Pengentasan kemiskinan dan angka pengangguran merupakan permasalahan yang harus segera dipecahkan bersama. Bahkan pertumbuhan ekonomi pun masih belum mampu mengatasi permasalahan ini. Menurut Institute for Development of Economics and Finance (Indef), pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6%, yang berlangsung selama enam bulan sejak triwulan IV tahun 2004 hingga triwulan I tahun 2005, sebagai pertumbuhan tidak berkualitas karena tak mampu menekan pengangguran yang malah naik 10,3 %. Hal ini tentunya memerlukan solusi yang konkrit.
Angka pengangguran muncul karena adanya selisih yang jauh antara jumlah tenaga kerja dan lapangan kerja yang tersedia. Hal ini disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah keterbatasan di bidang pendidikan.
Salah satu media massa nasional tahun 2004 pernah menulis tentang sebuah kenyataan yang menyeramkan. Media massa itu mengatakan bahwa 116,5 juta orang di negeri ini akan menyerbu pasar kerja tahun 2009. Ketika itu dari perkiraan jumlah penduduk 228,9 juta orang, sebanyak 168,9 juta jiwa atau 73,7% diantaranya merupakan penduduk usia kerja. Dari jumlah ini, 116,5 juta orang atau 69% dari penduduk usia kerja dipastikan menyerbu pasar kerja sehingga sangat “menakutkan” karena pertumbuhan ekonomi belum jelas besarannya.
Melihat kondisi ini, sebagian orang masih setuju bahwa pendidikan tinggi dapat memberikan kesempatan yang lebih pasti dalam menghadapi persaingan bursa tenaga kerja. Namun demikian, pada kenyataannya, tidak semua sarjana beruntung untuk mendapatkan pekerjaan saat ini. Dan tampaknya, tidak semua orang beruntung untuk bisa mendapatkan pendidikan tinggi yang memadai mengingat masalah biaya yang bagi sebagian kalangan tidak terjangkau.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian saat itu Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, pada “Sosialisasi dan Penyerahan Buku Rencana Tenaga Kerja Nasional (RTKN) 2004-2009” di Jakarta (23/6/2004), situasi ketenagakerjaan yang “menakutkan” itu harus bisa dikikis. Paling tidak, Dorodjatun menegaskan bahwa Indonesia harus memposisikan tenaga kerjanya dalam konteks global untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi menjadi 6-7%.
Dorodjatun menegaskan juga berbagai faktor penyebab, baik ekonomi maupun non-ekonomi, sangat mempengaruhi masalah ketenagakerjaan di Indonesia sehingga membutuhkan penyelesaian yang multi-dimensi. Artinya, penanggulangan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu departemen, tetapi harus melibatkan semua institusi pemerintah dan swasta.
Oleh karena itu, harapannya tinggal program pendidikan apa yang bisa mencetak tenaga kerja siap pakai termasuk penyalurannya. Sekaligus pihak-pihak yang concern dan mau untuk membantu pembiayaannya.
Salah satu contoh Ade Mulyadi (19) seorang lulusan SMA yang sempat menganggur selama satu tahun. Apa yang dirasakannya mungkin tidak seberuntung rekan-rekannya yang secara ekonomi bisa membayar mahal untuk sebuah pendidikan tinggi. Jika dibandingkan secara apple to apple, semangat juang Ade Mulyadi tidak kalah. Tapi ekonomi berkata lain, ia harus berlapang dada mengisi waktu menganggurnya.
Dengan bermodalkan semangat juang di dalam dirinya, ia berusaha untuk mencari pekerjaan serabutan apa saja demi mendapatkan penghasilan. Setelah satu tahun perjuangannya dalam menjalankan pekerjaan yang tidak menentu, pada September 2004 angin keberuntungan mulai berhembus ke arahnya. Saat itu pihak RT dan RW mendata siswa lulusan SMA dari keluarga kurang mampu untuk didaftarkan pada program beasiswa Pertamina.
Ia pun mengikuti proses seleksi di Pertamina UPms III Cabang Bandung. Hasilnya cukup membanggakan. Dengan semangat juang dan motivasinya untuk memperbaiki taraf kehidupan, Ade berhasil menyisihkan para pesaing lainnya. Ia pun berhak mengikuti pendidikan perhotelan di International Hotel and Cruise Ship Trainning (IHCT), sebuah institusi pendidikan perhotelan dan kapal pesiar yang berlokasi di Jl. Sudirman, Bandung.
Alasannya mengikuti program ini pun tidak muluk-muluk. Ia hanya mengatakan bahwa kesempatan ini ia ambil karena hanya inilah kesempatan yang ada pada waktu itu. “Saya senang dan bangga bisa ikut program ini dan programnya cocok,” katanya tersenyum.
Selama tiga bulan, Ade mengikuti program pendidikan classroom. Selanjutnya, ia dan rekan-rekannya yang juga menerima beasiswa dari Pertamina mengikuti program pendidikan di IHCT sekaligus praktek kerja alias magang di hotel-hotel berbintang di Bandung.
”Waktu itu saya magang di Hotel Permata Bidakara.”Eh, ternyata, waktu praktek selama tiga bulan ada lowongan di Hyatt sebagai house keeping, saya coba dan alhamdulillah diterima. Akhirnya magang di Bidakara dihentikan dan saya menerima sertifikat atas kebijakan pihak Bidakara,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa dukungan motivasi dari orang tua dan pihak IHCT sangat besar. Pada awal Mei 2005, Ade memulai karirnya bekerja sebagai house keeping di Hotel Hyatt Bandung. ”Tugasnya membersihkan kamar secara general artinya saya membersihkan debu dari mulai yag terlihat sampai yang berada dibalik perabot,” katanya.
Dengan pekerjaannya sekarang, Ade sudah memiliki penghasilan tetap. ”Saya senang sekali,” katanya. Ia berharap agar program ini bisa berkelanjutan agar rekan-rekannya yang masih menganggur bisa ikut mendapatkan hasil dari beasiswa ini.
Tidak jauh berbeda dengan Ade, rekan-rekannya alumni IHCT yang juga menerima beasiswa Pertamina kini banyak yang sudah bekerja di hotel berkelas di Bandung sama seperti dirinya.
Herdianto selaku pimpinan IHCT mengatakan bahwa program ini dikombinasikan antara hotel dan kapal pesiar maksudnya untuk memberikan kesempatan kepada siswanya agar tidak hanya terpaku pada perhotelan saja.
”Kami menyambut baik program beasiswa Pertamina ini. Dan kami juga berharap agar program ini bisa berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa para lulusan SMA ini dilatih agar siap bekerja. “Orang tua murid banyak yang berharap agar anak-anaknya bisa mengikuti program pendidikan yang bisa menyalurkan mereka langsung kepada lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Pertamina UPms III melalu kantor Cabang Bandung bekerjasama dengan IHCT Bandung merekrut siswa di sekitar wilayah operasi Pertamina di Bandung. Seleksi diprioritaskan bagi siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu dan memiliki motivasi tinggi untuk bekerja di bidang perhotelan dan kapal pesiar.
Berdasarkan sumber Pertamina UPms III, pada tahun 2004 sudah ada dua gelombang yang total biayanya mencapai sekitar Rp 200 juta. Program pendidikan ini terbagi ke dalam dua tahap yakni tiga bulan teori dan enam bulan magang di hotel berbintang tiga sampai lima di kota Bandung.
Herdianto mengatakan bahwa dengan magang tersebut mereka mendapatkan sertifikat yang diharapkan dapat membantu mereka dalam mencari pekerjaan. Hingga pertengahan 2005 sudah tujuh orang yang bekerja di Hyatt Regency. ”Ini tergantung kepada kualitas siswa dan kesempatan yang ada,” katanya menambahkan.
Upaya pengentasan pengangguran memang memerlukan solusi konkrit bersama. Kepedulian perusahaan dalam mewujudkannya merupakan respon positif yang ditunggu oleh Ade Mulyadi yang lain.
(adp_Feature Reportase_Diterbitkan 2007)
Sabtu, 18 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar