, yang berlangsung selama enam bulan sejak triwulan IV tahun 2004 hingga triwulan I tahun 2005, sebagai pertumbuhan tidak berkualitas karena tak mampu menekan pengangguran yang malah naik 10,3 %. Hal ini tentunya memerlukan solusi yang konkrit.

Angka pengangguran muncul karena adanya selisih yang jauh antara jumlah tenaga kerja dan lapangan kerja yang tersedia. Hal ini disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah keterbatasan di bidang pendidikan.

Salah satu media massa nasional tahun 2004 pernah menulis tentang sebuah kenyataan yang menyeramkan. Media massa itu mengatakan bahwa 116,5 juta orang di negeri ini akan menyerbu pasar kerja tahun 2009. Ketika itu dari perkiraan jumlah penduduk 228,9 juta orang, sebanyak 168,9 juta jiwa atau 73,7% diantaranya merupakan penduduk usia kerja. Dari jumlah ini, 116,5 juta orang atau 69% dari penduduk usia kerja dipastikan menyerbu pasar kerja sehingga sangat “menakutkan” karena pertumbuhan ekonomi belum jelas besarannya.

Melihat kondisi ini, sebagian orang masih setuju bahwa pendidikan tinggi dapat memberikan kesempatan yang lebih pasti dalam menghadapi persaingan bursa tenaga kerja. Namun demikian, pada kenyataannya, tidak semua sarjana beruntung untuk mendapatkan pekerjaan saat ini. Dan tampaknya, tidak semua orang beruntung untuk bisa mendapatkan pendidikan tinggi yang memadai mengingat masalah biaya yang bagi sebagian kalangan tidak terjangkau.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian saat itu Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, pada “Sosialisasi dan Penyerahan Buku Rencana Tenaga Kerja Nasional (RTKN) 2004-2009” di Jakarta (23/6/2004), situasi ketenagakerjaan yang “menakutkan” itu harus bisa dikikis. Paling tidak, Dorodjatun menegaskan bahwa Indonesia harus memposisikan tenaga kerjanya dalam konteks global untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi menjadi 6-7%.

Dorodjatun menegaskan juga berbagai faktor penyebab, baik ekonomi maupun non-ekonomi, sangat mempengaruhi masalah ketenagakerjaan di Indonesia sehingga membutuhkan penyelesaian yang multi-dimensi. Artinya, penanggulangan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu departemen, tetapi harus melibatkan semua institusi pemerintah dan swasta.

Oleh karena itu, harapannya tinggal program pendidikan apa yang bisa mencetak tenaga kerja siap pakai termasuk penyalurannya. Sekaligus pihak-pihak yang concern dan mau untuk membantu pembiayaannya.

Salah satu contoh Ade Mulyadi (19) seorang lulusan SMA yang sempat menganggur selama satu tahun. Apa yang dirasakannya mungkin tidak seberuntung rekan-rekannya yang secara ekonomi bisa membayar mahal untuk sebuah pendidikan tinggi. Jika dibandingkan secara apple to apple, semangat juang Ade Mulyadi tidak kalah. Tapi ekonomi berkata lain, ia harus berlapang dada mengisi waktu menganggurnya.

Dengan bermodalkan semangat juang di dalam dirinya, ia berusaha untuk mencari pekerjaan serabutan apa saja demi mendapatkan penghasilan. Setelah satu tahun perjuangannya dalam menjalankan pekerjaan yang tidak menentu, pada September 2004 angin keberuntungan mulai berhembus ke arahnya. Saat itu pihak RT dan RW mendata siswa lulusan SMA dari keluarga kurang mampu untuk didaftarkan pada program beasiswa Pertamina.

Ia pun mengikuti proses seleksi di Pertamina UPms III Cabang Bandung. Hasilnya cukup membanggakan. Dengan semangat juang dan motivasinya untuk memperbaiki taraf kehidupan, Ade berhasil menyisihkan para pesaing lainnya. Ia pun berhak mengikuti pendidikan perhotelan di International Hotel and Cruise Ship Trainning (IHCT), sebuah institusi pendidikan perhotelan dan kapal pesiar yang berlokasi di Jl. Sudirman, Bandung.

Alasannya mengikuti program ini pun tidak muluk-muluk. Ia hanya mengatakan bahwa kesempatan ini ia ambil karena hanya inilah kesempatan yang ada pada waktu itu. “Saya senang dan bangga bisa ikut program ini dan programnya cocok,” katanya tersenyum.

Selama tiga bulan, Ade mengikuti program pendidikan classroom. Selanjutnya, ia dan rekan-rekannya yang juga menerima beasiswa dari Pertamina mengikuti program pendidikan di IHCT sekaligus praktek kerja alias magang di hotel-hotel berbintang di Bandung.

”Waktu itu saya magang di Hotel Permata Bidakara.”Eh, ternyata, waktu praktek selama tiga bulan ada lowongan di Hyatt sebagai house keeping, saya coba dan alhamdulillah diterima. Akhirnya magang di Bidakara dihentikan dan saya menerima sertifikat atas kebijakan pihak Bidakara,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa dukungan motivasi dari orang tua dan pihak IHCT sangat besar. Pada awal Mei 2005, Ade memulai karirnya bekerja sebagai house keeping di Hotel Hyatt Bandung. ”Tugasnya membersihkan kamar secara general artinya saya membersihkan debu dari mulai yag terlihat sampai yang berada dibalik perabot,” katanya.

Dengan pekerjaannya sekarang, Ade sudah memiliki penghasilan tetap. ”Saya senang sekali,” katanya. Ia berharap agar program ini bisa berkelanjutan agar rekan-rekannya yang masih menganggur bisa ikut mendapatkan hasil dari beasiswa ini.

Tidak jauh berbeda dengan Ade, rekan-rekannya alumni IHCT yang juga menerima beasiswa Pertamina kini banyak yang sudah bekerja di hotel berkelas di Bandung sama seperti dirinya.

Herdianto selaku pimpinan IHCT mengatakan bahwa program ini dikombinasikan antara hotel dan kapal pesiar maksudnya untuk memberikan kesempatan kepada siswanya agar tidak hanya terpaku pada perhotelan saja.

”Kami menyambut baik program beasiswa Pertamina ini. Dan kami juga berharap agar program ini bisa berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa para lulusan SMA ini dilatih agar siap bekerja. “Orang tua murid banyak yang berharap agar anak-anaknya bisa mengikuti program pendidikan yang bisa menyalurkan mereka langsung kepada lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Pertamina UPms III melalu kantor Cabang Bandung bekerjasama dengan IHCT Bandung merekrut siswa di sekitar wilayah operasi Pertamina di Bandung. Seleksi diprioritaskan bagi siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu dan memiliki motivasi tinggi untuk bekerja di bidang perhotelan dan kapal pesiar.

Berdasarkan sumber Pertamina UPms III, pada tahun 2004 sudah ada dua gelombang yang total biayanya mencapai sekitar Rp 200 juta. Program pendidikan ini terbagi ke dalam dua tahap yakni tiga bulan teori dan enam bulan magang di hotel berbintang tiga sampai lima di kota Bandung.

Herdianto mengatakan bahwa dengan magang tersebut mereka mendapatkan sertifikat yang diharapkan dapat membantu mereka dalam mencari pekerjaan. Hingga pertengahan 2005 sudah tujuh orang yang bekerja di Hyatt Regency. ”Ini tergantung kepada kualitas siswa dan kesempatan yang ada,” katanya menambahkan.

Upaya pengentasan pengangguran memang memerlukan solusi konkrit bersama. Kepedulian perusahaan dalam mewujudkannya merupakan respon positif yang ditunggu oleh Ade Mulyadi yang lain.

(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2007)

Patung Asmat: Karya Seni dan Cinderamata

Patung Asmat sudah cukup dikenal oleh publik terutama para wisatawan. Patung Asmat merupakan salah satu cinderamata yang kerap dicari. Pasalnya keunikan patung tersebut serta nilai seni ukirnya senantiasa menarik perhatian para pembelinya.

Patung Asmat sendiri memiliki nilai seni dan sejarah yang penuh liku. Seperti ditulis di Kompas pertengahan tahun lalu, dikatakan bahwa sejak tahun 1700-an, suku Asmat telah dikenal dengan keterampilan mengukirnya. Kesenian mengukir ini berawal dari kepercayaan terhadap arwah nenek moyang yang disimbolkan dalam bentuk patung ukiran.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Papua Abner Kambuaya di Jayapura, seperti dikutip Kompas (10/06/2004) mengatakan, upacara keagamaan telah melahirkan budaya mengukir di Asmat. Pada sebagian daerah, sebuah upacara menghendaki adanya pemotongan kepala manusia dan kanibalisme guna menenangkan arwah nenek moyang. Untuk menghormati arwah nenek moyang, kata Abner, mereka membuat patung-patung yang menyerupai arwah nenek moyang yang datang dalam mimpi. Lambat laun, kepercayaan ini menjadi tradisi mengukir dan memahat patung kayu.

Patung-patung ini dibuat secara kasar dan setelah digunakan dalam upacara agama tertentu lalu ditinggalkan di dalam rawa sebagai wujud para arwah yang tinggal untuk menjaga hutan sagu dan pohon palem yang merupakan sumber makanan utama masyarakat Asmat.

Dalam perjalanannya, ukiran-ukiran khas Asmat digemari di luar negeri berkat pertolongan para misionaris asing. Patung Asmat menjadi terkenal dan disimpan di sejumlah museum di dunia. Nilainya pun dapat disejajarkan dengan barang-barang hasil seni Eropa dan hasil kebudayaan yang tinggi dari daerah Sungai Nil, Eupharathes, Gangga, dan Indus. Sekitar pertengahan 1960-an, International Labor Organization (ILO) pun menganjurkan agar menjual barang-barang seni Asmat tersebut. ILO juga mendirikan perindustrian dan industri rumah tangga guna menjual barang-barang dagangan di Agats dan Rotterdam. Namun karena perkembangannya kurang pesat, kegiatan ini dikembalikan ke Pemerintah Indonesia.

Cinderamata
Seiring dengan perkembangan dunia pariwisata dan seni rupa di tanah air, karya seni patung Asmat pun menjadi mudah untuk ditemukan. Bahkan di sejumlah daerah wisata yang letaknya jauh dari tanah Papua seperti Jawa dan Bali sudah banyak pengerajin-pengerajin patung Asmat. Patung Asmat yang merupakan hasil kerajinan dari masyarakat Papua ternyata banyak dipasarkan di Bali. Konsumen yang ingin membeli, bisa dengan mudah mendapatkan di tiap ruas jalan di Kuta. Patung Asmat yang memiliki ciri khas mampu menarik minat konsumen. Bahan dasarnya pun beragam. Ada yang terbuat dari kayu dan ada juga yang dibuat dari tanah liat.

Usaha membuat patung Asmat pun mulai ditekuni banyak orang. Seperti di Jawa misalnya. Sebut saja Mardi Rahayu (36), seorang pengusaha Galeri Asmat Cilacap. Ia menekuni usaha ini dengan dasar ilmu pengetahuan yang didapatkan dari bangku sekolah di Seni Rupa IKIP Yogyakarta. Mardi mengakui bahwa usaha ini bukanlah yang pertama ia lakukan. Sebelumnya ia sempat membuka usaha reklame. Namun terpaksa gulung tikar karena dihantam badai krisis ekonomi pada tahun 1997.

Bermodalkan pengetahuannya dibidang seni rupa itulah ia mencoba untuk beralih ke kerajinan patung tanah liat. “Saya memilih kerajinan patung Asmat karena trend yang sedang berkembang saat itu adalah patung Asmat,” ungkapnya. Ternyata kombinasi antara skill, pengetahuan dan refrensi dari beberapa literatur pun mampu memberikan harapan.

Mardi mengatakan bahwa saat itu ia memiliki modal sekitar Rp. 250 ribu saja. Ia pun harus hijrah ke Banyumas - atau sekitar 30 kilometer dari Cilacap - untuk mengerjakannya. Pasalnya, di sana ada kenalannya pemilik Olah Sentra Industri Genteng Lumbir. Di sanalah Mardi mengolah bahan mentah yakni tanah liat menjadi karya seni untuk dipasarkan. “Saya tidak dikenakan biaya khusus. Saya bayar semampu saya saja karena memang dia dasarnya ikhlas dan menolong. Saya sangat bersyukur,” katanya.

Bahan mentah berupa tanah liat siap pakai. Sedangkan untuk hiasan digunakan material tradisional natural dari Yogyakarta seperi tali, ijuk, gigi sapi, dan lain-lain. Proses produksinya terbilang sederhana. Pertama, tanah dicetak dan didiamkan selama dua hari di dalam ruangan. Selanjutnya, tanah dibentuk sesuai dengan keinginan dan diangin-angin selama satu minggu di luar ruangan. Untuk proses ini kelembaban harus stabil. Oleh karena itu, hujan adalah suatu kendala. Setelah kering, patung diamplas, dibakar dan dicat serta proses finishing.

Masih di tahun 1997, Mardi pun sudah mampu memproduksi sejumlah karya. Saat itu ia dibantu oleh empat orang pekerjanya. Caranya menjual pun tidak rumit. Ia hanya menitipkan di beberapa rumah makan di daerah wisata. ”Saat saya di Pangandaran, saya bertemu dengan tamu asing dari Australia. Itulah pesanan besar pertama saya,” katanya. Menurut Mardi, nilai uang pesanan orang Australia itu mencapai sekitar Rp. 16 juta. Untuk itu Mardi sampai mempekerjakan sekitar 16 tenaga bantuan.

Ternyata pesanan orang Australia ini tidak berhenti sampai di situ. Mardi mengatakan bahwa orang Australia ini menjadi pelanggannya sampai dua tahun. “Saya saat itu sudah bisa mempekerjakan 20 orang tenaga, membuat tempat kerja dan mengembangkan pasar sampai ke Bali yang meliputi Kuta, Gianyar, Ubud dan Tegal Alang.”

Usahanya pun terus berkembang. Mardi telah mampu memasarkan produknya di Banyumas, Pangandaran dan Bali. “Saya titipkan di rumah makan, kawasan pantai wisata, toko cinderamata dan juga cafe,” katanya.

Produksi patung Asmat Mardi Rahayu berkisar antara 2.000 sampai 3.000 buah per bulan, tergantung ukurannya.

Dari sisi harga, Mardi mengatakan bahwa ia menambahkan sekitar sepuluh persen dari biaya produksi. Harga patung karya Mardi berkisar antara Rp. 1.500,- sampai Rp. 150.000 ,- per buah. “Dalam satu bulan saya punya omset mencapai Rp. 20 juta sampai Rp. 30 juta pada kondisi normal. Tapi kalau sedang ramai omset saya bisa mencapai 50 juta rupiah,” katanya.

Usaha Mardi ini memberikan dampak positif terhadap lingkungannya. Ia menjelaskan bahwa saat ini ia mempekerjakan 30 orang yang terdiri dari pria dan wanita. Jika dilihat dari latar belakang pendidikan, para pekerjanya 25% lulusan SMA sedangkan sisanya 75% tamatan SD dan SMP. Komposisi tenaga kerjanya mayoritas (90%) adalah masyarakat disekitar tempat kerjanya sedangkan 10% adalah tenaga ahli yang didatangkan khusus dari luar Cilacap.

Untuk pekerja diberlakukan upah borongan dan harian. “Untuk yang borongan sebesar Rp. 20 ribu sampai Rp. 30 ribu per hari. Sedangkan yang harian berkisar antara Rp. 10 ribu sampai Rp. 20 ribu. Tergantung pekerjaannya,” kata Mardi.

Dalam mengelola usaha seperti ini, Mardi sempat merasakan kendala dalam hal biaya. Pada 2001, PKBL Pertamina UP IV Cilacap mendatangi rumahnya. “Saya ditawarkan pinjaman. Waktu itu saya dapat Rp. 22 juta dengan jangka waktu tiga tahun. Tapi saya bisa lunasi satu setengah tahun,” ungkap Mardi. Selanjutnya, pada 2003 ia kembali mendapatkan pinjaman Rp. 40 juta dengan jangka waktu tiga tahun.

Ternyata tidak hanya bantuan dana yang ia dapatkan. Mardi merasakan manfaat sebagai mitra binaan Pertamina dengan diberikan kesempatan untuk mengikuti pameran dan pelatihan. “Saya ikut pameran Pertamina di Jakarta dan Yogyakarta. Untuk pelatihan, saya diajak Pertamina ikut kursus manajemen di Universitas Sudirman,” ungkapnya.

Mardi mengatakan bahwa dirinya bersyukur dengan adanya PKBL yang bisa menyentuh langsung kebutuhan permodalan usaha kecil. Menurutnya, usaha kecil tersebut selama ini tidak tersentuh oleh bank. Namun demikian, Mardi berharap agar PKBL dapat lebih melihat kiprah usaha dan kebutuhan usaha daripada sekedar melihat kemampuan materiil si pengusaha. “Jangan ada diskriminasi. Seyogianya juga disesuaikan dengan porsinya,” ungkap Mardi di akhir percakapan

(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2005)

Axel Computer Tumbuh dan Berkembang

Di era globalisasi dan persaingan saat ini, skill individu di bidang teknologi komputer sudah menjadi sebuah keharusan. Bagi mereka yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, untuk mendapatkan pendidikan komputer yang berkualitas sangatlah mudah. Namun kemudahan itu tidak sepenuhnya dapat dirasakan oleh rekan-rekan yang berada di daerah di luar Jakarta, apalagi di luar Jawa. Namun demikian, hal tersebut bukan lagi sebuah rintangan besar yang tidak dapat diatasi. Karena saat ini telah berkembang pusat pendidikan komputer di berbagai daerah di pelosok negeri. Hal ini tumbuh sesuai dengan kesadaran akan pentingnya kemampuan individu untuk menguasai pengetahuan tersebut.

Axel Computer merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bergerak di bidang teknologi komputer di Balikpapan, Kalimantan Timur. Berawal dari sebuah kursus kecil dengan tenaga pengajar empat orang dan delapan unit komputer, kini Axel Computer sudah mampu tumbuh dan berkembang dan mempekerjakan seluruh karyawan mencapai 30 orang, 12 diantaranya adalah tenaga pengajar. Saat ini Axel Computer memiliki 4 cabang tersebar di Kalimantan Timur. Axel Computer bekantor pusat di Jl. Soekarno Hatta Km. 1 Balikpapan. Sedangkan cabangnya berada di Jl. Jend. A. Yani No. 11, Balikpapan, Jl. Proklamasi No. 4 Penajam Paser Utara, dan Jl. S Parman Km. 6, Bontang. Sedangkan saat ini, Axel Computer sedang merencanakan untuk membuka salah satu cabang barunya di daerah Melak, Kutai Barat. Jumlah muridnya? Jangan ditanya karena saat ini ada sekitar 200 orang yang pada awalnya hanya sekitar 30 orang. “Kalau alumninya sudah tidak terhitung lagi saking banyaknya mencapai ribuan,” kata Edi Purwanto, pemilik Axel Computer. .

Di balik pertumbuhan itu tentu ada sebuah success story. Edi, begitu ia akrab disapa, bersama istrinya sudah menggeluti usaha ini sejak sepuluh tahun yang lalu. Usahanya telah mampu membuka lapangan pekerjaan bagi dirinya, keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Edi pun terus berupaya untuk dapat memperbesar usahanya. Tanpa terasa, Axel Computer sudah memiliki sejumlah cabang yang tersebar di berbagai daerah di Kalimantan. “Cabang kami yang pertama di Jalan Ahmad Yani. Cabang yang lain seperti di Penajam sudah 3 tahun, dan di Bontang 2 tahun,” katanya. Edi pun mengatakan bahwa Axel Computer juga berencana untuk memperluas jaringannya hingga ke Kutai Barat.

Edi menegaskan bahwa usaha pendidikan di bidang komputer ini tidak ada hubungannya dengan latar belakang pendidikan yang ia miliki. Sarjana teknik sipil ini menjalaninya secara otodidak. “Saya rasa berjalan dengan sendirinya atau dapat dikatakan otodidak atau alamiah saja. Pada intinya satu yaitu berbuat baik kepada orang lain. Dan melakukan kerja bersama-sama dengan seluruh tenaga kerja yang ada,” ujarnya.

Kerjasama merupakan jalan terbaik untuk mencari solusi dari suatu permasalahan. Katanya, jika sedang mengahadapi masalah, Edi bersama-sama dengan karyawan berembuk bersama untuk mencari jalan keluar. ”Mungkin bisa dikatakan ilmu manajemen barengan (bersama-sama - Red.),” katanya.

Berbicara mengenai tenaga kerja, Edi mengakui bahwa untuk memenuhi kebutuhan Axel Computer dilakukan dua cara rekrutmen. Pertama, dari luar Axel yakni melalui iklan lowongan di media massa. Kedua, dari dalam Axel yakni dengan mencari siswa berprestasi. "Sebagaian kita rekrut dari iklan lowongan di media massa dan sebagian lagi kita ambil dari siwa-siswa yang ada. Jadi bisa dibilang dengan kursus atau magang di sini, siswa dapat mendapatkan atau dipekerjakan sebagai karyawan di lembaga ini,” paparnya lebih jauh.

Untuk tenaga pengajar, administrasi dan teknisi operasional terbagi dalam empat divisi yang masing-masing dibawahi oleh seorang manajer. “Saya sendiri membawahi divisi instruktur, divisi teknisi, divisi penjualan dan divisi keuangan,” ujarnya.

Bagi siswa berprestasi, Axel Computer memberikan fasilitas ekstra. ”Kita kasih kesempatan untuk magang selama tiga bulan. Setelah selesai kita kasih tambahan program, yaitu dengan mendapatkan sertifikat plus. Yang mendapat jaminan dari lembaga ini untuk dapat mengajar diluar atau bisa juga untuk dipekerjakan di lembaga kita kalau orang tersebut memenuhi kreteria yang ada,” paparnya.

Edi menjelaskan bahwa tumbuh dan berkembangnya usaha ini tidak terlepas dari dukungan pihak luar. Pemilik Axel Computer ini menegaskan dukungan program PKBL UPms VI Balikpapan memberikan tenaga tersendiri bagi pengembangan usahanya. ”Bantuan dari Pertamina pada 1998 merupakan angin segar bagi lembaga ini. Waktu itu lembaga ini mendapatkan bantuan dana sebesar Rp. 20 juta,” ujarnya.

Selain bantuan dari Pertamina, tahun 1998 merupakan tahun perubahan bagi Axel Computer. Tercatat pada tahun tersebut Axel Computer membenahi kebijakan manajemennya. Edi menjelaskan bahwa kebijakan sebelumnya, kursus baru akan dilaksanakan jika jumlah murid memenuhi batas minimal yang ditetapkan. Kini dengan kebijakan manajemen baru, lanjut Edi, walaupun muridnya hanya satu proses belajar akan tetap dilaksanakan. ”Hal itu saya lakukan hingga saat ini, jadi sifatnya tidak menunggu siswa banyak. Jadi terkesan seperti private, karena dalam satu ruangan tidak hanya satu instruktur saja bisa dua atau tiga orang instruktur dengan berbeda-beda siswa. Dan saya lihat justru majunya disitu karena beda dengan lembaga kursus yang lain. Jadi, pada tahun 1998 bantuan awal dari Pertamina sangat bermanfaat sekali bagi lembaga ini.

Pinjaman dari Pertamina tersebut untuk jangka waktu tiga tahun. Setelah pinjaman tersebut lunas, Edi mencoba untuk mengajukan pinjaman lagi dari Pertamina. Edi menjelaskan bahwa, sampai saat ini, Axel Computer sudah dua kali menerima bantuan dari Pertamina. ”Bantuan kedua yang kami terima adalah sebesar Rp. 60 juta tahun 2003. Pinjaman ini memberikan manfaat bagi kami dalam membuka cabang baru,” jelasnya.

Program PKBL Pertamina diketahuinya dari Dinas Perindustrian. “Pada saat itu banyak BUMN yang menawarkan program seperti ini, tapi saya memilih ke Pertamina,” katanya. “Sebelum saya dapat bantuan dari Pertamina, saya sudah mencoba ke berbagai tempat diantaranya ke Bank dan ternyata tidak dapat. Untuk mendapatkan dana bantuan dari Pertamina syaratnya tidaklah sesulit yang saya bayangkan, semuanya dibuat semudah mungkin. ”

Sebelum mendapatkan kucuran dana, semua prosedur dilaksanakan oleh Edi. ”Kami mulai dari mengisi formulir aplikasi dan selanjutnya disurvei,” ujarnya.

Kursus yang ditawarkan di Axel Computer meliputi 4 program sekaligus yakni Windows, Word2000, Excel2000 dan Powerpoint. Untuk biaya pendidikan yang ditawarkan bervariasi dari Rp. 170.000,- hingga satu juta rupiah. Selain itu, Axel Computer juga memiliki program pendidikan untuk Microsoft Project 2000, Struktur Analis, SAP 2000, CorelDraw, AutoCAD, Aplikasi setting dan lay out. Fasilitas lain yang disediakan meliputi LAN dan internet.

Layaknya sebuah lembaga pendidikan komputer, Edi juga menyediakan sejumlah pernak-pernik yang berhubungan dengan komputer seperti sparepart, hardware, hingga penjualan unit komputer. ”Kami membelinya dari Surabaya,” kata Edi. Selain itu, Axel Computer juga menerima jasa dan panggilan untuk servis, pemasangan LAN, pengetikan, setting lay out.

Ke depan, Edi berpikir untuk mengembangkan usaha selain di bidang pendidikan. ”Ada kemungkinan untuk merambah ke bidang pencucian kendaraan dan ganti oli,” ujarnya. Edi menjelaskan bahwa ide ini muncul secara kebetulan. ”Waktu itu kami membeli lokasi di Penajam untuk cabang baru Axel Computer. Saat kami bor untuk pompa air ternyata kami menemukan cadangan air yang cukup banyak,” ujarnya.

Edi mengatakan bahwa untuk di daerah Penajam sendiri usaha cucian mobil belum ada. ”Saya kira usaha cucian mobil ini sangat berpotensi sekali untuk terus dikembangkan,” katanya.

Edi menjelaskan bahwa tumbuh dan berkembangnya usaha ini karena usaha dan kerja keras. Perusahaan ini berangkat dari motto yang mereka miliki dan mereka jalankan bersama, yaitu berusaha untuk memberikan yang terbaik. ”Hal tersebut saya tanamkan kepada seluruh karyawan,” ujarnya.

(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2005)